A LUCKY CHILD

(A Lucky Child: gambar diambil dari google image)

 

 

Thomas Buergenthal belum genap enam tahun ketika dipaksa masuk ke permukiman Yahudi di Polandia bersama kedua orang tuanya. Empat tahun berselang, mereka naik kereta tujuan Auschwitz. Thomas dipisahkan dari orang tuanya.

 

Thomas yang sendirian dan berumur sepuluh tahun, terselamatkan oleh kecerdikan dan goresan keberuntungan yang luar biasa sehingga ia lolos dari Auschwitz. Memoar ini menyampaikan kekuatan tekad dan kehendak yang bisa ditunjukkan dengan jelas bahkan oleh korban HOLOCAUST termuda sekalipun. Buergenthal memperlihatkan bahwa keindahan bisa diabadikan dalam wajah kesengsaraan terbesar.

 

Terlepas dari pro dan kontra, peristiwa Auschwitz memberikan pemahaman pada kita tentang kesadaran akan pentingnya pemahaman HAM dalam setiap individu walaupun sebenarnya HAM juga masih tidak lepas dari pro dan kontra juga. Peristiwa Holocaust, yang menimpa warga Yahudi pada saat itu benar-benar menarik untuk dikaji secara objektif. Sebab bagi sebagian orang peristiwa pembantaian merupakan tragedi kemanusian yang menghantam nilai-nilai kemanusiaan (HAM). Peristiwa Holocaust menyiratkan unsur diskriminasi dan rasis pada saat itu dan dibesarkan oleh Sang Fuhrer yang memimpin NAZI Jerman. Kebencian terhadap orang-orang Yahudi adalah juga karena NAZI melihat orang-orang Yahudi dapat mempengaruhi keputusan pemerintahan. Komunitas yahudi tidaklah sedikit, perekonomiannya juga berkembang, inilah yang kemudian Nazi menghabisi Yahudi.

 

Dari sudut HAM terlepas dari latar belakang orang-orang Yahudi dipandang dari Islam sebagai musuh terbesarnya maka, sepertinya, HAM adalah menjadi argumensi untuk sebuah pembenaran namun terlalu provokatif. Ekspose pembantaian orang-orang Yahudi lebih meningkatkan citra Yahudi sebagai masyarakat yang benar-benar harus diperjuangkan. Hal ini didukung oleh organisasi-organisasi kelas dunia hingga orang-orang Yahudi harus memiliki negara sendiri. Organisasi (LSM) dan Eropa yang beraliansi dengan masyarakat Yahudi akhirnya memperjuangkan Palestina sebagai negara Yahudi.

 

Palestina, yang di plot negara-negara Eropa (terutama Inggris) sebagai negara yahudi akhirnya benar-benar dicaplok. Korban-korban Holocaust diselundupkan dan diberi fasilitas. Orang-orang Yahudi mengusir orang-orang Palestina maka tak pelak Holocaust babak kedua kembali terulang. Lalu, jika Buergenthal menjadi pejuang hak asasi untuk dirinya dan kaumnya bahkan masyarakat dunia, Ia telah gagal, karena ia membiarkan orang-orang yahudi masuk ke Palestina dengan menciptakan Holocaust ke dua.

 

Pembunuhan besar-besaran oleh kaum Yahudi terhadap bangsa Palestina, pengusiran, dan perampasan hak-hak hidup bangsa Palestiana menjadi penolakan argumentasi Burgenthal pada bukunya. Obyektivitas inilah yang penulis inginkan dari pengarang buku A LUCKY CHILD Memoar Survivor Auschwitz Semasa Bocah.

Agus Sopandi

Pengelola Rumah Baca Kali Atas Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: