GERAKAN BANJAR MEMBACA

dokumentasi pribadi

 

Rendahnya budaya literasi yang kita miliki tentu harus menjadi kesadaran kita bersama untuk terus memperbaikinya secara bersama. Seiring dengan upaya itu, penting juga ditumbuhkan kesadaran bahwa semangat dan gerakan literasi tentu tidak bisa dibangun sebatas formalitas secara top-down, tapi harus dilakukan massif secara bottom-up. Dalam konteks inilah komunitas-komunitas gerakan literasi harus tumbuh subur dari aras komunitas yang pada gilirannya membuncah menopang gerakan literasi nasional secara massif.
Gagasan untuk mendirikan perpustakaan komunitas tentu relevan dengan kondisi saat ini. Bentuknya memang bisa beragam, seperti Rumah Baca Komunitas, Perpustakaan Komunitas, atau Ruang Baca Komunitas yang sudah mulai banyak digagas di banyak tempat. Saya sendiri mulai membangun Ruang Baca Komunitas (RBK) di Kota Banjar sejak bulan April 2016. Semangat awalnya adalah menjadikan Ruang Baca Komunitassebagai tempat untuk belajar, berbagi, dan bersinergi bersama dengan motto: Reading, Sharing, Networking.
dokumentasi pribadi
Sejak Ruang Baca Komunitaskami dirikan 4 April 2016, beragam kegiatan literasi telah kami selenggarakan. Kegiatan utama, selain pelayanan perpustakaan kami menyelenggarakan kegiatan rutin bertema “Disko” atau Diskusi Komunitas. Bentuk kegiatannya semacam diskusi informal seputar dunia pendidikan, terutama dihadiri anak-anak di komunitas terdekat. Diskusi lebih besar lagi kami selenggarakan secara tematik dihubungkan dengan momentum tertentu, seperti Hari Pendidikan, Hari Buku Nasional, Hari Guru, dan momentum lainnya yang relevan dengan isu-isu literasi maupun kegiatan pendidikan pada umumnya.
Selama setahun penuh di 2016, tidak ada bulan dan minggu kosong tanpa kegiatan literasi. Kegiatan paling massif dan cukup menyedot perhatian yang kami lakukan adalah Literasi Ramadhan dengan tema spesial “Mengisi Bulan Suci Dengan Kegiatan Literasi”. Ada banyak kegiatan, seperti aneka lomba untuk anak, mulai level PAUD/TK, SD, SMP, storytelling, dan pelatihan jurnalistik untuk pelajar tingkat SLTA. Acara seperti ini tentu dapat terlaksana karena dorongan, sokongan, dan partisipasi banyak pihak, baik dari siswa-siswi, para guru, unsur pemerintah, para donatur, media, maupun masyarakat pada umumnya. Dorongan dan sokongan itu nyata kami rasakan, setidaknya ini tercermin dari donasi buku dan kunjungan para pihak ke Ruang Baca Komunitas. Donasi buku hingga akhir tahun 2016 sudah kami dapatkan dari 17 orang dan lembaga. Sementara kunjungan para pelajar dan para pihak lainnya, termasuk sejumlah tokoh penting di Kota Banjar, mulai dari mantan Sekda, Wakil Walikota, Walikota, dan sejumlah tokoh lain dari luar Kota Banjar, termasuk dan terutama dari keluarga besar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNPAD yang jauh-jauh berkunjung dari Bandung dengan oleh-oleh buku yang lumayan banyak. 
dokumentasi pribadi

 

Kegiatan lain yang kami pandang cukup monumental selama 2016 adalah “Safari Literasi”. Selama dua bulan penuh, September-Oktober 2016 kami melakukan safari literasi ke 25 sekolah dan 4 pesantren. Misi utama safari literasi adalah untuk “memprovokasi” masyarakat, terutama kalangan pelajar di Kota Banjar agar senantiasa mencintai buku dan mengapresiasi kegiatan literasi. Hasilnya cukup menggembirakan dengan munculnya dukungan dan sokongan dari komunitas sekolah, pesantren, kalangan media maupun masyarakat pada umumnya akan pentingnya mendorong gerakan literasi secara lebih massif.
Dari kegiatan safari literasi yang kami laksanakan di sejumlah sekolah dan pesantren, para siswa dan santri tampak antusias. Saya menyaksikan gairah dan semangat luar biasa dari para siswa dan santri. Di beberapa sekolah yang saya kunjungi, bahkan terdapat siswa-siswi yang sangat menonjol dengan capaian tingkat literasi yang membanggakan. Ada beberapa siswa yang telah berhasil menamatkan belasan buku dalam dua bulan terakhir. Mereka juga memiliki kemampuan untuk membuat review hasil bacaannya serta mempresentasikannya di hadapan guru dan teman-teman sekelasnya. Sebagai pegiat literasi saya merasa terharudan bangga hingga karena itu saya meyakini bahwa jika kita mampu menjaga suasana, ritme, dan merawat semangat ini secara konsisten maka sudah dapat dipastikan bahwa budaya literasi kita akan mengalami peningkatan signifikan.
dokumentasi pribadi
Untuk itu kemudian saya menggagas kegiatan “Banjar Membaca”, utamanya dimaksudkan sebagai media aktualisasi para pelajar dan pegiat literasi di Kota Banjar. Sebagaimana kita mafhum bahwa program literasi saat ini sedang digalakan pemerintah, baik di tingkat nasional melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) maupun di tingkat provinsi Jawa Barat melalui kegiatan West Java Leader’s Reading Chalange(WJLRC). Beragam kegiatan literasi itu tentu saja membutuhkan media aktualisasinya di tingkat Kota Banjar. Karena itu, kegiatan “Banjar Membaca” diorientasikan setidaknya pada tiga hal. Pertama, menjadi waadah silaturahmi untuk saling berbagi dan bersinergi diantara para pelajar dan para pegiat literasi di Kota Banjar. Kedua, memanfaatkan momentum Hari Jadi Kota Banjar ke-14 dengan kegiatan literasi bersama tingkat kota dalam rangka saling menyemangati dan menumbuhkan minat baca masyarakat. Ketiga, Meningkatnya pemahaman para pelajar dan masyarakat umumnya mengenai budaya literasi sehinggga dapat menjadi motivasi bagi para pelajar dan masyarakat pada umumnya.

 

 

Sofian Munawar

Pak Sofian Munawar adalah pendiri Ruang Baca Komunitas Banjar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: