GELIAT LITERASI KOTA ANGIN BERKAT NOVEL “SYIAR CINTA”

dokumentasi pribadi

Buku biografi tentang pahlawan nasional KH. Abdul Halim asal Ciborelang-Jatiwangi Kabupaten Majalengka ini memang telah banyak ditulis. Itu semua diakui oleh para kader Persatuan Umat Islam (PUI) baik di daerah (Kabupaten/Provinsi) maupun di tingkat pusat. Buku biografi ini kembali ditulis, hanya saja bentuknya kini menjadi sebuah buku novel. Ulasan perjuangan dengan bahasa yang lebih populer ini, lebih menyentuh sasaran kalangan muda remaja.

Buku novel ini cukup tebal yakni hampir 600 halaman. Meskipun begitu pada launching yang berlangsung di ponpes (pondok pesantren) Santi Asromo Desa Pasir Ayu Kecamatan Sindang Kabupaten Majalengka-Jawa Barat itu, pada April 2017 lalu, para santri antusias menyambutnya. Kini para santriwan dan santriwati pun mulai keranjingan membaca. Sebelumnya, buku-buku biografi KH. Abdul Halim yang ditulis bukan dalam bentuk genre novel hanya orang-orang tertentu saja yang membacanya.

Kisah Abdul Halim dalam buku novel ini memang menarik. Mengisahkan tentang beliau sejak masa dalam kandungan sang ibu, dilahirkan, masa kecil, masa remaja, hingga cerita dan kegalauan perasaan sosok pahlawan ketika jatuh cinta kepada perempuan pujaan hatinya. Penulisnya yang memang dipilih oleh organisasi PUI untuk menovelkan sejarah perjuangannya, tercatat pernah menjadi juara terbaik lomba menulis di tingkat pusat Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

Penulisnya sampai harus riset dan turun langsung. Vita Agustina, nama penulis itu mondok selama dua bulan untuk menghayati, mewawancarai orang-orang yang mengenal pahlawan asal Ciborelang-Jatiwangi itu, serta menyerap nuansa pesantren yang dirintis pahlawan nasional itu.

Vita sendiri mengakui bahwa risetnya cukup lama dan sepanjang karir menulisnya itu novel ini paling lama dikerjakan dalam proses penulisannya. Namun yang jelas, ia merasa bangga karena dapat menyelesaikannya. Dampak dari adanya launching yang cukup meriah di ponpes Santi Asromo itu, menimbulkan semangat baru literasi di wilayah kota angin (Majalengka).

Ditulis berdasarkan latar belakang kehidupan masa kecil Abdul Halim dengan nama kecil Otong Syatori itu, memang cukup renyah dibaca oleh semua kalangan. Sayangnya novel ini hanya menceritakan tentang kehidupan pribadi sosok pahlawan nasional yang haus akan ilmu agama Islam dan paling mengedepankan pengetahuan serta cinta akan pentingnya pendidikan. Novel ini tidak begitu banyak menceritakan kiprah dan eksistensinya terlibat langsung untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun perjuangan Abdul Halim telah diakui oleh negara, dan nama beliau juga diabadikan dalam sebuah jalan utama yang membentang dan melewati alun-alun Majalengka kota.

Tetapi terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, semangat para remaja yang tadinya tidak suka membaca buku, menjadi tergugah dan ingin membuka serta membaca baca buku lainnya. Bahkan pihak pesantren mengaku siap untuk menelurkan penulis-penulis baru, mengingat geliat dan manfaat dari membaca dan menulis tidak bisa digantikan oleh kegiatan apapun.

Selain itu, pihak PUI juga mengklaim bahwa novel yang berjudul “Syiar Cinta” dengan subjudul “Tapak Langkah Abdul Halim” akan segera dibuatkan filmnya. Saat ini masih tahap awal pembuatan skenario. Semoga perjuangannya dan dedikasinya dalam meluaskan pendidikan dan penyebaran ilmu menjadi inspirasi kita semua.

Herik Diana

Perintis dan pengelola TBM Haidar Di Desa Cisambeng Kec. Palasah Kabupaten Majalengka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: