REVIEW BUKU: GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI

 

 

dokumentasi pribadi
Judul buku          : Gelandangan di Kampung Sendiri : Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Penulis                : Emha Ainun Nadjib
Penerbit               : Penerbit Bentang
Cetakan               : kedua Juni 2015
Tebal                    : viii + 292 halaman
ISBN                    :978-602-291-078-7
Buku ini pernah terbit dengan judul yang sama pada tahun 1995
Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang ditulis oleh Cak Nun (begitulah Emha Ainun Nadjib akrab disapa) dalam rentang waktu 1991 – 1994 yang pernah dimuat di Media Cetak maupun yang merupakan dokumentasi pribadi.
Buku ini terdiri dari 4 bab, Bab pertama dan kedua yang berjudul pengaduan I dan pengaduan II adalah kumpulan tulisan dari Cak Nun yang diinspirasi oleh keluhan-keluhan orang orang didekatnya, keluhan yang disampaikan melalui surat, atau kejadian yang teramati oleh Cak Nun.
Judul buku ini merupakan judul salah satu fragmen dalam bab ini yang ditulis oleh Cak Nun ketika beliau mendengarkan ‘curhat’ pekerja film. Menurut Cak Nun, film Indonesia ibarat gelandangan di kampungnya sendiri. Bagai benih, mereka tak dapat pupuk dan tanah. Film Indonesia disetir oleh sedemikian rupa sehingga yang nampak adalah penguasa yang selalu benar. Padahal bagi Cak Nun, yang merupakan seorang pekerja seni, kesenian harus jujur.
Bab ketiga yang berjudul ekspresi berisi cerita dan pandangan Cak Nun mengenai ekspresi orang-orang yang diperhatikannya. Ekspresi nasionalisme ketika pemerintah Indonesia menolak bantuan Belanda, ekspresi Cak Nun ketika Pak Kuntowijoyo wafat, ekspresi Gus Dur di Cornell University, dan lainnya.
Bab keempat yang berjudul Visi, berbeda dengan 3 bab sebelumnya. Pada bab-bab sebelumnya, Cak Nun menggunakan sudut pandang aku dalam tulisannya. Pada bab sebelumnya juga, merupakan kumpulan tulisan yang pernah dimuat di media cetak. Maka bab ini berisi kumpulan cerita, yang kebanyakan adalah dokumentasi pribadi Cak Nun, yang tokoh utamanya adalah Pak Guru Mataki, seorang guru SD di desa. Isi kumpulan ceritanya tidak jauh dari bab sebelumnya adalah tentang pertanyaan Cak Nun mengenai pandangan masyarakat tentang sesuatu, tentang bagaimana seharusnya orang pintar bersikap pada yang tidak tahu, dan bagaimana seharusnya pejabat bersikap pada rakyat.
Bagi yang tidak terbiasa dengan bahasa jawa, membaca buku ini akan membuat kita mengerutkan dahi karena Cak Nun banyak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa jawa. Seperti lingsem yang menjadi judul dalam fragmen pertama. Dalam bahasa Jawa lingsem artinya adalah kondisi psikologis dimana seseorang mempertahankan sesuatu bukan karena objektivitasnya tetapi karena harga dirinya. Beberapa kata diberi keterangan oleh penyunting buku ini tetapi sebagian lainnya yang dirasa sangat lazim tidak diberi keterangan. Misalnya kata sedulur yang berarti saudara.
Kelebihan buku cetakan yang baru ini juga selain keterangan tentang frasa bahasa jawa yang digunakan oleh Cak Nun, dijelaskan juga peristiwa yang melatarbelakangi tulisan tersebut. Dalam keterangannya kita banyak diperkenalkan dengam istilah yang populer 20 tahun yang lalu.
Membaca buku ini membawa kita ke suasana 20 tahun yang lalu dimana kedudukan pejabat adalah penguasa dan rakyat adalah bawahan. Cak Nun mengkritik itu semua lewat tulisan-tulisannya dalam buku ini. Saat ini, walaupun rakyat lebih bebas berekspresi, tetapi sifat pejabat yang seperti penguasa masih saja ada sehingga memang tidak banyak perubahan yang terjadi sejak buku ini disusun pada tahun 1995.

 

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: