MEMBACAKAN CERITA : MENGENALKAN BUKU DAN MENGAJAK CINTA BUKU

 

dokumentasi pribadi

Membacakan cerita adalah kegiatan sederhana yang bisa dilakukan semua orang. Mengapa sederhana ? Karena tidak perlu keterampilan khusus seperti mendongeng, siapa saja yang sudah bisa membaca pasti bisa membacakan cerita. Lain halnya dengan mendongeng, perlu keterampilan khusus, bahkan sering harus pandai melucu.

Awalnya, kegiatan membacakan cerita di Rumah Baca Jatibening (RBJ) Bekasi, dilakukan seminggu sekali, setiap hari Jumat. Seiring dengan banyaknya pengunjung Balita dan siswa SD yang belum bisa membaca, kegiatan itu bisa dilakukan kapan saja, spontan, sesuai kebutuhan. Membacakan cerita sangat penting untuk mengajak anak-anak suka membaca, karena menurut Orville J. Prescott (Bapak dua anak laki-laki dan pembaca cerita) : Tidak banyak anak yang suka membaca atas kemauannya sendiri, harus ada orang lain yang mengenalkan buku dan mendorongnya untuk cinta buku.

RBJ adalah taman bacaan anak-anak yang mempunyai konsep penguatan minat baca dan kemampuan dasar. Membacakan cerita merupakan layanan utama. Kegiatan membacakan cerita selain yang spontan, juga ada yg rekreatif dengan membuat acara “icip-icip” setelah membaca buku.

Saat membacakan cerita dari buku “Toko Pizza Barnie Beruang”. Sehabis diceritakan anak-anak disuguhi pizza. Disebut “icip-icip” karena satu loyang pizza yang harusnya untuk delapan orang itu, dibagi lagi menjadi potongan kecil karena yg datang 22 orang! Anak-anak senang dan memperoleh pengetahuan tentang apa itu pizza, bagaimana rasanya, darimana asalnya, bagaimana cara membuatnya dan pekerjaan apa saja yang ada di toko pizza itu. Selama ini anak-anak hanya kenal profesi tukang ojek, buruh bangunan, insinyur, dokter, dsb. Ternyata di toko pizza selain koki, ada sisten koki, pelayan, kasir dan pengirim pesanan. Dengan membacakan cerita kita harus menggiring anak-anak supaya menyadari bahwa “baca buku, banyak tahu” Dan dari pengalaman selama ini, selesai dibacakan cerita anak-anak biasanya mencari lagi bukunya :”Bu, buku yang diceritakan kemarin, nyimpennya dimana ?”

Saya sering membacakan buku-buku yang kurang diminati, baik karena covernya kurang menarik ataupun karena ketebalan bukunya yang bikin anak malas membaca, ternyata respon sesudahnya selalu positif. Kurangnya minat baca pada anak-anak bisa kita bantah. Bagaimana mau minat jika bukunya tidak ada ? atau bukunya ada tapi anak malas membaca ? Makanya harus ada yang menuntun, membacakan ceritanya.

Untuk masalah buku ini saya ingin menyarankan kepada para pengelola TBM, untuk tidak pasrah saja menerima sumbangan buku. Minat baca juga ditentukan oleh adanya buku yang sesuai atau disukai pembacanya. Jika niat mendirikan TBM itu sosial, tentunya harus dipikirkan bagaimana cara untuk memenuhi biaya operasional sehari-hari, termasuk pengadaan buku. Saat mendirikan TBM tentu kita melihat apa yang dibutuhkan masyarakat sekitar. Data ini harusnya menjadi dasar pemilihan/pembelian buku tersebut. Sehingga upaya kita meningkatkan minat baca benar-benar bisa berhasil.

Saat ini (RBJ) sedang membuat beberapa video membacakan cerita, beberapa sudah diunggah di channel RBJ di Youtube. Video Membacakan Cerita dari RBJ merupakan upaya untuk memperluas jangkauan sehingga kegiatan membacakan cerita ini bisa dinikmati oleh anak-anak dimana saja termasuk di dalamnya penyandang tunanetra. Ketiadaan atau minimnya koleksi buku bacaan anak yang baik, di Taman Bacaan-taman bacaan di berbagai tempat, mudah-mudahan dapat terbantu dengan ‘menonton’ video membacakan cerita di : https://www.youtube.com/channel/UCPx2mHCjqBMuihBmQpTnNdQ

Buku yang dibacakan merupakan buku-buku pilihan yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak-anak. Taman Bacaan-taman bacaan yang sudah memiliki komputer bisa melakukan pelayanan ini kepada pengunjungnya, demikian pula para orangtua yang sibuk dapat mengarahkan putra-putrinya untuk menonton video ini, sebagai pengganti saat tidak sempat membacakan cerita sendiri. Ini juga upaya untuk menyiasati anggapan bahwa anak-anak sekarang lebih suka ‘bermain’ gawai daripada membaca buku. Kemajuan teknologi mari kita manfaatkan, jangan malah dijadikan Kambing Hitam.

Saya berharap setelah anak dibacakan cerita, orangtua, guru atau pengelola TBM melakukan tanya jawab tentang buku yang sudah dibacakan. Sejak mengenalkan buku, biasakan anak-anak untuk mengenal siapa tokohnya, bagaimana ceritanya, dimana kejadiannya, apakah akhir ceritanya menggembirakan atau menyedihkan ? dan sebagainya.

Pada setiap kunjungan ke RBJ saya hanya mewajibkan anak-anak membaca satu buku saja, tapi harus selesai dan tahu isi ceritanya. Jika mau baca dua atau lebih tentu saja tidak dilarang. Ada satu quote yg saya comot dari Rumah Pintar SIKIB yaitu “Bacalah buku, lalu ceritakan isinya pada teman-temanmu”. Maksudnya adalah ajakan agar teman-temannya tertarik dan kemudian membaca buku yang sudah dibacanya itu. Sayang jika buku bagus hanya dibaca oleh satu orang saja!

 

Ina Syamsuri

Pengelola Rumah Baca Jatibening Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: