BERSAMA PERPUSJAL BEKASI MENUJU TBM TERASUKA

foto dari https://web.facebook.com/bayu.nggakpenting

“Seperti sebelum-sebelumnya, sesekali teman-teman pelapak gelaran buku keluar dari sarangnya di danau Duta Harapan. Dan kali ini berangkat dari donasi buka bersama yang tersisa Muara Gembong menjadi tujuan untuk melakukan sedikit santunan sekaligus sedikit memberi peralatan kegiatan untuk belajar. Seperti yang kita ketahui daerah pesisir Bekasi sering terdengar kabar terjadi ketimpangan sosial. Silakan yang ingin ikut andil berdonasi?”. Update status Mas Bayu pada sebuah media sosialnya.

Mas Bayu adalah seorang pemuda dari Bekasi yang menginisisasi perpustakaan jalanan yang diberi nama Perpusjal Bekasi. Sebuah gerakan perpustakaan jalanan yang biasa ia lakukan di danau Duta Harapan, Bekasi. Setelah saya mengetahui posting-an status tersebut, sayapun merasa tertarik dengan kegiatan yang Mas Bayu dan teman-teman Perpusjal Bekasi akan lakukan di sebuah taman baca masyarakat yang dikenal dengan nama TBM Terasuka. TBM Terasuka Berada di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kab. Bekasi. Merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bekasi yang terletak di pesisir pantai. Tepian laut Jawa. Menurut Google Maps sih, TBM Terasuka berjarak 69 km dari rumah saya yang berada di pusat Kota Bekasi. Dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam 49 menit.

Saya tidak peduli seberapa jauh jaraknya, Minggu 22 Oktober 2017 saya dan Teh Meita segera berkemas. Tepat pukul 07.00 kami sudah bertolak dari rumah untuk menuju titik temu dengan teman-teman Perpusjal Bekasi di masjid At-taqwa, kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Dalam perjalanan, saya dan Meita tiba lebih dahulu di titik temu tersebut pukul 07.15. Hampir 30 menit kami menunggu rombongan teman-teman Perpusjal Bekasi dan pada akhirnya merekapun tiba di titik temu pukul 7.45. Tidak ingin membuang waktu, saya, Teh Meita, Mas Bayu dan teman-teman dari Perpusjal Bekasi lainnya melanjutkan perjalanan ke tujuan kami: TBM Terasuka.

dokumentasi pribadi

“Kak Allan, ini kapan sampainya?” teriak Teh Meita dari belakang. Sebab sudah lebih dari 1 jam kami telah melakukan perjalanan. Dari jalanan yang beraspal mulus, bergelombang, jalan beton yang rapih dengan pemandangan rumah-rumah warga hingga kami menapakan si karet bundar roda sepeda motor ke jalan tanah merah yang bergelombang dan berdebu dengan pemandangan hutan bakau. Sampai disinipun kami masih belum tiba di TBM Terasuka. Siapa yang tidak seneweng, duduk di atas sepeda motor yang jalannya lambat seperti keong akibat jalan yang masih belum beraspal. Bisa saya bayangkan ketika hujan turun jalanan ini berubah menjadi tanah merah yang lengket dan licin. Sungguh betapa beratnya medan perjalanan jikalau hujan turun. Hari minggu yang cerah ini kami sangat bersyukur karena cuaca begitu bersahabat, sehingga kami tidak mengalami hal-hal menakutkan yang saya bayangkan apabila hujan turun.

Jam tangan berwarna hitam yang saya kenakan menunjukan pukul 09.55. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat sementara kami masih belum tiba di TBM Terasuka. Di jam yang sama kami sejenak melepas lelah, menghilangkan haus dahaga, serta mengisi kekosongan perut dengan cemilan yang dijual pada sebuah warung kecil, di depan kantor kecamatan Muara Gembong, tempat kami beristirahat. Di waktu dan tempat yang sama juga kami menunggu Mbak Ira selaku pengelola TBM Terasuka untuk menjemput dan akan menuntun kami menuju lokasi. Tak perlu menunggu waktu lama, ketika kami sudah menghabiskan beberapa bungkus cemilan dan meneguk air mineral kemasan botol, Mbak Ira pun datang. Kemudian kami semua melanjutkan perjalanan.

Setelah bertemu dengan Mbak Ira perjalanan terasa sedikit memacu detak jantung, kami harus menyebrang sungai Citarum menggunakan jembatan gantung. Jembatan gantung berwarna merah yang hanya bisa dilalui sepeda motor dengan cara bergantian. Pasalnya jembatan gantung ini hanya bisa dilalui satu arah saja. Di bawah jembatan tersebut terdapatlah sungai Citarum yang menurut saya cukup lebar dan dalam. Perahu-perahu nelayan yang saya kira ukurannya cukup besar bisa berjalan di sungai tersebut dengan cepat dan lancar tanpa hambatan karena sungai yang besar. Jembatan ini tiba-tiba bergoyang ketika laju sepeda motor tak stabil meliuk ke kanan-ke kiri. Jantung semakin berdebar, tanda rasa ketakutan. Seraya bibir saya merapal doa “Bismillah… Bismillah… Bismillah…”. Akhirnya kami sampai di seberang sungai tersebut dengan perlahan namun pasti. Sesampai di seberang sungai Citarum kami masih melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 11.00 kami tiba di TBM Terasuka. Sungguh, perjalan yang begitu jauh dan memakan waktu kurang lebih 3 jam dari rumah saya.

dokumentasi pribadi

Saya cukup senang melihat wajah ceria teman-teman Perpusjal Bekasi ketika tiba di TBM Terasuka kemudian berseru “Allhamdulillah… akhirnya sampai juga…”. Saya pun bernafas lega ketika melihat adik-adik kecil menyapa kami dengan wajah polos dan ceria mereka sambil mengucap: “Halo… Kakak, silakan memperkenalkan diri”.  Tanpa pikir panjang Mas Bayu selaku pemimpin rombongan memperkenalkan diri kalau kami dari Perpusjal Bekasi bertujuan untuk sedikit berbagi keceriaan bersama adik-adik TBM Terasuka.

Mas Bayu dan teman-teman Perpusjal Bekasi memulai acara dengan berinteraksi ke adik-adik TBM Terasuka. Sedikit berbincang, menanyakan nama, usia, tingkat pendidikan kemudian cita-cita mereka. Dengan penuh keyakinan dan percaya diri adik-adik TBM Terasuka menjawab pertanyaan yang dilontarkan satu per satu dari teman-teman Perpusjal Bekasi. Jawaban yang cukup beragam. Ada yang duduk di bangku Sekolah Dasar, Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Ada pula yang masih mengenyam pendidikan anak usia dini. Cita-cita merekapun beragam. Ya, memang cita-cita yang anak kecil miliki pada umumnya: Dokter, Guru, TNI, Polisi, sampai ada yang bercita-cita menjadi koki dan astronot. Sebuah cita-cita yang tidak pernah terbayang pekerjaanya apa dan bagaimana oleh adik-adik kecil ini. Namun, kehadiran teman-teman Perpusjal Bekasi memberi pencerahan tentang bagaimana pekerjaan dari cita-cita yang adik-adik TBM Terasuka inginkan.

Waktu begitu cepat berlalu, jam dinding TBM Terasuka menunjukan pukul 12.00 siang. Sudah waktunya adik-adik kecil itu pulang ke rumah masing-masing. Mereka harus pulang walaupun kami masih ingin bersama mareka, jiwa kami masih ingin bersama mereka. Dengan mengucapkan salam dan sampai jumpa kembali adik-adik kecil itu pulang ke rumah masing-masing. Terkecuali kami yang masih ingin beristirahat dan menikamati semilir angin di pantai Beting yang tidak jauh dari TBM terasuka.

dokumentasi pribadi

Allhamdulillah semua berjalan dengan lancar walau jalanan terjal dan berliku harus kami lalui. Halangan, rintangan tak menjadi beban pikiran. Cuacapun bersahabat. Kami juga bersyukur Perjalanan pergi dan pulang tidak mengalami kendala apapun. Dalam perjalanan pulang saya bersama Meita berpisah dengan teman-teman Perpusjal Bekasi di persimpangan jalan menuju pasar Babelan. Begitu juga Mas Bayu dan teman-teman Perpusjal Bekasi lainnya melanjutkan perjalanan pulang. Semua senang, semua bahagia, dan semua pulang dengan kisahnya masing-masing.

Allan Maullana

Penulis di kompasiana

6 thoughts on “BERSAMA PERPUSJAL BEKASI MENUJU TBM TERASUKA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: