PEREMPUAN DI TITIK NOL

perempuan di titik nol. Gambar diambil dari google image

Perempuan di Titik Nol merupakan judul novel karya Nawal el – Saadawi. Sementara itu, kawan kita adalah anak seorang buruh pabrik. Gadis yang baru lulus SMP ini, tentu berbeda konflik dengan Firdaus (perempuan) tokoh novel tersebut. Setting maupun penokohannya pun berbeda. Satu hal yang perlu digarisbawahi yaitu semangat dan motivasinya untuk terus melakukan perubahan.

Ayah gadis ini di-PHK tanpa pesangon. Ibunya, yang masih satu pabrik sedang dipersiapkan untuk dirumahkan. Kenyataan ini membuatnya miris. Ia takut tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Khawatir orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Artinya, ia akan kehilangan masa depan. Ia sedikit putus asa.

Gadis kita, beruntung memiliki semangat ‘85’. Bagaimanapun, ia harus sekolah. Pemikirannya terus menerus memberikan dorongan sehingga menciptakan obsesi yang sulit hilang dari ingatannya. Tentu saja, hal ini membuat khwatir kedua orang tuanya, diliputi kesedihan yang mendalam. Orang tuanya tahu betul anaknya memiliki kemauan keras dan kecerdasan. Tetapi, itu semua tidak cukup. Anak yang paling sulung ini juga harus melihat keadaan orang tuanya yang sebentar lagi menjadi orang rumahan alias pengangguran. Sementara adik-adiknya memerlukan biaya agar bisa menyelesaikan sekolahnya di SMP swasta.

Berat memang. Tetapi hidup harus terus berjalan. Hidup bukanlah angka-angka matematika dan rumus-rumus eksak. Hidup adalah proses yang harus dijalani walaupun penuh belokan dan jalan terjal. Demikian menurut gadis kita. Ia tahu persis hal itu. Ketika ia membaca sebuah novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el – Saadawi* penulis perempuan asal Mesir. Tokoh Perempuan dalam novel Titik Nol tidak pernah menyerah walaupun harus mati ditiang gantung. Ia harus mati di tiang gantung karena kejahatan yang terpaksa harus ia lakukan. Sebuah idelisme untuk mempertahankan harga diri sebagai wanita (perempuan) dari kedzaliman dan kekejaman laki-laki yang berakhir tragis.

Perempuan desa ini melakukan usaha-usaha yang menurutnya layak Ia lakukan. Mempertahankan “keperempuanannya” dari penindasan kaum laki-laki. Berjuang, menuntut hak-hak wanita atas keputusan kaum laki-laki yang menjadikan kaum perempuan sebagai objek penderita. Laki-laki tidak membiarkan kaum perempuan untuk mandiri, dan layak dijadikan kaum perempuan.

 

Inilah yang terlintas dalam pemikiran “kawan kita”. Ia menyimpulkan bahwa perempuan harus memiliki kecerdasan pikiran, kecerdasan emosional, dan kecerdasan religi (agama). Perempuan harus memperoleh hak-haknya dengan tidak mengenyampingkan kondratnya sebagai perempuan.

Terlintas dalam pikiran, “harus ada jalan keluar untuk memecahkan kebuntuan. Harus ada motivasi agar bisa sekolah, agar kelak aku bukan perempuan bodoh yang diakali terus-menerus oleh kaum laki-laki.”

Ia ingat pada puisi yang ia tulis;

…perempuan temukan hak-hakmu, di kaki langit atau kedalaman samudra…

wilayah yang memiliki keluasan untuk nafasmu..”.

“Ya, aku harus bisa. Aku bisaaaa….” Teriak kawan kita.

Agus Sopandi

Pengelola Rumah Baca Kali Atas Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: