NOVEL PITALOKA (EDISI CAHAYA) : KARYA TASARO

Pitaloka edisi cahaya. gambar dari google image

Dipandang dari sudut sejarah Diah Pitaloka atau nama Citraresmi merupakan sosok seorang puteri kerajaan Pajajaran. Ia, putri dari Prabu Maharaja Linggabuana. Lahir tahun 1339 Masehi dari Prameswari Dewi Lara Linsing. Lingga Buana maupun Citraresmi merupakan korban peperangan yang berlatar politik patih Gajahmada. Orang Sunda akan tahu persis mengenai perang Bubat yang menyakitkan bahkan mungkin terlalu menyakitkan. Kisah lamaran dibalas dengan peperangan bahkan pembantaian oleh sosok yang kita kenal sebagai simbol kekuatan negara yaitu “Gajah Mada.”

Terlepas dari kontroversi, saya tidak berbicara tentang sejarah, tidak berbicara tentang pembantaian terhadap pasukan Pajajaran tetapi tentang novel yang berjudul “Pitaloka” puteri dari Lingghabuana yang mencari jati diri karya Tasaro.
Berawal dari kisah Pitaloka yang diantarkan ke padepokan Candrabhaga dengan maksud untuk berguru. Akan tetapi dibalik itu Pitaloka ditugaskan untuk membunuh Candrabagha.

Dengan dikawal Brajagiri, Pitaloka memasuki padepokan Candrabagha di kaki gunung Pangrango. Ketika langkah Pitaloka mendekati kaki Pangrango, Pitaloka merasa semakin rapat dengan Surga. Wajah Candrabagha, sang guru kehidupan, terang membayang. Lima tahun lalu, Pitaloka menjadi pemain utama dalam penghianatan besar terhadap pewaris ajaran mulia itu. Namun, Pitaloka sang putri datang lagi, membawa perintah raja Sunda. “Lenyapkan ajaran mulia atau seribu prajurit Kerajaan Sunda menggilas padepokan Candrabaga.” Akan tetapi, Pitaloka tidak peduli. Dia datang dengan agenda sendiri.

Namun. sebuah konspirasi keji telah menunggunya. Rencana jahat yang mengancam nyawa seluruh penghuni Padepokan Candrabhaga. Apapun yang harus dikorbankan, Pitaloka bertekad keluar sebagai pemenang.
Sikap Pitaloka yang bersebrangan dengan semua orang (kecuali dengan gurunya) merupakan sikap tegas dari pribadi yang kuat. Pitaloka digambarkan memiliki pandangan luas mengenai ajaran gurunya. Ia jeli dalam berpikir, dan cerdas dalam menerjemahkan semua persoalaalan hidup termasuk filsafat. Cara pandang yang berbeda inilah yang dibutuhkan Candrabagha. Sebab hanya Pitaloka yang benar-benar mampu berbicara dengan pikiran dan hatinya.  Novel ini juga berbicara mengenai kekuasaan, jelasnya perebutan kekuasaan di Pajajaran. Walaupun, hanya sebagai aksentuasi tetapi setting cerita in melibatkan kerajaan Pajajaran sebagai bagian dari kejadian yang tentu dengan konflik para tokohnya.
Tasaro sang penulis mungkin juga secara sengaja ingin melihat Pajajaran sebagai setting agar kejelasan peristiwa menjadi dasar dari pergulatan tokoh-tokohnya termasuk Pitaloka. Dan, hanya sekilas saja sebenarnnya sejarah Pajajaran diungkap bahkan sedikit sekali.  Konflik di dalamnya, tidak melibatkan kerajaan sebagai pusat kekuasaan. Konflik hanya melibatkan tokoh-tokoh anomali (yang menyimpang) dari kerajaan. Termasuk guru Pitaloka, Candrabaga. Kekuatan novel ini terletak pada narasinya. Tidak sulit untuk dipahami. Sementara, latar cerita hanyalah polesan untuk memperkuat cerita.

Novel ini perlu dibaca bagi mereka yang akan memulai belajar sejarah. Tetapi, sekedar untuk memancing agar kita mau membaca sejarah terutama sejarah Pajajaran. Kelemahan novel Pitaloka karya Tassaro terletak pada setting cerita dan tokoh Pitaloka. Pitaloka, tidak digambarkan sebagi sosok putri pada umumnya dalam cerita perang Bubhat. Dalam karya ini Pitaloka digambarkan sebagai pendekar dengan kemampuan kanuragan yang luar biasa.
Beberapa waktu yang lalu hasil diskusi yang diselenggaran Pikiran Rakyat (sejarawan Nina Lubis) membuat simpulan tentang perang Bubat. Simpulan itu menyikapi bahwa perang Bubat tidak perlun disikapi sebagai gerakan untuk membeci dan menggugat tetapi untuk menemukan solusi politik atas perbedaan pandangan antar suku, khususnya Jawa – Sunda dan umumnya semua suku di Indonesia. Novel ini pun tidak untuk menggugat tetapi untuk mengingatkan sejarah masalalu sebagai upaya rekonsiliasi dengan sejarah.

Agus Sopandi

Pengelola Rumah Baca Kali Atas Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: