CERITA PAK SUGENG MEMBANGUN MOTORPUSTAKA

dokumentasi pribadi Agus Munawar

Beberapa Minggu lalu, saat bersilaturahmi dengan Pak Agus Munawar yang saat itu sedang bertugas di Kota Harapan Indah Bekasi, aku dan Kak Alan bertemu dengan Pak Sugeng Haryono. Pak Sugeng adalah pegiat literasi yang pernah diundang makan siang oleh Presiden Jokowi.

“Ini Mas Sugeng, Meta, Allan,” kata Pak Agus memperkenalkan Pak Sugeng. “Beliau ini penggerak motor pustaka dari Lampung. Yang kalau liat di media massa, motornya dinaiki oleh pak Jokowi.”

dokumentasi pribadi Sugeng Haryono

Kamipun kemudian bersalaman dan berkenalan. Mula-mula, Pak Agus menanyakan kabar dan kegiatanku. Setelah aku menjawabnya, aku mendengar Kak Alan menanyakan bagaimana awal mula Pak Sugeng menjadi pegiat literasi.

“Saya itu asalnya orang Jawa, Mas, orang Ponorogo,” kata Pak Sugeng memulai ceritanya saat kami duduk di sebuah restoran cepat saji. “Saya merantau ke Lampung tahun 2013 tanpa tujuan alamat yang jelas.”

“Walah, pantes logatnya gitu,” gumamku dalam hati. Entah kenapa, logat orang Jawa Timur memang khas untuk dikenali.

“Kemudian di Lampung, tepatnya di Pematang Pasir, saya bertemu Pak Basuki, yang memberikan saya tumpangan hidup. Beliau punya bengkel dan saya awalnya membantu Pak Basuki di bengkelnya. Nah, bengkel Pak Basuki kan buka hanya saat siang sampai sore. Kalau malam tutup. Saya jadi bingung mau ngapain,” Lanjut Pak Sugeng. “Saya memang dasarnya suka membaca, Mas. Kalau di Jawa saya sering ke perpustakaan daerah. Di Lampung juga saya mau ke perpustakaan daerah. Tapi nanya-nanya perpustakaan ada di mana, orang yang saya tanya malah jawab,’perpustakaan itu apa’. Jadi sejak saat itu saya bertekad. Saya mesti bikin perpustakaan di sini.”

Pak Sugeng mengambil minumannya dan meneguknya.

“Suatu hari, saya bilang pada Pak Basuki untuk membuka tambal ban di dekat bengkelnya,” kata Pak Sugeng melanjutkan cerita. “Pak Basuki merestui. Bahkan dia bilang uang dari hasil tambal bannya buat saya semua. Nah dari situ saya kemudian mengumpulkan uang untuk membangun perpustakaan yang saya impikan. Dua bulan jadi tukang tambal ban, saya punya uang untuk beli Motor GL MAX tahun 1986 di tukang rongsokan. Ya, namanya motor di tukang rongsok ya kayak gitu. Mesin mati, roda gak ada. Baru bulan Maret tahun 2014, motor itu udah bisa jalan. Trus saya beli buku di tukang rongsok juga. Karena orang-orang belum kenal dengan buku dan perpustakaan, jadinya saya buat perpustakaan berjalan.”

“Tadinya orang-orang penasaran. ‘Ini tu apa?’ atau ada yang tanya, ‘kamu jualan apa?’” cerita Pak Sugeng lagi sambil beliaunya mengenang masa itu. “Tapi ya pelan-pelan saya kasih tau kalau yang saya bawa ini namanya motorpustaka. Ini perpustakaan keliling yang orang bisa pinjam bukunya dan membaca bukunya gratis. Setelah 2 bulan berkeliling menawarkan buku-buku itu,saya merasa minat baca orang-orang mulai tumbuh. Nyatanya mereka terus membaca buku yang saya bawa dan suatu saat menanyakan, ‘bukunya ada yang baru gak?’”

dokumentasi pribadi Sugeng Haryono

“Karena uang saya pas-pasan, gak mungkin beli buku lagi. Akhirnya saya door to door meminta sumbangan buku dari masyarakat. Waktu itu dapet 42 buku, kemudian saya putar lagi, sebulan kemudian udah pada minta buku baru lagi,” Pak Sugeng melanjutkan ceritanya. “Saya sempat bingung… gimana lagi ini… Saya merasa gak bertanggung jawab gitu, Mas. Saya yang mengenalkan mereka pada buku masak saya gak nyediain bukunya. Waktu saya iseng buka facebook, dan mengobrol dengan teman-teman, ada yang menyarankan saya untuk meng-upload foto motorpustaka di facebook. Nah, dari situlah donasi buku dalam jumlah yang lebih besar datang baik dari perorangan maupun dari komunitas.”

“Wah, kekuatan media sosial itu emang nyata ya,” celetukku memotong cerita Pak Sugeng.

“Ya, begitulah, Mbak,” kata Pak Sugeng.

Obrolan kami kemudian bergeser tentang peran perpustakaan dalam perubahan hidup masyarakat menjadi lebih baik.

“Ya kalau mau contoh nyata ya saya menunjuk diri saya sendiri,” kata Pak Sugeng. “Saya yang tadinya tukang tambal ban, walaupun sambil menjalankan motorpustaka, sekarang saya sudah bisa mengumpulkan modal untuk menjual bensin eceran.”

Aku memperhatikan cerita Pak Sugeng. Membuat perpustakaan di tengah masyarakat yang awalnya belum mengenal buku hingga kini mereka sering meminta buku baru, pasti bukan perkara yang mudah. Seorang perantau, untuk hidup saja kadang butuh perjuangan. Apalagi sambil berkegiatan sosial seperti ini. Tapi aku melihat Pak Sugeng adalah orang yang penuh semangat.

dokumentasi pribadi Sugeng Haryono

Tiba-tiba ada pengumuman bahwa tempat kami memarkir kendaraan hendak ditutup. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 9 malam. Kami pun terpaksa mengakhiri perbincangan sampai disini.

“Kalau ada waktu, main-main ke Lampung ya,” ajak Pak Sugeng.

Aku dan Kak Alan hanya mengangguk sambil berkata, “Insya Allah.”

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

One thought on “CERITA PAK SUGENG MEMBANGUN MOTORPUSTAKA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: