TRANSFORMASI PERPUSDES CIBODAS: DARI TERTINGGAL HINGGA TERDEPAN

dokumentasi pribadi

Namaku Nia kurniasih, teman-teman memanggilku Bu Ni. Aku lahir di Kota Subang, 23 november 1981. Ssekarang aku berdomisili di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2000 lalu karena mengikuti tugas suami. Di Desa Cibodas aku mendedikasikan diri mengikuti berbagai organisasi perempuan seperti PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Kader KB (Keluarga Berencana), PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) dan terakhir mengelola perpustakaan.

Aku bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kegiatan di perpustakaan desa Cibodas, terutama sejak bergabung dengan program PERPUSERU tahun 2016. Karena hobi membaca, aku menerima tanggung jawab ini dengan senang hati. Aku menjalankan berbagai kegiatan bersama rekan-rekan pengurus yang lain, bekerja keras mengejar ketertinggalan program, dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis Teknologi Informasi. Melalui berbagai kegiatan pelibatan masyarakat seperti pelatihan-pelatihan, seminar, diskusi, dan kemitraan dengan usaha mikro sedikit demi sedikit kami dapat merubah paradigma masyarakat tentang perpustakaan. Perpustakaan yang tadinya nyaris tenggelam dengan majunya teknologi sekarang menjadi tempat edukasi yang menyenangkan.

***

Sedikit berkeringat dingin saat mulai menaiki tangga pesawat yang akan membawa kami ke kota Jogjakarta, untuk melaksanakan Regional Peer Learning Meeting (RPLM) mitra program Perpuseru Coco Cola Fundation Indonesia (CCFI). Maklumlah untuk pertama kalinya aku naik pesawat. Di sebelahku duduk Teh Imas. Beliau teman duduk yang menyenangkan. Beliau membantu memberikan rasa nyaman sehingga aku peluknya sepanjang penerbangan. Meski pertama bertemu tapi beliau sangat bersahabat.

Akhirnya kami mendarat di Bandar Udara Adisucipto Jogjakarta dengan selamat dan disambut oleh tim PERPUSERU dengan 2 armada jemputan. Kami kemudian menuju hotel tempat menginap selama di Jogja. PERPUSERU menyediakan 2 hotel yaitu 101 dan Santika yang berada kota Jogjakarta. Aku mendapat tempat di Hotel Santika. Saat kami sampai di Hotel Santika, kami disambut senyum ramah para petugas registrasi dari PERPUSERU dan pihak hotel. Setelah mendapatkan kunci kamar lantai 2 tempat aku menginap, aku langsing ke kamar mandi untuk segera mendapat guyuran air hangat, menghilangkan keringat yang menempel di badan, dan menunaikan solat magrib. Agenda malam ini adalah menyiapkan lapak pasar jongkok yang ada di lobi hotel, bersama rekan-rekan dari PERPUSDES dan TBM yang lain.

Pada RPLM ini aku mewakili Perpustakaan Desa Cibodas. Aku tidak hanya hadir sebagai peserta tetapi jadi panelis untuk tema peran perpustakaan dalam mendorong usaha mikro. PERPUSERU membawaku terbang menembus batas, dengan pengetahuan yang menjadi kekuatan, dan aku adalah impact terdepan Perpustakaan Desa Cibodas, yang mentransformasi diri untuk hidup lebih baik karena perpustakaan menyediakan ilmu yang tak terbatas.

Pagi hari pada tangga 3 oktober 2017, saatnya kami memulai “kuliah”kami di RPLM ini. Aku masih di balik selimut karena mata masih berat efek begadang menyiapkan pasar jongkok semalam. Namun aku harus bergegas bangun menyiapkan presentasi di kelas peminatan. Aku melewatkan sarapan di pagi. Acara pembukaan di mulai jam 08.00 di Ballroom Hotel Santika. Acara dipandu oleh Mas Anang dan Mbak Cici. Dalam sambutannya di pembukaan tersebut, mbak Erlin selaku direktur program PERPUSERU menyampaikan,dalam Regional Peer Learning Meeting yang bertema perpustakaan kreatif dan inovatif menuju masyarakat sejahtera, semua peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Datang dengan rendah hati untuk saling belajar. Tidak hanya bicara tapi belajar mendengar dari sesama pustakawan. Pembukaan yang penuh kejutan, memukau, dan luar biasa ini diselingi cerita para penerima impact perpustakaan dari berbagai daerah dan dilanjut ke kelas peminatan setelah jam makan siang.

Selama 2 hari, peserta disibukan dengan jadwal acara, kelas besar di pagi hari,dan kelas peminatan setelah jam makan siang berlangsung. Aku menjadi salah satu panelis di hari pertama kelas A, dengan tema peran perpustakaan dalam mendorong usaha kecil bersama 4 rekan lain yang sama-sama jadi panelis ada yang dari TBM pengelolaan lingkungan cibungur, ada yang dari TBM Asyifa Pembangunan, ada yang dari TBM Bening Saguling, dan ada yang dari PERPUSDES Cililin.

Kami berbagi pengalaman dengan sesama pustakawan dari provinsi Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan DIY dalam menjalankan peran perpustakaan sebagai  pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis Teknologi informasi. Semua materi penting, semua sesi berkesan, bahkan saat owner Gumeulis Echi berbagi cerita kesuksesan usahanya, berkat berkegiatan di TBM Citapen Berkah.

Semua sesi berakhir,gala dinner adalah sesi penutup. Memakai baju pangsi untuk laki-laki dan kebaya merah untuk perempuan adalah dress code Kabupaten Bandung Barat. Peserta RPLM sudah hadir dengan dress code-nya masing-masing, kebinekaan begitu kental namun rasa persatuan lebih mendominasi.

Sesaat ruangan gelap…. Sunyi… Kemudian hentakan musik membahana. Acara awarding dipandu bergantian oleh Tim perpuseru Jakarta. Yudhi,Angga and the Crew yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat pun beraksi dengan musik dan tarian, serta flash mop yang diikuti semua peserta. Acara awarding, yaitu pemberian penghargaan untuk 10 PERPUSDA terbaik, 10 TBM/PERPUSDES terbaik yang melakukan transformasi, 5 Desain lapak terbaik, 5 tokoh inspiratif,dan 1 PERPUSDES yang menjadi best of the best. Video impact terbaik diraih oleh PERPUSDES Jendela Dunia Mekarmukti dan PERPUSDES Giriasih. Salah satu tokoh inspiratif adalah ibu KADIS ARPUS KBB, dan 2 PERPUSDES terbaik yang melakukan transformasi,diraih PERPUSDES Nanggeleng dan PERPUDES Cibodas.

dokumentasi pribadi

Mendapat predikat itu sangat mengejutkan karena kami yang pernah nyaris di blacklist dari program dan kami yang pernah tertinggal program. Ucapan selamat dari rekan dan sahabat yang berada di kiri kananku membuyarkan keterkejutan itu. Mereka mendorongku ke panggung diikuti kang Yedi dari PERPUSDES Nanggeleng. Kami 2 bersahabat… Entah berapa panjang cerita perdebatan dan diskusi kami untuk program di perpustakaan. Aku yang masuk ke program perpuseru nyaris tanpa pengetahuan, ternyata memiliki sahabat luar biasa yang tak pelit dengan ilmu. Peran fasilitator juga sangat lah besar…. Keluarga, teman, sahabat, dan lembaga telah memberi kepercayaan besar untuk menjalankan program perpustakaan.

Masih tergambar dengan baik saat dalam kebingungan. Kami diberi waktu 2 minggu untuk menyelamatkan program yang tertinggal. Aku yang shock teknologi tiba – tiba harus menjalankan program perpustakaan yang berbasis TIK. Berawal dari chat fasilitator Iwan Gumilar yang menanyakan keberlanjutan program serta rencana penarikan program perpuseru dari Perpusdes Cibodas. Aku kemudian berdiskusi dengan kaur kesra untuk menyelamatkan nama baik desa kami. Dan akhirnya dengan bimbingan dari banyak pihak, kami bisa sampai di sini.

Nia Kurniasih

Pengelola Perpusdes Cibodas, Kabupaten Bandung Barat

3 thoughts on “TRANSFORMASI PERPUSDES CIBODAS: DARI TERTINGGAL HINGGA TERDEPAN

  1. Ibu Nia yang baik, semangat terus memanjat pohon kebajikan untuk selalu menjadi pejuang literasi bagi masyarakat Bandung Barat. Erlyn – PerpuSeru

    1. Terima kasih untuk apresiasi nya mba Erlin,PERPUSERU membuat saya kuat untuk terus memberdayakan diri dan mendekatkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat,terus bimbing dan kawal kami,agar terus berproses menuju sukses yg sesungguhnya,menjadi pribadi yg Istiqomah dan bermanfaat bagi orang banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: