BERSAMA PERPUSTAKAAN PABUKON SABA DESA: DARI BAWAH MENUJU PUNCAK

Nama saya Cecep Jaja, usia 29 tahun. Saat ini saya dipercaya untuk mengelola perpustakaan desa Margamukti yang berada di desa Margamukti, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Perpustakaan desa Margamukti, yang bernama Pabukon Saba Desa berdiri tahun 2007. Saat itu, ketua karang taruna desa yang bernama Asep Syamsudin bersama rekan-rekan yang lain mendirikan perpustakaan desa. Saya sendiri baru bergabung dengan perpustakaan pada tahun 2011. Namun selama perpustakaan desa berdiri, saya sering memperhatikan kegiatan yang ada di perpustakaan.

Saya ingin ikut namun merasa minder karena saat itu pengelola perpustakaan desa hampir semuanya bekerja sebagai guru. Apalah saya yang bekerja sebagai pedagang. Saya hanya lulusan SD dan baru belakangan ini mendapat ijazah kejar paket B. Dari kecil, saya punya impian untuk bisa membantu orang. Oleh karena itu saya bergabung dalam organisasi karang taruna di RW tempat saya tinggal karena karang taruna memang wadah untuk melakukan kegiatan sosial.

Pada tahun 2010 akhir, karang taruna RW saya diundang untuk berkegiatan di kompleks desa. Saya datang bersama teman-teman dari RW. Dalam kegiatan tersebut, saya bertemu dengan ketua pengelola perpustakaan desa dan diminta untuk ikut mengelola perpustakaan.

Pada tahun 2011, saya resmi bergabung dengan pengelola perpustakaan. Karena saat itu perpustakaan belum mendapat anggaran dari desa, maka saya berusaha untuk mencari mitra atau sponsor yang mau membantu kegiatan di perpustakaan. Dana dari sponsor maupun mitra juga tidak serta merta ada. Akhirnya untuk mengisi kas perpustakaan, saya dan rekan-rekan pengelola mengajukan program Bank Sampah.

dokumentasi pribadi

Saya membaca di beberapa buku referensi bahwa sampah bisa dijadikan bahan ajar. Bisa juga didaur ulang menjadi bahan baku sebuah produk sehingga sampah ini bisa menjadi sumber penghasilan. Anak-anak, ibu-ibu, dan warga yang lainnya yang ada di sekitar komplek desa kami undang untuk bersosialisasi terkait cara pengolahan sampah. Kegiatan Bank sampah dan pelayanan baca-pinjam di perpustakaan ini terus berlanjut pada tahun 2012.

Tahun 2012, terjadi proses pergantian kepala desa dari Bapak Aceng Komarudin ke Bapak Agus Suherman. Saat itu Pak Agus belum mendalami kegiatan perpustakaan dan Bank Sampah. Malahan, ruangan perpustakaan akan dibangun menjadi gedung pelayanan desa. Sehingga, perpustakaan desa harus pindah. Kami dipindahkan ke rumah kosong milik perusahaan perkebunan PTPN di kampung Kertamanah.

Walaupun dipindahkan ke tempat yang agak jauh dari kompleks desa, semangat saya dan rekan-rekan tidak surut. Tempat yang baru tersebut kami jadikan pusat kegiatan belajar masyarakat dan tempat pengajian anak-anak selain sebagai perpustakaan, tempat baca dan pinjam buku, dan Bank Sampah.

dokumentasi pribadi

Pada tahun 2013, kami diundang oleh stakeholder ke kantornya untuk mengajukan apa-apa yang sekiranya diperlukan. Kamipun meminta gerobak dan timbangan kilo. Alhamdulillah, tanpa proposal timbangan dan gerobak tersebut langsung dikirim ke tempat kami. Bulan Maret pada tahun 2013, Bank Sampah resmi diluncurkan, ada juga kegiatan pemilihan raja dan ratu buku, serta penandatanganan MOU dengan PT Star Energy Geothermal.

Pada tahun 2014, saya dan Pak Asyam, pengelola perpustakaan yang lain, mendekati kepala desa untuk mengembalikan perpustakaan desa ke kompleks desa. Alasannya karena banyak masyarakat yang menginginkan perpustakaan kembali ke kompleks desa. Mereka merasa kampung Kertamanah terlalu jauh dari komplek desa. Alhamdulillah, kami diberi tempat yang disebut Pojok Baca di dekat ruang pelayanan desa.

Konsentrasi perpustakaan terpecah menjadi 2, di kompleks desa dan di Kampung Kertamanah. Di Kampung Kertamanah, kami mendapatkan gazebo baca dan buku-buku. Kami juga dibangunkan gedung untuk Bank Sampah supaya tidak mengganggu kegiatan lain yang berlangsung di perpustakaan.

Pada tahun 2014, saya mulai serius berfikir untuk mengelola perpustakaan sehingga saya mengikuti bimtek dan seminar tentang pengelolaan perpustakaan yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta. Dari salah satu seminar yang saya datangi, saya mendapat ide untuk mengadakan perpustakaan keliling. Di desa kami paling tidak ada 26 RW yang jaraknya jauh dengan perpustakaan di kompleks desa maupun yang di kampung Kertamanah. Saya lalu mengusulkan hal itu pada desa.

Dari sinilah sebenarnya nama pabukon saba desa berasal. Pabukon adalah bahasa Sunda yang dalam Bahasa Indonesia artinya tempat menyimpan buku. Saba adalah nyaba atau tidak diam di tempat. Dalam bahasa Inggrisnya mobile. Jadi arti dari pabukon saba desa adalah perpustakaan yang tidak diam di tempat. Dalam hal ini, kami bergerak ke seluruh penjuru desa.

Pada bulan Agustus, kami mengadakan kegiatan inplementasi hasil baca berupa pengelolaan tanaman hidroponik. Kami mengadakan pembinaan mulai dari pembibitan, nutrisi, dan pemasaran hasil tanaman hidroponik.

dokumentasi pribadi

Tahun 2015 terjadi bencana longsor di Cibitung. Pojok Baca di kompleks desa difungsikan sebagai posko pengungsian sehingga kegiatan di perpustakaan dihentikan sementara. Alhamdulillah, banyak bantuan yang datang saat itu. Termasuk juga bantuan untuk pelatihan kebencanaan, paska bencana, dan trauma healing.

Setelah semuanya terlewati, kami memulai aktifitas lagi di perpustakaan. Tahun 2016, kami mengajukan program implementasi hasil baca. Kali ini kami mengajukan program budidaya tanaman labu siam dan budidaya cacing. Sehingga totalnya, kami memiliki 3 kegiatan implementasi hasil baca yang diberi nama green economy. Yaitu Bank Sampah, pengelolaan tanaman hidroponik, serta budidaya tanaman labu siam dan cacing.

dokumentasi pribadi

Pada awal 2017, desa memberikan perluasan ruangan dan fasilitas berupa mobil pintar dan radio komunitas. Kemudian dari perusahaan mitra kami diberi anggaran untuk mengadakan budidaya tanaman hias dan budidaya ayam kampung. Kami merasa beruntung mendapat kepercayaan dari berbagai pihak untuk memberdayakan masyarakat lewat perpustakaan.

Di pertengahan tahun 2017 ini, kami mengikuti lomba perpustakaan antar kecamatan dan alhamdulillah kami juara 1. Kemudian kami maju ke tingkat provinsi hingga tingkat nasional yang alhamdulillah kami kami berhasil menyabet gelar juara 1 juga.

dokumentasi pribadi

Berprestasi itu memang membutuhkan proses yang panjang. Namun di dalamnya selalu ada cerita, baik suka maupun duka, yang akan selalu kami kenang.

Cecep Jaja

Pengelola perpustakaan desa Margamukti Pakubon Saba Desa

2 thoughts on “BERSAMA PERPUSTAKAAN PABUKON SABA DESA: DARI BAWAH MENUJU PUNCAK

Leave a Reply to Nanang S Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: