MEMERIAHKAN FESTIVAL RAMADAN DENGAN BELAJAR MENULIS

Pada bulan Juni 2017 ini, Perpusdes (Perpustakaan Desa) Winduraja, Ciamis, melaksanakan sebuah kegiatan yang bertemakan “Festival Ramadan”. Kegiatan tersebut meliputi: pelatihan menulis, lomba menulis, permainan edukasi, dan penobatan Raja & Ratu buku. Salah satu syarat agar terpilih menjadi Raja atau Ratu Buku adalah dengan rajin-rajin mengunjungi Perpusdes Winduraja untuk membaca maupun meminjam buku, persentase kehadiran dihitung dari tahun 2015, awal Perpusdes Winduraja pertama kali dibuka untuk umum hingga tanggal 20 Juni 2017. Sedangkan batas pengumpulan tulisan untuk lomba menulis sampai tanggal 20 Juni. Dilanjutkan dengan puncak acara, yaitu pembagian hadiah tanggal 22 Juni 2017. Kegiatan ini didukung oleh Tunas Cendekia Foundation dan Ika UNPAD.

Bagi yang ingin mempelajari bagaimana cara menulis yang baik dan benar, pada tanggal 10 dan 11 Juni Perpusdes Winduraja mengadakan kegiatan pelatihan kepenulisan yang dipandu oleh Kang Nanang Supriatna (Redaktur Mingguan Galura, grup Pikiran Rakyat). Mulai pukul 13.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB khusus untuk jenjang pendidikan kelas enam SD dan SMP.

Di hari ke-1 dengan diikuti oleh lima orang relawan, satu peserta SMP, dan empat peserta yang masih SD, Kang Nanang menjelaskan bagaimana langkah yang harus kita tempuh untuk menulis. Mulai dari niat, rasa penasaran, timbul kemauan, sampai keharusan kita untuk berhenti bertanya “bagaimana cara menulis?” dengan memilih untuk segera memulai merangkai dan menulis kata demi kata.

dokumentasi pribadi

Untuk mempermudah, kita diharuskan untuk menentukan topik yang akan diambil, kemudian mencari poin-poin penting (angel) yang mengandung unsur 5W + 1H. Dengan begitu, hasil tulisan kita akan runtut, tidak rancu, dan saling berkaitan. Tidak hanya teori, dengan infocus sebagai media, kang Nanang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempraktikannya sambil mengkoreksi hal yang dirasa masih kurang secara bersama-sama. Tidak ada hukum salah atau benar di sini, kita lebih diajarkan untuk berani mengungkapkan dan mempertanggungjawabkan hasil tulisan di hadapan peserta lain.

Karena materi belum sempat tersampaikan, para peserta diminta membuat satu tulisan yang berkaitan dengan topik dan angel yang dibuat masing-masing pada hari kemarin untuk dibahas pada hari ke-2. Kang Nanang mulai membahas satu persatu hasil karya para peserta. Mulailah berlaku hukum salah dan benar. Hal-hal yang dipelajari hari ini mengenai penggunaan tanda baca, penggunaan huruf kapital, serta keefektifan suatu kalimat. Rata-rata masih banyak peserta yang salah.

Ketika semua peserta sudah memahami ketatabahasaan yang baik dan benar, kami diajak Kang Nanang untuk turun ke bawah. Di sana ada bendungan Cigajah.

“Jika tulisan kalian ingin dibaca oleh banyak orang, tulisan tersebut harus menarik. Misalnya menuliskan fenomena alam yang terjadi di lingkungan kalian, seperti bendungan Cigajah ini. Airnya terbendung meski hanya ditahan oleh bebatuan yang menumpuk tanpa disemen. Maka di situ akan tibul banyak pertanyaan. Sehingga masyarakat tertarik untuk membaca,” kata Kang Nanang.

dokumentasi pribadi

Para peserta terlihat sangat serius mengamati sekeliling bendungan, ada yang sambil menggambar sketsa, ada juga yang memisahkan diri untuk lebih menghayati apa yang ada di hadapannya.

Mudah-mudahan di Ramadan selanjutnya kegiatan ini bisa terus berlanjut, agar kami, para peserta bisa terus mengasah kemampuan menulis, merangkai kata, serta menghasilkan karya bermanfaat yang bisa dinikmati pembaca.

Naufalia Qisthi

Relawan Taman Pustaka Hasanah Winduraja Ciamis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: