BERMAIN KE RBM KALI ATAS

Perjalanan ke RBM Kali Atas

Pagi itu, matahari belum penuh bersinar ketika aku menembus pasar menyebrangi jalanan di bawah jembatan Kiara Condong menuju stasiun. Aku dan teman-teman dari Jabaraca (Jawa Barat Membaca) memiliki agenda rapat di Rumah Baca Masyarakat (RBM) Kali Atas yang berada di desa Cicalengka Wetan, kecamatan Cicalengka, kab. Bandung pukul 8 pagi ini.

Aku sampai di stasiun Kiara Condong pukul 6 pagi dan berencana naik kereta lokal Bandung Raya yang akan membawaku ke Cicalengka. Stasiun tampak lengang, tidak seperti biasanya yang dipenuhi oleh antrian yang mengular. Aku kemudian memesan tiket kereta lokal untuk keberangkatan jam 6.22.

Persis pukul 6.22 kereta datang dan membawaku menembus persawahan, melewati stasiun Gedebage, stasiun Cimekar, stasiun Rancaekek, stasiun Haurpugur dan berakhir di stasiun Cicalengka pukul 7.05. Sepertinya, stasiun Cicalengka adalah stasiun paling timur yang berada di daerah Bandung Raya sebab kereta lokal ini berhenti sampai disini dan akan berjalan lagi kembali ke Padalarang, yang terletak di barat sana.

wikipedia.org

“Dari stasiun Cicalengka naik angkot yang ke Nagreg. Turun di pasar, setelah SPBU. Balai desa terlihat dari jalan,” kata Pak Nanang, salah satu pengurus di Jabaraca, saat aku bertanya kendaraan umum ke RBM Kali Atas.

Keluar dari stasiun, terdengar teriakan supir angkot, “Nagreg… Nagreg…”

Aku menghampiri angkot berwarna biru itu dan bertanya apakah dia lewat balai desa Cicalengka Wetan. Sang supir mengangguk. Aku lalu naik ke angkot itu dan angkot berhenti di sebrang sebuah sekolah dasar yang di sampingnya seperti perkampungan padat penduduk. Di sebelah SD tersebut aku melihat bangunan dengan pagar tinggi. Saat aku melongok ke dalamnya, kulihat beberapa orang mengenakan seragam PNS berwarna coklat dan susunan bangunannya tidak seperti rumah biasa.

“Ini kali ya, balai desanya…” gumamku.

Aku kemudian menelpon Pak Agus Sopandi, pengurus RBM Kali Atas, namun tidak ada jawaban. Aku lalu bertanya pada orang yang kebetulan sedang lewat dimana letak RBM Kali Atas.

“Lurus aja, Neng, ikutin jalan. Tempatnya nanti di jembatan,” kata orang tersebut.

Aku mengikuti arahannya dan sampai di sebuah rumah dengan tulisan, ‘Selamat Datang di RBM Kali Atas’. Pintu rumah itu terbuka dan nampak seorang gadis sedang sibuk menyiapkan makanan. Aku lalu menanyakan letak RBM Kali Atas. Gadis tersebut dengan ramah lalu menunjuk pintu samping dan mengajakku masuk.

Aku masuk ke sebuah ruangan yang dindingnya penuh dengan buku dan majalah. Sebuah perpustakaan kecil yang rapi. Buku-buku tersusun sesuai dengan kategorinya. Sebuah meja kayu kecil dengan buku administrasi perpustakaan berada di sudut ruangan. Di sudut ruangan lain terdapat terminal listrik.

dokumentasi pribadi

RBM Kali Atas

Selang beberapa waktu, Pak Agus Sopandi keluar dan menyalamiku. Dengan bersemangat beliau menawari kopi tubruk. Aku menggeleng karena tidak suka minum kopi. Beliau masuk lagi ke dalam rumah, kemudian keluar lagi dengan membawa cangkir kopi untuk dirinya dan cangkir teh untukku.

“Tadinya sini ini kali, Mbak,” kata Pak Agus Sopandi memulai perbincangan setelah berbasa basi. “Kemudian orang-orang membuang sampah sembarangan di kali. Saya gak suka liatnya akhirnya kalinya saya tutup trus saya buat perpustakaan ini. Makanya  perpustakaan ini bernama Rumah Baca Kali Atas. Awalnya buku-buku pribadi saya , saya taruh disini. Ternyata banyak juga anak-anak yang datang kesini, akhirnya saya beli buku anak-anak buat mereka baca.”

Pak Agus Sopandi, adalah seorang pengajar. Selain sibuk dengan tugas beliau sebagai guru dan mengurus RBM Kali Atas, Pak Agus Sopandi mengikuti banyak kegiatan yang bergerak di bidang literasi seperti Forum Taman Bacaan Masyarakat, Jawa Barat Membaca, dan Tim Sinergi dengan Perpustakaan Daerah Jawa Barat.

“Saya sebetulnya tidak terlalu suka berkegiatan. Kesukaan saya adalah membaca dan menulis, namun seiring berjalannya RBM ini, saya jadi aktif mengikuti beberapa organisasi,” ceritanya Pak Agus. “Tapi sekarang saya sedang membatasi diri. Saya sedang fokus untuk menumbuhkan budaya literasi di daerah Cicalengka ini makanya saya menggagas terbentuknya Lingkar Literasi Cicalengka. Jadi kegiatan-kegiatan yang keluar saya hentikan beberapa dan menyisakan Jabaraca dan Tim Sinergi dengan Perpustakaan daerah Jawa Barat saja.”

“Orang-orang daerah ini juga harus punya wawasan. Kamu tau Mbak, gadis-gadis usia 15 tahunan disini ini sudah pada menikah. Saya kan risih melihatnya. Jadi mereka harus juga disadarkan supaya tidak menikah dalam usia yang sedemikian muda,” tambahnya lagi.

Aku memutar kepalaku lagi mengedarkan pandangan mataku ke penjuru perpustakaan yang kecil dan rapi ini. Perpustakaan ini sungguh menyenangkan. Menurut Pak Agus Sopandi, banyak kegiatan yang dilakukan di sini. Mulai dari baca dan pinjam buku, les dan kegiatan belajar lainnya, hingga rapat RT.

dokumentasi pribadi

Sebelum teman yang lain datang, dan rapat dimulai, Pak Agus Sopandi menunjukkan lemari koleksi pribadinya. Buku-buku sastra lama banyak terdapat disini seperti Ladang perminus karya Ramadhan KH, Kooong karya Iwan Simatupang, dan Pitaloka karya Tasaro. Masih banyak yang lainnya juga. Beliau juga mengkoleksi buku-buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Untung saya tidak tinggal di dekat situ, Pak…

 

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: