KENIKMATAN BERBAGI ILMU

dokumentasi pribadi

Nama saya Rifa’i Awaludin, dan lebih dikenal dengan nama panggilan Padil (jangan tanya kenapa). Saya adalah mahasiswa pendidikan di kota Cimahi, Jawa Barat. Selain sebagai mahasiswa saya juga aktif di kegiatan sosial, saya menjadi relawan di perpustakaan desa Mekarmukti yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dan menjadi pengurus aktif di sebuah yayasan. Saya sering terlibat di kegiatan sosial yang berbasis literasi untuk menyuarakan betapa pentingnya pendidikan, melalui salah satu dasarnya yaitu membaca. Nah disini saya akan menceritakan sebuah pengalaman yang mengesankan, tentang bagaimana saya bisa berada di keadaan seperti di atas, yang terkadang orang lain berpendapat hanya membuang waktu.

Setelah lulus SMA tak pernah ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tujuan utama yang terfikir adalah bekerja dan tak membebani orang tua lagi. Tapi semua pandangan ini berubah setelah sebuah pengalaman membukakan mata saya tentang indahnya berbagi ilmu dan dan berbagi senyuman. Pengalaman ini membuka fikiran dan hati saya untuk ikut andil bagian dalam perkembangan masyarakat yang sejahtera.

Kejadian ini berawal dari sebuah kegiatan bulan Ramadan tahun 2016 yang diadakan oleh Perpustakaan Jendela Dunia di desa Mekarmukti. Kebetulan saat itu saya diajak untuk mengajar di kegiatan “ngabuburit sambil belajar”.

dokumentasi pribadi

Awalnya saya enggan untuk ikut berpartisipasi, saya fikir hanya membuang waktu dan lebih baik mempersiapkan persyaratan untuk melamar kerja. Hanya saja kebetulan yang menahkodai perpustakaan Jendela Dunia adalah Mang Yadi Damanhuri yang tidak lain adalah paman sendiri. Dengan setengah hati saya pun ikut berbaur dalam kegiatan ini. Dalam kegiatan ini saya menemukan hal menarik yang takkan pernah saya lupakan.

Hal menarik ini adalah saya bertemu dengan anak laki-laki yang duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Anak ini mempunyai karakter yang bandel dan susah diatur. Suatu saat saya harus dihadapkan dengan si anak bandel untuk mengajarinya pelajaran Bahasa Inggris. Saat itu saya merasa kaget dan miris dengan keadaan yang terjadi. Ternyata di usianya yang sudah duduk di kelas 4, dia belum bisa membaca dengan baik.

Saya berinisiatif untuk memfokuskan diri pada anak itu agar dia bisa membaca dan bisa menyusul teman sebayanya. Sampai kegiatan “ngabuburit sambil belajar” ini berakhir, saya masih terbayang bagaimana perkembangan anak itu. Tak lama setelah lebaran saya bertemu dengan anak bandel itu dan dia berteriak memanggil saya, “A Padiiiil….”

Saya pun menghampirinya, dengan wajah tersenyum anak bandel ini bercerita bahwa setelah pertemuan kami di kegiatan itu dia tak pernah lagi dihina dan diejek oleh orang-orang sekitarnya. Yang membuat saya merasa heran dia juga mengatakan yang mengejek itu salah satunya adalah orang tuanya sendiri.

“A Padil jangan manggil aku anak bandel lagi, karena sekarang aku gak bandel lagi. Hehehe, “ ujar si anak bandel sebelum dia pergi dan tersenyum.

Kejadian ini menambah rasa penasaran saya terhadap si anak bandel. Setelah ditelusuri dengan bertanya ke orang-orang terdekatnya dan pernah sekali saya berkunjung ke rumahnya, ternyata yang membuat dia susah diatur adalah ekspresi kekesalannya karena dia kerap dimarahi dan dihina oleh orang sekitarnya.

Melihat anak ini saya merasakan sebuah kenikmatan yang tak bisa saya jelaskan apa itu. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menjadi relawan aktif di perpustakaan Jendela Dunia agar saya bisa bertemu anak bandel lainnya. Setelah kegiatan yang berlangsung di bulan Ramadan itu dia sering berkunjung ke perpustakaan Jendela Dunia dan dia sering menceritakan bahwa dia mendapat kehidupan yang lebih baik setelah pertemuan kami.

Sampai saat ini saya selalu merasakan hal yang luar biasa ketika si anak bandel bercerita tentang perkembangan kehidupannya. Saya bertekad untuk memuliakan orang lain dengan ilmu yang saya bagikan melalui kegiatan yang positif. Setelah bergabung dengan perpustakaan Jendela Dunia saya menyadari proses belajar tidak hanya berada di sekolah, tapi dimanapun bisa dilakukan proses pembelajaran. Oleh karenanya saya akan terus menyuarakan budaya membaca, karna membaca adalah adalah modal dasar terciptanya proses pembelajaran.

Rifa'i Awaludin

Relawan di perpusdes Mekarmukti Jendela Dunia

One thought on “KENIKMATAN BERBAGI ILMU”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: