KOPIAH JANGKUNG, SOP BUNTUT, DAN UBAN KE SERATUS SATU

dokumentasi pribadi
Kopeah, atau Kopiah, sering identik dengan santri. Secara bahasa, santri berkembang menjadi kata nyantri. Nyantri dapat menujukkan kata sifat, yaitu soleh atau taat kepada Allah, atau menyerupai pekerjaan santri yang sering khusus beribadah. Nyantri juga menunjukkan kata kerja aktif, yaitu tinggal dalam sebuah pondok pesantren untuk belajar agama Islam. Atau, berguru pada Kyai/ Alim Ulama.
Selain sarung, kopiah dan santri adalah ikonitas yang melekat. Khususnya pada santri kontemporer, yang tetap bersahaja dengan ikonitas ini. Mereka tidak meninggalkan tradisi lama dalam kekinian hidup. Hal ini saya lihat pada para santri Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, Majalengka, saat saya diundang memberi workshop sederhana tentang kepenulisan, Selasa, 20 Oktober 2016.
Pesantren ini bukan tempat yang asing bagi saya. Jauh sebelumnya, satu dua kali saya pernah mengunjunginya bersama KH. Acep Zamzam Noor dan Ahmad Syubnuddin Alwy (alm), serta sastrawan lainnya. Pimpinan pesantren ini, juga seorang seniman, KH. Maman Imanul Haq. Bahkan pada bulan September 2016 lalu, saya masih melihat gaya kesenimanannya saat berbicara di hadapan para santrinya, serta para penulis buku Kompas, yang mengadakan workshop kepenulisan di sana.
Workshop kepenulisan ini memang acara mendadak. Usai melakukan mentoring ke Perpusda Majalengka, siang hingga sore, saya menyambangi pesantren Al Mizan, dibonceng Dodijaya, yang juga alumni pesantren Al Mizan generasi pertama. Di sebuah aula dekat pondokkan, sekitar 60 santriwati dan santriwan, duduk tenang, saat saya mulai memaparkan hal-hal mendasar dalam kepenulisan. Sesi yang dimulai pukul 17.00 ini, lebih berupa perkenalan, dan saya lebih banyak menampung dahulu pertanyaan-pertannyaan. Pertanyaannya sederhana: ada yang tentang bagaimana mulai menulis, apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi penulis, bagaimana supaya tidak kehilangan ide saat berproses, atau sedikit teknis seperti apa bedanya cerpen dengan puisi. Sesi ini ditutup saat adzan Maghrib, dan direncanakan diskusi ke dua sesudah para santri melaksanakan shalat Isya dan makan malam.
Audiensnya ternyata memang remaja. Mereka juga bersekolah di MTS yang ada di sana selain ngaji dan mondok pada sore dan malam harinya. Namun, yang menarik bagi saya, adalah justru pada kopiah tinggi yang dikenakan dua orang santri. Berbeda dengan santri lainnya, kopiahnya lebih tinggi sekitar 10 cm. Saya tertarik untuk meminjamnya dalam sesi foto selfiebersama Dodi dan rekannya dari Al Mizan.
Usai diskusi saya dibawa ke rumah makan depan pesantren. Rumah makan ini dahulu kecil, namun sekarang sudah lumayan besar, dan punya menu paling diunggulkan, yakni sop buntut. Pemilik pesantren ini memang dahulunya berangkat dari hasil berdagang sop buntut, hingga punya lahan yang luas untuk dibuat pesantren. Kuliner jagoan ini tentu membuat saya merasakan sensasi kelezatan kuliner Al Mizan yang memang terkenal.
Usai sembahyang maghrib dan Isya, dan para santri makan bersama dalam nampan, kami melanjutkan workshop. Diskusi lebih hidup dan penuh gelak tawa. Sesi ini diawali dengan pengenalan TBM (Taman Bacaan Masyarakat) oleh Dodidaya, yang juga ketua TBM Nurul Huda.
“Lulusan pesantren ini bisa menjadi apa saja. Bukan hanya menjadi ustad, namun bisa juga menjadi polisi, tentara, guru, juga bisa saja membuat TBM seperti saya. Kita dapat menerapkan ajaran Islam itu dalam kehidupan yang lebih luas. Misalnya menjadi penggerak untuk memasyarakatkan minat baca di masyarakat,” tutur Dodidaya, penuh semangat dan keringat. Maklum, Majalengka adalah kota yang lumayan ‘hot.
Sebelumnya, pada sesi di sore hari, saya menyarankan agar semua santri mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang hot. Dan saat sesi malam harinya, pertanyaan-pertanyaan hot mulai bermunculan, membuat saya tambah berkeringat. Namun ada pula pertanyaan santri yang lucu;”Bagaimana caranya supaya tidak mengantuk saat membaca?”
Saya menjawabnya enteng,”Supaya tidak ngantuk, bukunya dimakan saja!”
Tentu itu bukan jawaban sesungguhnya. Ini juga bentuk intermezo agar peserta tidak menutup matanya saat diskusi. Saya kemudian juga terkejut karena jawaban sesungguhnya lebih serius daripada yang saya duga. Begitupula pertanyaan sekitar cara membuat cerpen, novel, dan karya tulis ilmiah. Pertanyaan yang tentu butuh jawaban banyak dan lama. Hingga saya usulkan agar nantinya mereka dibagi menjadi kelas puisi, cerpen, dan esei. Pelajaran sederhana, saya lemparkan dengan cara latihan membuat kalimat dengan beberapa metode.
Bersama pengurus dan seorang santri, kami melanjutkan diskusi kecil, yang juga diramaikan dengan cerita Doddijaya tentang masa lalunya di pesantren Al Mizan. Pada tengah malam, kami makan malam kembali. Namun kali ini, seperti gaya santri. Ya, makan bersama dalam nampan, namun tidak disatukan sebagaimana kebiasaan santri. Saya selalu mengenang gaya makan bersama yang bersahaja ini, sebagai perekat persahabatan antar santri. Dodijaya sendiri memang merencanakan moment ini, sebagai bentuk menghangatkan kenangannya selama mondok di Pesanatren Al Mizan di masa lalu.
Pagi harinya, menjelang keberangkatan saya untuk melakukan mentoring lagi ke Perpusda Majalengka, ada diskusi kecil di kantin Al Mizan. Bersama seorang Kepala Sekolah MTS, dan wartawan Radar Majalengka yang juga tengah membuat TBM. Kami berdiskusi sekitar masalah pendirian TBM, Gerakan Majalengka Membaca, donasi buku, rollingbuku, hingga mensosialisasikan keberadaan Perpusda Majalengka ke kalangan santri. Saya juga mengajak agar mengadakan acara di Perpusda Majalengka mengenai gerakan literasi, khususnya persoalan TBM dalam melakukan advokasi, agar TBM nya dapat bertahan. Saran saya yang lain, agar mereka juga terus menulis.
“Saya memang punya tulisan. Namun, ya masih belum berani dipublikasikan. Kadang, setelah anak saya mencabut uban yang ke seratus satu. Maksud saya walaupun jumlah seratus satu itu hanya dugaan, karena memang sering. Saya ingin membuat buku. Tapi karena sudah merasa berumur jadi kadang sulit…” Ujar Pak Kepala MTS Al Mizan.
“Nah, kalimat Uban yang Ke Seratus Satu itu, bisa jadi judul buku, Pak!” senyum saya.
Ya, bukankah judul Uban yang Ke Seratus Satu itu menarik, saudara-saudara?

Edward Jayadiningrat

Sastrawan dan penggiat literasi di Jawa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: