PEDAGANG TAHU MENDAPAT UNDANGAN MAKAN SIANG BERSAMA PRESIDEN JOKO WIDODO

dokumentasi pribadi

“Jumat 28 April 2017 pukul 17:22, saya sedang naik motor berdua dengan relawan di kampung Jomblo, Jalan Ahmad Yani Bandung. Saat itu saya baru pulang mengantar naskah karya terbaik ke dinas Pendidikan Prov Jabar untuk ikut lomba TBM Se-Jawabarat. Tiba-tiba ponsel di saku bergetar, dilihat ada pesan dengan nomor yang tidak dikenal, pas dibaca saya terkejut dan berpikir tidak percaya dan mustahil, saya mendapat pesan tersebut sempat berpikir itu sebuah penipuan dan isi pesan tersebut seperti ini.

Selamat siang betul dengan Bapak Yayat? Mohon maaf perkenalkan saya Ranu dari staf Sekretaris Pribadi Bapak Presiden. Ijin mau menghubungi bisa? Hal ini terkait kegiatan Bapak/Ibu dalam memajukan minat baca anak-anak didaerah dengan kegiatan keseharian Bapak sebagai tukang tahu. Terima kasih.’”

Itulah pesan Singkat yang masuk ke Ponsel seorang pedagang tahu keliling bernama Rudiat yang biasa disapa Mang Yayat (39), salah satu warga asal Kabupaten Bandung yang mendapat undangan kehormatan dari Istana untuk makan siang bersama Presiden RI, Joko Widodo. Saat itu saya menemuinya setelah beliau pulang dari istana Presiden dan memperlihatkan isi pesan tersebut. Saat itu saya sedang berkunjung ke rumahnya yang beralamat di Jl. Gunung Puntang Kampung Pasirhuni RT 05/06 Desa Pasirhuni Kec. Cimaung Kab. Badung Jawa Barat.

Saat itu, Presiden Joko Widodo mengagendakan pertemuan dengan beberapa pegiat literasi se-Indonesia yang berjumlah 38 orang di Istana Negara sambil makan siang. Silaturahmi dengan para pegiat Literasi Inspiratif dan Pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) ini, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang digelar di Istana Negara. Jakarta Pusat, Selasa(02/05/2017).

Mang Yayat bukanlah pedagang tahu keliling biasa sehingga beliau bisa diundang hadir ke Istana Negara. Sehari-hari beliau berjualan sambil meminjamkan buku-buku secara gratis kepada warga di dua kecamatan.

“Hal ini merupakan sebuah apresiasi dan penghargaan untuk para pejuang pendidikan dalam mencerdaskan masyarakat Indonesia melalui membaca. Saya merasa terhormat bisa duduk bareng untuk makan siang bersama para pegiat dari berbagai daerah, selain itu saya bisa menerima masukan untuk kemajuan masyarakat Indonesia dalam meningkatkan budaya membaca di tanah air,” kata Mang Yayat mengutip kata-kata Presiden Joko Widodo pada saat memberikan sambutan sebelum makan siang berlangsung.

dokumentasi pribadi

“Suatu kehormatan bagi saya, penjual tahu keliling yang berasal dari kampung, bisa menginjakan kaki di istana Presiden, bersama istri tercinta yang selama 20 tahun menemani saya dalam menumbuhkan minat baca di daerah saya. Hingga ahirnya saya mendapat undangan makan siang bersama presiden. Saya sendiri tidak menyangka dan tidak percaya pada saat menerima telepon dari staf sekretaris pribadi presiden, bahwa saya merupakan salah satu orang yang diundang oleh presiden untuk makan siang di istana. Sampai saya mengatakan ‘ah Bapak jangan bercanda… Bapak tau nomer ini dari mana?’ dan dia mengatakan dari Pustaka Bergerak Indonesia dan Kementrian Pendidikan, ” ujar Mang Yayat.

Mang Yayat menambahkan, dalam diskusi antara Joko Widodo dan para pegiat literasi, presiden mendapat masukan 8 poin dari Ketua Umum FTBM Pusat (Firman Venayaksa), untuk meningkatkan gerakan Literasi Nasional. Ada satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh koordinator Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka.

Beliau berkata, “Warga Indonesia bukan lemah atau rendah dalam membaca, ini bisa dibuktikan ketika para pegiat literasi yang melakukan gerilya ke daerah terpencil serta masuk ke daerang pingiran, mereka disambut antusias oleh warga yang didatangi. Seperti anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Justru masalah yang sebenarnya adalah bagi para pelaku pustaka bergerak sangat susah untuk mendapat bantuan pasokan buku karena mentok di harga pengiriman yang tidak seimbang dari jumlah harga buku yang dikirim. Saya harap pak Presiden bisa mengeluarkan kebijakan untuk mengratiskan pengiriman buku, minimal dalam satu bulan satu hari ada yang digratiskan khusus untuk pengiriman buku, sehingga kami bisa mendapatkan buku dengan mudah dan gratis.”

Mendengar pernyataan tersebut, Bapak Presiden Joko Widodo, menjanjikan akan mengeluarkan kebijakan untuk menggratiskan pengiriman buku ke seluruh Indonesia satu hari dalam satu bulan. Presiden akan langsung menghubungi Pihak PT POS Indonesia untuk segera menindaklanjuti.

“Ternyata benar janji pak presiden terbukti! Pas tanggal 17 mei 2017, bertepatan di-Hari Buku Nasional, presiden mengeluarkan keputusan dan me-launching pengiriman buku gratis. Untuk di bulam Mei pengiriman buku gratis pertama pada tanggal 20 Mei 2017, di hari kebangkitan nasional dan untuk selanjutnya pengiriman akan ditetapkan setiap bulan pada tanggal 17. Pas tanggal 20 Mei 2017, saya melakukan tes pengiriman buku gratis pertama ke Lampung dan Bekasi, sumbangan dari PT Sarana Panca Karya Nusa, yang menyumbangkan buku sebanyak 6000 exsemplar untuk dibagikan kembali kepada pegiat literasi di indonesia yang sangat membutuhkannya,” tegas Mang Yayat.

Semoga setelah ini, Pak Presiden akan mengeluarkan kebijakan lainnya yang mendukung pergerakan pegiat literasi di seluruh tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: