PERJALANAN “HAJI” MASA LAMPAU DALAM NOVEL RINDU

dokumentasi pribadi

Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana orangtua kita (buyut, kakek-nenek) dulu melakukan perjalanan untuk berangkat (menunaikan) ibadah haji ke tanah suci Mekkah? Tentunya zaman dulu, saat belum ada pesawat terbang seperti saat ini, berangkat untuk sampai ke Baitullah Mekkah itu sangat lama dan melelahkan. Bahkan bisa berbulan-bulan hingga setahun lebih.

Namun kini bisa dihitung paling lama  40 hari, orang yang berangkat haji bisa sampai kembali di rumah, karena memang kecepatan pesawat terbang mengungguli kecepatan kapal laut yang besar di samudera atau lautan luas.

Nah, untuk mengenal bagaimana orangtua kita dulu melakukan perjalanan ibadah haji dengan menggunakan kapal sebesar “Blitar Holand”, kapal terbesar kedua setelah Titanic, kita bisa membacanya di novel Tere Liye berjudul “Rindu”. Novel ini menceritakan perjalanan seseorang berangkat ke Baitullah Mekkah, lengkap dengan cerita para awak yang lain, penumpang, kelasi maupun kapten dan para perompak.

Tere Liye, memang ahli menyusun cerita dengan bahasa yang enak dilahap. Tak terkecuali di buku “Rindu” itu. Sekilas bagi yang tak suka baca buku novel, buku itu sudah jelas berbicara tentang cinta dan kasih sayang. Memang benar, novel tanpa bumbu cinta tidak akan menarik. Namun yang lebih penting dibahas di sini, sebetulnya Rindu yang dimaksud, ini pendapat saya, adalah, si penulisnya ingin mengingatkan kembali perjalanan melakukan ibadah haji pada zaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Latar cerita novel ini ditulis sebelum tahun 1945, tepatnya Desember 1938 atau bertepatan dengan Syawal 1357 Hijriyah.

Zaman dulu meskipun belum secanggih sekarang, namun kapal kapal besar milik Belanda, sebagian dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, termasuk perjalanan ibadah haji. Dalam novel tersebut ada tokoh kelasi Ambo Uleng yang pendiam, Anna dan Elsa tokoh anak-anak kecil yang ceria, Guruta Ahmad Karaeng yang bijaksana, dan kapten Fhilips yang tegas. Ada pula serdadu Belanda yang terus mengawasi Guruta Ahmad Karaeng, karena diduga mau menghasut seluruh penumpang kapal untuk melawan Belanda.

Termasuk diceritakan bagaimana sosok pasangan suami istri yang telah sepuh, yang konsisten mempertahankan cinta kasihnya hingga usia sepuh dan cita-cita terakhirnya menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama-sama. Sepasang suami istri lanjut usia itu meninggal dunia dalam kapal dan dikuburkan dengan cara ritual darurat, yakni dimakamkan di laut, dengan cara yang unik. Yakni jenazah yang telah dikremasi dan dikafani serta dishalatkan, sosok jenazah itu diberi pemberat. Untuk selanjutnya sosok jenazah itu ditenggelamkan. Tentunya, sebelum ada keputusan itu beragam pendapat dimunculkan oleh tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel tersebut.

Novel terbitan Republika ini sangat asyik dihayati. Kita seolah melihat dan mendengarkan langsung bagaimana orangtua kita dulu berangkat haji ke Mekkah. Saya sendiri sering mendengar nenek atau kakek bercerita, bahwa dulu, berangkat haji sampai pulang kembali ke tanah air dengan selamat itu butuh waktu 9 bulan atau ada yang mencapai satu tahun lebih, tergantung situasi perjalanannya di dalam kapal ketika melintasi samudera/lautan luas. Dan perjalanannya menggunakan kapal-kapal laut yang besar.

Bagi yang suka cerita, buku novel dengan ketebalan 544 halaman itu akan selesai dibaca sehari penuh bila memang tidak ada kegiatan apapun selain fokus membaca buku itu. Tapi bisa selesai dibaca seminggu atau dua minggu, asalkan rutin perhari membaca 50 halaman misalnya. Saya sendiri selesai membacanya selama tujuh hari dengan asumsi perhari membaca tidak lebih dari 100 halaman. Itu hanya sekedar contoh. Yang penting adalah membiasakan diri membaca buku. Bisa dikurangi menjadi sehari 35 halaman, atau 15 halaman, tergantung situasi dan kondisi. Tetapi minimal dipaksakan 25 halaman setiap harinya. Itu jadwal rutin saya. Yang lain, silakan disesuaikan sendiri.

Di musim “Haji” ini, novel yang membahas perjalanan pemberangkatan haji di masa lampau akan cukup menghibur siapapun yang merindukan bagaimana orangtua zaman dulu, bisa kuat dan tahan banting serta ikhlas menunaikan ibadah rukun Islam yang ke-lima itu. Padahal pada saat itu, Indonesia belum merdeka. Perjalanan ke luar kota saja mendebarkan serta sangat menakutkan, karena banyak serdadu Belanda yang mengawasi. Apalagi perjalanan ke luar negeri.

Novel Rindu adalah jawaban rasa haus penasaran itu, betapa orangtua kita dulu bisa hidup tangguh dan bijaksana, meski zaman belum secanggih dan secepat informasi saat ini.

Herik Diana

Perintis dan pengelola TBM Haidar Di Desa Cisambeng Kec. Palasah Kabupaten Majalengka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: