TENTANG BUKU : SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN

dokumentasi pribadi

Buku karya Pramoedya Ananta Tour ini bercerita tentang orang kecil yang ditindas namun mencoba untuk berdaya dari himpitan orang-orang yang berkuasa. Dikisahkan seorang bernama Ranta terus ditekan oleh Juragan Musa. Suatu ketika Juragan Musa menyuruh Ranta untuk mencuri bibit karet namun bukannya diberi uang, Ranta malah dijarah dan dipukul dengan rotan. Ranta yang sudah bosan dengan rasa takut kala itu melawan. Di depan rumahnya, hendak bergelut dia dengan Juragan Musa. Juragan Musa yang sebenarnya bernyali kecil itu lari tunggang langgang meninggalkan tas dan tongkatnya. Ternyata tas itu berisi rahasia Juragan Musa. Tanpa buang waktu, Ranta menyerahkan tas dan tongkat Juragan Musa pada Komandan. Komandan dan pasukannya pun langsung mengepung rumah Juragan Musa. Di sana, Komandan mendapati bahwa Pak Lurah berkomplot dengan Juragan Musa beserta orang yang lainnya. Komandan lalu menangkap komplotan itu dan mengangkat Ranta menjadi Lurah sementara.

Apa isi tas tersebut hingga Komandan turun tangan menangkap Juragan Musa? Rahasia… Nanti Jadi spoiler. Yang pasti, di bawah pimpinan Ranta desa dibangun dengan gotong royong. Warga bersama-sama membersihkan desa dari gerombolan pengacau, mereka bersama-sama mendirikan sekolah, selain itu mereka juga bahu membahu membangun waduk.

Sekilas, novel ini nampak seperti naskah panggung. Percakapannya ditulis tanpa tanda kutip, banyak tokoh yang tidak disebutkan namanya (hanya disebut jabatannya seperti Pak Lurah, Komandan, dan Nyonya serta untuk orang yang tidak memiliki jabatan disebut orang yang pertama dan orang yang kedua), dan latar tempat yang tidak digambarkan seperti novel kebanyakan. Bila membaca sampai selesai, kita tau buku ini terdiri dari 4 babak dimana latar tempatnya pada bab 1 adalah teras rumah Ranta, bab 2 adalah ruang tamu rumah Juragan Musa, bab 3 masih di ruang tamu rumah Juragan Musa tapi di waktu yang lain, dan bab 4 adalah sebuah halaman sekolah rakyat yang baru dibangun. Pram sendiri dalam kata pengantarnya mengatakan, “cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan. Tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di panggung.”

Eka Kurniawan pernah menulis di blognya tentang buku ini. Dia mengatakan bahwa novel ini menyiratkan suatu adegan yang dipentaskan di tempat sesungguhnya, bukan di panggung. Ada suatu dorongan untuk membuatnya menjadi nyata, atau realis. Pram mengatakan novel ini merupakan hasil reportasenya di wilayah Banten Selatan. Menurutku saat menuliskan kisah ini, ada ingatan Pram yang membayangkan tempat yang pernah dikunjunginya. Sehingga dia menuliskannya seolah-olah ingin menjadi kenyataan.

Gotong royong, adalah tema yang sepertinya ingin diangkat oleh Pram dalah kisah ini. Dalam kata pengantarnya Pram menuliskan sebuah paragraf panjang tentang gotong royong yang menjadi masalah mendesak di daerah Banten Selatan. Di akhir cerita kita bisa melihat bagaimana Lurah Ranta bisa membangun desanya dengan gotong royong bersama warga yang lain.

Satu lagi yang ingin disampaikan oleh Pram dalam buku ini, “Dimana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu Benar; Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: