LOKAKARYA PERPUSTAKAN DI YOGYAKARTA : MEMBANGUN EKOSISTEM TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN BERKELANJUTAN

Mendung di langit Bandung hanya bagian dari puisi yang saya tulis. Persoalannya, karena delay yang konon sering dialami oleh para penumpang. Terlalu lama dan menjengkelkan. Dengan menulis puisi, delay menyatukan imajinasi, mungkin persepsi, kelak pesawat di Indonesia ke manapun arahnya berterbangan seperti burung diusir petani.

Lokakarya Membangun Ekosistem Transformasi Perpustakaan yang Berkelanjutan di Yogyakarta pada tanggal 13 – 17 Maret 2017 menjadi tujuan utama saya dan seluruh peserta Tim Sinergi Jawa Barat yang diundang PerpuSeru Cocacola Fondation. Komplikasi akut masyarakat Indonesia dalam memahami perpustakaan di Indonesia rupanya menggagas Program PerpuSeru melalui pengembangan perpustakaan yang didukung oleh Coca-Cola Foundation Indonesia dan Bill & Melinda Gates Foundation, yang sejak November 2011, menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi, dengan tujuan mengurangi kemiskinan informasi dan meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Pukul 6.30 malam, saya dan rombongan sampai di Hotel Sahid Rich Hotel Yogyakarta. Setelah regitrasi lalu mendapatkan kunci. Saya sekamar dengan teman dari Lampung yang sama-sama mewakili komunitas. Anak muda yang agak gila, memang. Tetapi, telah menebitkan dua buku novel. Klop sudah, karena memiliki latar belakang yang sama. Sama-sama mencintai sastra, mencintai buku, dan mencintai Indonesia.

dokumentasi pribadi

Hari Pertama : Ballroom Hotel Sahid Rich Hotel

Mengamati persoalan kebudayaan tentu tidak terlepas dari manusia dengan berbagai keragaman etniknya. Pemahaman inilah kemudian mata, pikiran, dan hati saya berusaha untuk menyatu dan tidak membuat jarak. Di ballroom Sahid Rich Hotel yang penuh sesak menjadi cermin keragaman itu. Masing-masing daerah mengirimkan utusan untuk saling berbagi tentang rencana pengembangan perpustakaan Indonesia untuk kemajuan masyarakat.

Perpustakaan Desa, TBM, dan perpustakaan daerah maupun provinsi kini lebih punya visi setelah dari tahun 2011 mereka didorong bukan hanya saja pelayanan membaca tetapi juga berkegiatan yang impact-nya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Terbukti, perpustakaan Cililin, TBM Kai Cantigi, dan perpustakaan yang sudah mengaplikasikan program perpuseru berhasil menjadi icon keberhasilan, sehingga mereka berhak menyampaikan pengalamannya di hadapan empat ratus peserta di ballroom Sahid Rich Hotel.

Hal ini pula yang terus memotivasi saya untuk fokus terhadap semua materi yang disampaikan dalam lokakarya. Di sisi lain, imajinasi saya berkelindan agar saya harus tetap mengupayakan perubahan dengan sinergi dan kolaboratif di bawah Tim Sinergi Jawa Barat. Sebuah tantangan yang berat dan kompleks. Merangkul semua instansi dengan egosentrisnya menjadi kendala untuk segera dibenahi.

Tim sinergi yang terdiri dari pustakawan, kepala bidang kearsipan, perpustakaan, komunitas dan berbagai instansi terkait memiliki kewajiban menyusun rencana kerjasama untuk pengembangan transformasi perpustakaan yang berkelanjutan, dengan mengoptimalkan sumber-sumber daya yang ada di tingkat provinsi dan kabupaten. Penekanan inilah pada hari pertama lokakarya. Agar, semua menjadi jelas terhadap fungsi Tim Sinergi yang akan menjadi fundamen bagi pengembangan perpustakaan di daerah masing-masing,

 

dokumentasi pribadi

Hari Kedua : Ballroom Hotel Sahid Rich Hotel

Dari apa yang sudah disampaikan hari pertama, peserta kemudian diarahkan ke ruang-ruang diskusi sesuai daerah masing-masing. Ruang diskusi inilah yang paling seru. Semua daerah menyampaikan kelebihan dan kekurangannya dalam pengelolaan perpustakaan. Tidak ada yang ditutupi. Semua terbuka. Kondisi ini diperlukan untuk penyegaran perpustakaan. Subang, Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Bogor, Sukabumi dan berbagai daerah lainnya menyampaikannya secara terbuka.

Semua perwakilan perpustakaan daerah yang diwakili kepala dinasnya masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yang beragam. Namun, hampir semua perwakilan daerah menyampaikan kelemahannya dalam koordinasi setiap instansi seperti apa yang saya sampaikan di atas adalah egosentris.

Tim Sinergi Jawa Barat tentu merupakan kelompok yang memiliki cakupan luas dalam mendorong terbentuknya rasa keadilan disetiap daerah. Rumusan-rumusan rencana jangka panjang untuk kemajuan perpustakaan harus berdasarkan aspirasi daerah, menampung, melaksanakan bahkan menginisi tentu menjadi tugas yang berat bagi Tim Sinergi Jawa Barat. Ketimpangan akan menjadi bumerang. Untuk itu, Tim Sinergi Jawa Barat harus melangkah lebih cepat dalam memperkuat antar Dinas di provinsi melalui SK dan Pergub.

Hari Ketiga : Ballroom Hotel Sahid Rich Hotel, Tim Building

Kerjasama itulah intinya. Tim Sinergi Jawa Barat akhirnya menjadi juara dalam kompetisi ini. Kerjasama memang diperlukan dalam berbagai hal selama ada kompetisi yang memerlukan banyak orang. Kemenangan bukanlah tujuan tetapi melakukan sinergi dengan tim merupakan kemenangan. Secerdas atau sepintar apapun seseorang jika kompetisi itu memerlukan banyak orang lebih baik dikerjakan semua orang. Inilah maksud Tim Building.

Para pengambil kebijakan Perpustakaan Desa, Daerah, Provinsi, maupun TBM perlu merangkul semua orang agar perpustakaan mampu membangun ekositem yang baik, holistik, dan berkelanjutan. Tidak perlu ada yang disekat maupun penyekat, semua harus transfaran. Semua harus mengupayakan agar bisa menembus batas. Menghilangkan egosentris yang jelas keturunan feodalistik. Saya bersyukur Perpuseru telah menembus batas maksimal dalam keterbatasan bangsa yang korup. Berusaha tetap konsinten terlepas dari komplesitas keragaman budaya masyarakat Indonesia. Semoga.

Agus Sopandi

Pengelola Rumah Baca Kali Atas Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: