KESETRUM CINTA : KISAH JENAKA PRIA JAWA MENIKAH DENGAN PEREMPUAN SWISS

Judul Buku: Kesetrum Cinta, Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah dengan Perempuan Swiss
Pengarang : Sigit Susanto
Tahun terbit: 2016
Penerbit: Buku Mojok
ISBN: 9786021318324
Jumlah Halaman: xx+264

 

dokumentasi pribadi

“Sebuah perjalan tentu harus memiliki jeda, seperti dalam menulis catatan perjalanan.” tulis Sigit dalam sebuah kalimat pembuka kata pengantar penulis pada buku Kesetrum Cinta ini. Saya sangat suka ketika membaca kalimat ini. Saya yang memiliki waktu kerja dari senin sampai sabtu dengan delapan jam kerja satu hari tentu saja ingin memiliki waktu jeda dari segala rutinitas untuk bersantai, salah satu caranya dengan membaca buku. Buku yang saya baca ini menyajikan cerita pendek tentang Sigit Susanto dan Caludia Beck yang mengalami gegar budaya (Shock Culture).

Kesetrum Cinta adalah sebuah buku kisah jenaka pria Jawa yang menikah dengan perempuan Swiss. Sigit Susanto ialah penulisnya. Sangat menarik ketika membaca sinopsis yang tertulis pada sampul buku bagian belakang. Mengisahkan seorang pria bernama Sigit Susanto berasal dari Kendal, Jawa Tengah, yang menikah dengan Caludia Beck, seorang perempuan asli Swiss. Rupanya menikah bukanlah hanya menyatukan dua insan yang saling jatuh cinta, tetapi menyatukan dua insan yang berbeda budaya ini. Mulai dari pernikahan inilah petulangan Sigit Susanto dengan Caludia Beck untuk mengenal budaya satu sama lain dimulai.

Bagi saya sangat menarik membaca kisah-kisah Sigit dan Caludia yang mengalami gegar budaya yang acap kali mengocok perut untuk tertawa. Selain karena kisahnya sendiri, terkadang juga cara penulisan Sigit yang begitu jenaka sehingga memancing saya untuk meluapkan rasa kegelian dari kisah itu sendiri. Menurut saya Sigit menulisnya dengan jujur, ketika cerita itu terasa mengharukan ya terasa mengharukan, ketika cerita sedih ya terasa sedih, kalau cerita itu lucu ya terasa lucu.

Saya sempat merasa khawatir ketika mendengar sebuah buku berjudul Kesetrum Cinta dengan kisah-kisah gegar budaya seseorang yang baru pindah ke tempat asing. Khawatir akan isi buku dengan segala perbandingan. Perbandingan budaya Indonesia dimana si penulis berasal dengan budaya barat. Atau malah sebaliknya. Namun kekhawatiran saya itupun seketika sirna ketika mulai membaca pada cerita pertama dalam buku ini.

Salah satu cerita favorit saya adalah: Selamat Sehat, Selamat Mandi dan Kopi Kosong.

Awal-awal kehidupan Sigit dan Caludia tinggal satu apartemen di Swiss, Claudia tampak semangat untuk belajar bahasa Indonesia. Dia membeli sebuah paket pelajaran bahasa Indonesia berupa buku dan kaset yang bernama Linguaphone. Hampir tiap waktu Caludia mendengarkan kaset berbahasa Indonesia. Jika ada kesulitan Caludia baru bertanya kepada Sigit.

Kejadian demi kejadian mereka alami. Ketika Sigit sedang sakit, Caludia berbahasa Indonesia dan mengucapkan “Selamat Sehat”. Mendengar ucapannya Sigit malah tertawa geli. Sehingga membuat Sigit merasa berdosa tidak mengajari Caludia mengucapkan seperti biasa orang Indonesia ucapkan, yaitu “Semoga lekas sembuh”.

Di Kesempatan lain, ketika di pagi hari Sigit sedang mandi tiba-tiba Caludia membuka pintu kamar mandi dan mengucapkan “Selamat Mandi”. Lagi-lagi Sigit tertawa, seumur-umur di Indonesia tidak ada saudara, teman-temannya yang mengucapkan Selamat Mandi. Lagi pula apa sih istimewanya mandi sehingga harus diucapkan selamat.

Pada malam di musim dingin, Sigit dan Caludia membuat kopi panas untuk menghangatkan perut. Caludia lalu bicara dalam bahasa Indonesia “Aku ingin minum kopi kosong”.

“Haaah?” Sigit tersentak, “Kopi kosong?”

Ternyata yang dimaksud dengan kopi kosong ialah kopi tanpa gula. Sigit mulai curiga dengan buku yang Claudia pelajari. Selidik punya selidik, pengarang buku pelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing itu ternyata penulisnya seorang bule juga.

Begitu juga dengan Claudia yang mengalami gegar budaya ketika mendengar bahwa pembagian warisan dalam keluarga muslim, seperdelapan bagian untuk perempuan dan sebaliknya sebagian besar lagi dimiliki oleh laki-laki. Lagi-lagi menemukan ketimpangan keadilan. Mungkin orang asing yang menikah dengan keluarga muslim akan mengalami kesulitan jika berbicara tentang pembagian harta warisan.Selain itu, sistem hierarkis dan kewajiban murid-murid mengenakan seragam sekolah juga menjadi gegar budaya yang paling mencolok yang dialami Claudia. Sebab di Swiss sana, faktor usia tidak menjadi berhala dan anak-anak sekolah bebas saja berpakaiannya. Sebab menurut Claudia, kita sama-sama orang.

Sebuah cerita yang polos, cerita tanpa penghakiman atas budaya yang penulis alami. Sebuah kisah budaya memang sebaiknya disampaikan atas berdasarkan pengalaman saja, tanpa ada unsur sebuah penghakiman kalau budaya ini baik atau budaya itu yang baik. Cukup kisah gegar budaya itu disampaikan kepada para pembaca dengan kepolosannya, dan biarkan pembaca itu menentukan. menurut saya budaya baik atau buruk tentu punya koridor penilaian masing-masing.

Allan Maullana

Penulis di kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: