SUNDULAN LITERASI DARI KANG MAMAN

dokumentasi pribadi

Pada tanggal 29 September 2017, saya berkesempatan untuk bisa bertemu dengan Kang Maman Suherman. Beliau adalah konsultan kreatif dan notulen di sebuah program TV berjudul Indonesia Lawak Klub di Trans7. Selain merupakan lulusan dari jurusan Kriminologi Universitas Indonesia, kang Maman juga pernah menjadi pemimpin redaksi di Kompas Gramedia. Maka tak heran bila kata-kata yanga dirangkainya selalu “ngena” sekaligus membuat kita semua berpikir.

Pertemuan saya dengan Kang Maman ini bukan atas dasar ketidaksengajaan. Kang Maman memang diundang sebagai pemateri dalam sebuah  acara Seminar Nasional Jurnalistik yang diselenggarakan oleh UKM Persma (Pers Mahasiswa) Universitas Siliwangi Tasikmalaya dengan mengusung tema “Jurnalisme antara Kebenaran dan Hoax”.

Saya dan teman-teman peserta yang lain duduk di kursi yang disediakan. Saya memilih kursi terdepan. Dalam acara ini Kang Maman menyampaikan bahwa sebagai seorang jurnalis, kita harus peduli dengan detail. Tidak semua fakta bisa diberitakan (terdapat dalam kode etik jurnalistik).

Mudahnya tersebar berita hoax (tidak sesuai fakta) ini merupakan PR bagi bangsa Indonesia. Sekarang kita semakin dimanjakan dengan kemudahan fasilitas telepon pintar yang dilengkapi jaringan internet sehingga tidak terikat sekat penghalang menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Lalu bagaimana mengatasi masalah hoax ini? Kunci pertama yang harus kita lakukan adalah membaca. Ya, minat baca bangsa Indonesia masih berada dalam peringkat ke-2 dari bawah. Banyak orang yang masih malas dalam membaca keseluruhan berita yang diberitakan suatu media dan langsung percaya pada kebenarannya. Kang Maman mengutarakan bahwa dirinya sangat salut kepada para pegiat literasi di berbagai daerah yang terus bergerak untuk mengembangkan minat baca masyarakat. Di situlah saat-saat saya merasa semakin tergerak semangat dan bangga bisa menjadi salah satu relawan taman baca.

Kedua, yaitu pikir. Pikir apakah berita ini memang benar adanya atau tidak, baik atau tidak, dan bermanfaat atau tidak bagi para pembaca selanjutnya. Setelah berita itu diyakini memang tidak mengandung unsur hoax, barulah kita boleh menyebarkannya. Cara menangkal hoax juga bisa dengan rumus 5W + 1H + lalu apa.

Kang Maman juga menjelaskan sembilan poin elemen jurnalistik, yaitu:

  1. Mengejar kebenaran
  2. Komitmen berpihak pada masyarakat
  3. Disiplin verifikasi
  4. Independen
  5. Menjadi pemantau kekuasaan
  6. Menyediakan forum pembaca
  7. Berusaha mengubah hal penting menjadi menarik dan relevan
  8. Proporsional dan dari semua pihak
  9. Mengutamakan nurani

 

Selepas penyampaian materi, kami para peserta diberi kesempatan untuk berfoto dengan Kang Maman. Tapi sebelumnya, saya membeli buku beliau terlebih dahulu untuk dimintai tanda tangannya. Kang Maman memang telah banyak menerbitkan buku-buku baik novel maupun kumpulan kata-kata yang membangun. Saya memilih untuk membeli bukunya yang berjudul “No Tulen = Tidak Asli tapi Hamba Allah”.

Ketika saya menghampiri beliau terlihat sangat antusias saat bertemu, kemudian ia menuliskan, Terus tebar literasi, lanjutkan tugas kenabian = menyebarkan. dengan tambahan di bagian bawahnya dengan huruf kapital Aku suka puisimu.

Ternyata bapakku pernah mengirimkan hasil puisi yang saya buat kepada beliau lewat media sosial. Saya malu sekaligus senang sekali. Membuatku semakin temotivasi untuk bisa menerbitkan buku seperti beliau.

Semoga kelak saya bisa bertemu kembali dengan Kang Maman dan berfoto tidak hanya dengan buku kang Maman tapi juga sambil menggenggam buku karya saya sendiri. Aamiin.

 

Sebagai jurnalis muda kita jangan takut dengan risiko. Menjadi skeptis tapi tidak apatis.

-Kang Maman-

Naufalia Qisthi

Relawan Taman Pustaka Hasanah Winduraja Ciamis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: