FIKSI MINI SUNDA DI MAJALENGKA MULAI DIPOPULERKAN

dokumentasi pribadi

Bagi yang hobi membaca buku cerita, belum tentu juga suka membaca Fiksi Mini berbahasa Sunda. Namun bagi masyarakat Jawa Barat yang kental dengan nuansa kesundaan, sepertinya Buku berjudul “Monolog Ajal” karya Asikin Hidayat ini cukup menarik untuk dibaca.

Diterbitkan dengan kerjasama antara Pustaka Kemucen Rajagaluh dan Mitra Pemuda Cirebon, buku fiksi mini yang memuat 107 cerita singkat berdasarkan obrolan dan pengamatan realita sehari-hari ini bisa menjadi bacaan ringan yang menyenangkan.

Fiksi mini yang paling ingat dan mudah diingat, salah satunya adalah fiksi mini berjudul “Calon Bupati”. Waktu itu sang tokoh yang bernama Endang, seorang pengamen jalanan, ingin menjadi bupati. Dalam bahasa Sunda, percakapan antara bupati (kepala daerah tingkat kabupaten) dengan Endang, sang pengamen jalanan, terjadi begitu saja ketika mereka berpapasan.

Dalam fiksi mini itu bupati tidak bertanya lebih dulu. Malahan Endang si pengamen jalanan yang memang ada dekat dengan bupati di suatu tempat, langsung saja celetuk dan mengatakan bahwa dirinya ingin sekali menjadi bupati. Kontan saja, pak bupati langsung penasaran dan bertanya tentang motivasi Endang ingin jadi bupati.

Jawabannya sangat sederhana, Endang ternyata ingin menjadi seorang pemimpin dan ingin mengajari masyarakat untuk korupsi. Tentu saja wartawan yang terlihat hadir di sekitar bupati dan Endang, spontan tersenyum. Fiksi mini itu semua ditulis dalam bahasa Sunda. Rata-rata selesai ditulis oleh si penulisnya 6-7 alinea/paragraf saja atau satu halaman, seperti puisi.

Bagi yang tidak terbiasa baca buku sunda, agak kesulitan memang untuk membaca buku dengan jumlah 110 halaman itu. Termasuk saya sendiri. Suka baca buku, tapi kesulitan bukan main ketika membaca fiksi mini bahasa Sunda karya Asikin Hidayat. Berbeda dengan teman-teman si penulisnya yang seangkatan, terlihat senang membaca buku tersebut. Membaca buku berbahasa sunda itu sangat menyenangkan. Begitu kata mereka yang telah sepuh.

Namun terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan dari buku Monolog Ajal, si penulis bukunya sendiri menyiratkan bahwa dirinya konsen di bidang tulisan berbahasa Sunda. Buku ini hadir mengisi kekosongan buku sunda dan menjadi hiburan yang ringan. Buku ini sudah tersebar di sejumlah toko buku dan perpustakaan. Terutama di Perpustakaan daerah Majalengka.

Herik Diana

Perintis dan pengelola TBM Haidar Di Desa Cisambeng Kec. Palasah Kabupaten Majalengka

One thought on “FIKSI MINI SUNDA DI MAJALENGKA MULAI DIPOPULERKAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: