MERASA PINTAR, BODOH SAJA TAK PUNYA

dokumentasi pribadi

Kemarin, hari sabtu tanggal 14 september 2017, ada acara Sore Bersama Cak Rusdi yang bertempat di kediaman Cak Rusdi di daerah Jakarta Selatan. Kemudian saya teringat dengan buku kumpulan cerita yang ditulis oleh Cak Rusdi yang berjudul: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Buku ini awalnya adalah kumpulan tulisan berseri yang dimuat disitus mojok.co. Sejak pertama kali tayang kisah sufi dari Madura yang bernama Cak Dlahom digemari oleh orang banyak. Tidak hanya Cak Dlahom, ada juga tokoh yang bernama Mat Piti, Romlah, Pak Lurah, Bunali dan lainnya yang turut meramaikan serial tersebut. Kemudian kisahnya dibukukan oleh penerbit Buku Mojok.

Cak Dlahom adalah seorang duda tua yang hidup di dekat kandang kambing Pak Lurah. Ia adalah tokoh utama dari buku ini. Dia suka mengomentari dan memulai perbincangan mengenai subtansi ibadah, yang membuat para tetangganya merenungkan kembali pemahaman mereka tentang agama Islam. Kisah ini berlatar di sebuah desa di Madura. Selain pokok obrolannya itu sendiri, keseharian Cak Dlahom dan tetangganya juga dijalin bersambung dalam buku ini. Aliran kisah ini yang menentukan pembabakan buku ini sehingga menjadi kronologis.

Seperti yang disebut di atas, naskah dalam buku ini mulanya dimuat dalam situs web mojok.co sebagai serial Ramadan selama dua tahun berturut-turut pada tahun 2015 dan 2016. Latar penulisan inilah yang membuat buku ini dibagi dalam dua bab besar: Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua. Beberapa judul artikel ada yang diubah oleh sang penulis.

***

Salah satu yang berkesan bagi saya adalah cerita yang berjudul: Ikan Mencari Air, Mat Piti Mencari Allah.

Pada kisah sebelumnya, Cak Dlahom mempertanyakan tentang syahadat yang dibaca oleh Mat Piti. Mat Piti yang penasaran dengan penjelasan Cak Dlahom tentang Syahadat, keesokan harinya, sehabis Tarawih, Mat Piti segera ke rumah Cak Dlahom. Mat piti ingin Cak Dlahom menjelaskan lebih dalam soal “menyaksikan”, tetapi sayangnya Cak Dlahom tidak ada di rumah. Setelah mencari kesana kemari akhirnya Mat Piti menemukan Cak Dlahom berada di pinggir kali yang penuh dengan ikan-ikan kecil di dekat kuburan kampung.

“Ada apa Mat, kok wajahmu seperti habis disiram air?” Tanya Cak Dlahom.

“Soal syahadat itu Cak, apa maksudnya ‘menyaksikan’?” Tanya Mat Piti pada Cak Dlahom.

“Kenapa, kamu ingin tahu?”

“Ya karena saya ingin menyaksikan dan melihat Allah, Cak”

“Mencari Allah kok malah datang ke aku?”. Sahut Cak Dlhaom. “Kamu pernah melihat ikan-ikan di kali ini kan?”

“Iya, pernah Cak”

“Suatu hari ikan-ikan itu melompat keluar kali dan bertanya: dimana air?”

“Bertanya ke sampean Cak?

“Ini cerita Mat…”

“Oh, saya kira ikan-ikan itu bertanya ke sampean. Terus Cak…”

“Ikan-ikan itu tidak tahu bahwa selama ini mereka sudah berada di air. Setiap saat.”

“Kok lucu sih ikan-ikan itu. Ada di air malah mencari dimana air.”

“Sama lucunya dengan kamu Mat.”

“Kok saya Cak?”

“Karena kamu selalu bertanya dan ingin mencari Allah, padahal Allah meliputimu setiap saat. Lebih dari denyutan nadi yang paling halus yang pernah kamu dengar dan rasakan.”

“Iya Cak, terimakasih saya diberi tahu…”

“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenal Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah. Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya…”

“Ya Allah… astagfirullah… subhanallah… Betapa bodohnya saya Cak…”

***

Cerita tersebut adalah salah satu contoh ketika Cak Dlahom mempertanyakan substansi syahadat hingga Mat Piti merenungkan kembali pemahamannya tentang agama yang dianutnya.

Allan Maullana

Penulis di kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: