BERKUNJUNG KE RUMAH PELANGI BEKASI

Pagi-pagi, jam 7.15 aku sudah sampai di stasiun Cimahi untuk menumpang kereta Argo Parahyangan menuju stasiun Bekasi. Malam harinya, aku sudah janjian dengan Om Bisot, pembina di Rumah Pelangi Bekasi, untuk bertamu kesana. Beliau mengkonfirmasi iya.

Ketika sampai kereta berangkat pukul 7.30, aku kembali mengkonfirmasi Om Bisot kalau aku akan tiba di stasiun bekasi pukul 9.00. Belum ada jawaban dari beliaunya. Pukul 8.30, aku kembali menghubungi Om Bisot.

“Om, gue udah di kereta nih, bentar lagi sampe Bekasi…” kataku.

“Gue baru bangun tidur, Neng…” jawabnya. “Lo naik angkot aja ya dari stasiun Bekasinya pake yang ke arah Babelan? Ntar ketemu di warung ayu. Bilang sama supirnya lo turun di warung ayu.”

Aku menghembuskan nafas panjang.

Pukul 9 tepat kereta berhenti di stasiun Bekasi. Ketika turun dari kereta, udara panas menerpa wajahku.

“Selamat datang di Kota Bekasi yang panas dan engap,” ucapku pada diriku sendiri tidak sadar kalau setahun kemudian, akupun bermukim disini.

Di luar pagar stasiun, seorang kondektur angkot berteriak, “Babelan… Babelan…”

Aku lalu menaiki angkot berwarna merah itu. Angkot berjalan setelah semua bangku terisi. Jam menunjukkan pukul 11, tapi belum ada tanda dari supir angkot kalau aku sudah sampai di tujuan. Angkot berjalan merayap di tengah kemacetan.

“Pak, Warung ayu masih jauh?” tanyaku pada supir angkot.

“Masih Neng, itu masih ada di sono…” jawabnya.

“Sono mana coba?” tanyaku dalam hati.

Akhirnya pukul 11.30, ketika angkot berhenti di tepi jalan, Pak supir berkata, “Warung ayu, Neng…”

Aku lalu meloncat turun dan menyerahkan uang 5 ribu pada pak Supir. Setelah selesai bertransaksi, aku melihat supir angkot memutarkan kendaraannya.

“Lah, ternyata mentok disini,” kataku dalam hati.

Aku lalu celingukan mencari Om Bisot. Beliaunya, lalu muncul dari arah belakang. Setelah basa-basi singkat, aku naik ke motornya. Melanjutkan perjalanan ke Rumah Pelangi Bekasi.

***

https://www.facebook.com/pg/rumahpelangibekasi

Rumah Pelangi Bekasi berlokasi di kampung Babakan Kalibedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi. Kalau dilihat dari peta, lokasinya berada di delta tempat bertemunya Kali Bekasi dan Kali Cikarang. Tidak heran bila tempat itu bisa diterjang banjir bila curah hujan tinggi.

Melewati perkuburan Cina, Om Bisot memarkirkan motornya di tepi jalan kecil di belakang gedung tua yang menjadi gedung Rumah Pelangi itu.

“Lagi ada tamu mahasiswa banyak orang deh,” kata Om Bisot. “Di sini aja parkirnya daripada susah keluar, ntar.”

Ketika sampai di gedung itu, perasaan lega muncul. Maklum lah, sepanjang jalan sumpek dengan bangunan dan macet. Kemudian aku melihat sawah hijau membentang di sepanjang mata memandang. Di samping bangunan terdapat tulisan “Rumah Pelangi” berwarna-warni yang tegak berdiri. Anak-anak kecil sedang bermain di halaman tersebut.

“… di sini, kami menekankan pada pendidikan karakter pada anak-anak…” kata seorang pemuda, memberi penjelasan pada sekelompok pemuda-pemudi yang mengenakan seragam.

Ini tamu yang dimaksud Om Bisot…

Mereka lalu dipandu oleh pemuda tadi pergi entah kemana, sedangkan aku diajak Om Bisot masuk ke dalam gedung. Setu ruangan berisi rak dan buku-buku. Yang satu lagi seperti hall yang digelar karpet untuk mereka duduk.

“Di sini, yang anak kecil-kecil mereka diajarin sama yang namanya korlas, koordinator kelas. Kegiatannya sih ngapain aja. Mau nggambar, nukis, bikin-bikin apa. Nah, yang korlas nanti diarahin sama orang-orang yang lebih gede lagi,” kata Om Bisot.

“Banyak juga yang dateng kesini buat melakukan pengabdian masyarakat atau bikin pelatihan atau ngapain lah. Dari mana-mana mereka dateng. Biasalah dengan kekuatan sosial media. Semua orang bisa dijaring,” tambahnya sambil tertawa.

“Ye la… moga-moga dengan banyaknya orang kesini dibuka jalur transjakarta kemari ya…” jawabku.

“Yah, harapannya sih disini bukan sekedar perpustakaan tempat orang baca buku aja. Tapi tempat orang-orang berkegiatan dan berbagi banyak hal,” kata Om Bisot.

Kedatangan kami kemudian membuat orang-orang yang berada dalam gedung, yang sepertinya sedang sibuk rapat, menghentikan kegiatannya. Aku lalu disuruh Om Bisot menyalami mereka semua.

“Bentar disini mau ngadain festival. Namanya Sukamekar Culture Festival. Sekarang lagi pada sibuk persiapan,” kata Om Bisot lagi.

Aku hanya mengangguk.

Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru ruangan. Di satu tembok terdapat hasil karya anak-anak yang terbuat dari kertas dan beberapa lembar gambar. Aku mendatangi rak buku. Nampak buku-buku yang berantakan dan tidak tertata.

“Lo kayaknya mesti minta mereka beberes deh,” kataku pada Om Bisot. “Kasian buku-bukunya.”

“Iya, nanti aja beberes mah…” kata Om Bisot.

Sambil mendengarkan teman-teman relawan rapat, aku dan Om Bisot sibuk mengutak atik akun facebook yang aku gunakan untuk berjualan.

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: