BERKUNJUNG KE PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

web.facebook.com/agusmunawar33

Sabtu pagi (4/11/2017) pukul 7.30 pagi aku sampai di gedung Perpustakaan Nasional RI di jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Dari luar, gedung perpustakaan ini seperti gedung pada umumnya di daerah situ : rumah Belanda. Aku pun memasuki gedung bernuansa putih itu.

Di dalamnya, terdapat 2 meja yang dikelilingi oleh kursi seperti pada ruang tamu keluarga. Selain itu, di pinggir-pinggir ruangan terdapat foto-foto dokumentasi kerja Pak Presiden Joko Widodo. Aku sedang mengamati sebuah foto ketika seseorang memanggilku. Aku menoleh dan menyalaminya. Beliau adalah Pak Agus Munawar, seorang pegiat literasi.

“Saya baru saja dari ruangan sana,” kata Pak Agus. “Keren sekali pustaka bergerak dibuatkan sebuah ruangan sendiri.”

Aku hanya mengangguk-angguk.

“Di dalam akan ada acara Festival Dongeng, saya mau mengirim email dulu setelah itu ayo kita kesana,” kata Pak Agus bersemangat.

Aku mengikutinya.

Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017

dokumentasi pribadi

Aku pertama kali mendengar tentang festival dongeng ini dari suamiku yang membagi status salah seorang relawan acara tersebut. Aku dan suami pun merencanakan untuk menghadirinya. Kemudian seorang kawan mengajak untuk mendaftar menjadi relawan blogger dan netizen dalam acara ini. Namun berhubung aku tidak sanggup kalau harus ikut acara selama 2 hari berturut-turut, aku tidak menyambut ajakan itu.

Di belakang gedung rumah Belanda tersebut, berdiri dengan gagah sebuah gedung modern yang katanya terdiri dari 24 lantai. Di luar gedung tinggi, sudah tertata food court untuk yang mau membeli makanan dan minuman.

Di depan sebuah rak buku yang menjulang hingga menembus beberapa lantai itu dibuat sebuah panggung sederhana. Di depan panggung, puluhan anak-anak sudah duduk siap untuk menikmati acara yang disajikan. Di belakang tempat anak-anak duduk, terpasang kamera dari sebuah televisi swasta yang akan meliput acara ini.

Aku dan Pak Agus mengobrol sambil menikmati keriuhan yang terjadi. Tiba-tiba dari samping panggung muncul sesosok jangkung, berkacamata, dengan mimik wajah yang sibuk.

“Itu Kak Aio, Meta,” kata Pak Agus. “Ketua panitia acara ini. Ayo kita sapa.”

Pak Agus kemudian menepuk punggung Kak Aio. Kak Aio menoleh dan seperti terkejut melihat Pak Agus.

“Hai Pak,” sapa Kak Aio sambil menyalami Pak Agus. “Kapan sampe?”

“Saya sekarang kerja di Jakarta, Kak,” jawab Pak Agus.

Setelah berfoto bersama dan sedikit basa basi, Kak Aio undur diri.

“Sibuk sekali ya?” tanya Pak Agus.

Kak Aio menangguk sambil berlalu.

Acara Festival Dongeng ini pun dibuka dengan sambutan dari Kak Aio selaku direktur Festival Dongeng Indonesia disambung dengan sambutan dari Ibu Woro Titi Haryanti, MA selaku deputi bidang pengembangan sumber daya perpustakaan nasional Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Kak Aio mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya festival ini untuk memperkenalkan kegiatan mendongeng pada orang tua dan guru. Aku jadi ingat sebuah artikel yang dirilis oleh tirto.id. Artikel tersebut mengatakan bahwa balita dari keluarga kaya lebih cerdas daripada keluarga miskin. Permasalahannya, balita dari keluarga kaya mendengar lebih banyak kosakata karena orang tuanya sering membacakan cerita pada anaknya.

Jadi, masalah cerdas dan tidak bukan lah masalah kaya dan tidak. Namun untuk mendidik anak supaya cerdas, orang tua bisa membacakan cerita atau memperkenalkan kosakata baru pada anaknya melalui kegiatan mendongeng ini. Tidak perlu menjadi jutawan agar bisa membeli buku-buku untuk mendongengi anak. Menurut Ibu Woro, dalam sambutannya, di perpustakaan nasional ini di lantai 7 adalah area untuk anak. Di sana terdapat banyak buku cerita dan dongeng yang bisa orang tua bacakan untuk anak-anaknya.

Selanjutnya, ada pendongeng-pendongeng dari mancanegara yang dipersilakan masuk ke atas panggung diiringi dengan pemain trompet berseragam marching band. Mereka adalah Seung Ah Kim dari Korea Selatan, Craig Jenkins dari Inggris, Uncle Fat dari Taiwan, Kiran Shah dari Singapura, Tanya Batt dari Selandia Baru, Arthi Anand Navaneeth dari India, dan Hori Yoshimi dari Jepang.

dokumentasi pribadi

Karena tempat di depan panggung mulai penuh sesak, aku dan Pak Agus naik ke lantai 2 untuk menyaksikan pertunjukan dari atas. Saat itu ada Craig Jenkins yang sedang berdialog dengan anak-anak dengan menampilkan mimik muka yang lucu. Anak-anak tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresinya.

Karena di lantai 2 juga sudah penuh dengan orang dan kami merasa tidak nyaman menontonnya, aku dan Pak Agus memutuskan untuk berjalan-jalan melihat-lihat perpustakaan yang baru diresmikan pada tanggal 14 September 2017 lalu.

Perpustakaan Nasional RI

Gedung perpustakaan ini terdiri dari 24 lantai setiap lantai memiliki layanannya sendiri-sendiri seperti yang ada pada gambar. Di lantai 2, tempat aku memulai perjalanan adalah tempat pendaftaran anggota dan pusat informasi. Aku melihat pendaftaran anggota sudah membentuk antrian yang mengular.

dokumentasi pribadi

“Wah, masih pagi sudah antri panjang,” komentar Pak Agus.

“Baik itu Pak, berarti masyarakat kita juga mau membaca,” kataku sekenanya.

Kami lalu naik ke lantai 3. Di lantai 3 ini, sedang ada stand-stand kerajinan tangan yang sepertinya masih bagian dari Festival Dongeng Internasional Indonesia. Banyak benda lucu-lucu yang dijual. Ada benda-benda dari kain flanel, ada boneka yang terbuat dari kaos kaki, dan banyak lagi. Aku membeli sebuah kartu pos di sana. Selesai melihat-lihat, kami naik ke lantai 4.

Lantai 4 adalah area pameran dan kantin. Kantinnya mengingatkanku pada kantin kampusku dulu. Beberapa kios makanan berjejer dan satu kios snack. Di depan kios-kios tersebut terhampar meja dan kursi untuk menikmati makanan yang kita pesan atau bisa juga kita bawa dari rumah. Maja dan kursinya jelas lebih bagus daripada kantin kampusku dulu yang kursinya adalah bangku kayu tanpa busa.

dokumentasi pribadi

Di lantai 4 kami bertemu dengan Bu Woro, yang tadi memberi sambutan. Dengan ramah dan bersahabat Bu Woro meminta kami untuk berjalan-jalan sampai ke lantai 24.

dokumentasi pribadi

Di sana pemandangannya bagus banget, Mbak,” kata Bu Woro. “Beneran gak bohong, aku. Kamu bisa liat pemandangan kota Jakarta kayak kamu kalo lagi di puncak Monas. Gedung ini kan tingginya sama dengan Monas.

Bu Woro lalu menceritakan bahwa di lantai 24 adalah tempat untuk buku-buku budaya Nusantara dan eksekutif lounge. Eksekutif lounge ini, adalah ruangan untuk pejabat yang mau menggunakan layanan di perpustakaan nasional ini.

Saat aku dan Pak Agus ke lantai 24, memang dibalik kacanya mempertunjukkan pemandangan kota Jakarta dan Monas yang persis ada di depan mata. Memang pemandangan yang indah. Apalagi kita bisa melihat antrian orang-orang yang mau naik ke puncak Monas dari sana.

Ruangan itu tempat layanan buku budaya nusantara. Terdapat wallpaper-wallpaper tentang kebudayaan yang ada di Indonesia. Salah satu buku yang menjadi koleksinya adalah Tenunku yang ditulis oleh Ibu Any Yudhoyono.

dokumentasi pribadi

Secara singkat, Bu Woro kemudian menceritakan tentang layanan yang ada di perpustakaan ini. Lantai 3 adalah zona promosi budaya gemar membaca yang merupakan tempat untuk komunitas bila ingin mengadakan sebuah kegiatan.

“Kamu kalo mau demo di situ juga boleh, kok,” kata Bu Woro. “Daripada demo panas-panasan di depan gedung DPR. Tapi demonya kalo di sini yang tertib. Jangan pake bakar-bakaran.”

Lantai 5 adalah kantor, lantai 6 tempat solat, dan lantai 7 adalah layanan koleksi untuk anak-anak, lansia, dan disabilitas. Aku tadi mendengar dalam sambutannya Bu Woro mengatakan bahwa ada pesulap di lantai 7.

“Bukan pesulap yang kayak Dedi Cobuzer gitu,” kata Bu Woro. “Tapi ada petugas disana yang bisa sulap kecil-kecilan, lah. Kalo Cuma ngilangin kembang, munculin permen, yang gitu-gitu bisa…”

Tapi jelas itu cukup membuatku tercengang. Petugas perpustakaan itu kan gambarannya mukanya datar mirip buku gitu. Kalau ternyata ada yang bisa melakukan sesuatu itu kan keren banget.

Lantai 8 adalah layanan audiovisual.

Saat aku berkunjung ke sana, ada tempat duduk yang memang nyaman. Juga tersedia komputer. Selain itu, koleksinya juga lengkap. Termasuk ada drama Korea, drama Jepang, dan serial barat. Dan, di sana juga ada mini studio untuk bermain musik dan mini teater untuk menonton film dengan kapasitas terbatas.

dokumentasi pribadi

“Kalo lagi suntuk aku nonton drama di sini aja kali ya, sambil nunggu suami kelar kerja,” kataku dalam hati.

Lantai 9 adalah koleksi naskah nusantara. Termasuk di dalamnya ada Negarakertagama dan kitab Sutasoma.

“Ada beberapa naskah yang sudah dijadikan bentuk digital. Biasanya yang kami berikan kalau ada yang mau baca ya bentuk digitalnya atau salinannya,” kata Bu Woro. “Kalau bentuk aslinya, hanya orang tertentu yang nanti bisa mengaksesnya. Misalnya ilmuwan atau profesor sejarah yang mau meneliti tentang keaslian naskah itu.”

Lantai 10 adalah tempat penyimpanan koleksi deposit. Apa itu koleksi deposit? Jadi setiap ada buku yang terbit, maka 2 eksemplar buku tersebut wajib diserahkan pada perpustakaan nasional untuk disimpan sebagai koleksi deposit.

“Kamu misalnya mau baca buku apa yang udah gak terbit. Coba kamu tanya sama petugas disana. Seharusnya sih ada,” ujar Bu Woro.

“Wah keren donk, Bu,” komentarku. “Saya ada nih Bu, koleksi buku cerita berjilid gitu. Tapi yang jilid 3 nya gak ada. Saya tanya ke Gramedia sebagai penerbitnya, kata mereka buku itu sudah tidak diterbitkan. Saya bisa cari ke lantai 10 berarti?”

“Bisa, coba aja kesana,” jawab Bu Woro. “Kalau gak ada, karena itu kategorinya buku langka, adanya di lantai 14.”

Layanan perpustakaan ini untuk sementara dibuka dari hari Senin dampai hari Sabtu dari jam 8.30 sampai jam 16.00. Namun rencananya perpustakaan ini akan dibuka sampai malam dan dibuka juga pada hari Minggu.

 

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: