SEPEREMPAT HARI BERSAMA PRESIDEN

dok.pri Agus Munawar

BERMULA dari Kantor Pos Besar Jalan Asia Afrika, Bandung. Hari itu, Jumat (15/12/2017) di bangunan besar dengan desain art deco rancangan arsitek kebangsaan Belanda J.van Gent yang didirikan taun 1863 ini, Bang Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak, dengan atusias mengikuti acara seremonial Donasi Buku untuk Masyarakat. Bang Nirwan sengaja datang dari Jakarta, naik travel, karena acara ini sangat erat dengan kegiatannya selama ini.

Beberapa penggiat literasi juga diundang, di antaranya Mang Yayat dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sehati dan Elis Ratna Suminar yang melengkapi angkutan kota (angkot) suaminya, trayek Bandung-Soreang, dengan buku. Elis datang memenuhi undangan bersama suami dan anaknya yang masih kecil. Angkotnya diparkir di halaman belakang kantor pos, dan menjadi perhatian orang lain karena tak lazim di angkot disediakan buku.

Direktur Utama (Dirut) PT Pos, Gilarsi W. Setijono bersama jajarannya; wakil rektor Bidang Riset Inovasi dan Kemitraan ITB, Prof. Bambang Riyanto; Direktur Sabuga ITB, Gatot Purwanto, dan Hendra Gunawan, dosen di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, juga menyediakan waktu untuk menghadiri acara yang berlangsung di gedung yang pada zaman kolonial Belanda dinamai Posten Telegraf Kantoor (Kantor Pos dan Telegraf) ini.

Buku yang didonasikan merupakan buku kumpulan pertanyaan anak-anak yang diajukan lewat www.anakbertanya.com. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Common Room Networks bekerja sama dengan beberapa perusahaan asuransi. “Setiap tahun, pertanyaan anak-anak dan jawaban yang terplih diterbitkan dalam bentuk buku,” kata Gustaff H. Iskandar, Direktur Yayasan Common Room Networks pada parajurnalis.

Menurut Gustaff yang juga musisi, saat ini telah terbit 6 (enam) buku Anak Bertanya Pakar Menjawab, dan dua buka bergambar Seri Anak Bertanya. “Pada kuartal ke-4 tahun 2017 ini kami mencetak buku-buku tersebut  sebanyak 1000 eksemplar perjudul, total dicetak sebanyak 8000 eksemplar. Melalui Kantor Pos, kami sebar ke taman-taman bacaan dan rumah belajar di seluruh Indonesia yang bergabung dalam jaringan Pustaka Bergerak,” ujarnya.

Buku-buku tadi gratis, dan mengirimkannya pun gratis, karena dikirimkan tanggal 17 Desember. Tanggal 17 setiap bulannya Kantor Pos tidak memungut biaya untuk pengiriman buku pada taman bacaan yang telah tercantum dalam data base Kantor Pos. “Asal beratnya tidak lebih dari 10 kilogram,” kata Gilarsi W. Setijono. Buku yang didonasikan Yayasan Common Room Networks sebanyak 480 paket, satu paketnya berisi 16 buku, dikirim ke 480 taman bacaan.

Berat keseluruhan paket buku tersebut mencapai 6 ton. “Entah berapa kontianer untuk membawa paket ini,” kata Bang Nirwan. Kalau mesti membayar entah berapa puluh juta, entah berapa ratus juta rupiah yang harus disediakan. Menurut Bang Nirwan, untuk mengirim paket buku, terutama ke luar Pulau Jawa, biaya pengirimannya terkadang lebih mahal daripada harga buku. “Syukurlah PT Pos menyediakan pengiriman gratis (untuk buku),” ujarnya lagi.

PT Pos mulai menerapkan kebijaksanaan pengiriman paket buku tidak dipungut biaya pada 17 Juni 2017, sebulan lebih setelah penggiat literasi bertemu dengan Presiden di Istana Negara, 2 Mei 2017, pada hari Pendidikan Nasional. Saat itu, Bang Nirwan meminta pemerintah membantu meringankan penggiat literasi yang ingin bagi-bagi buku ke pelosok negri. Pemerintah menindaklanjuti permintaan tersebut dan baru terealisasi sebulan kemudian.

Bang Nirwan ketika berpidato dalam acara Donasi Buku tadi sangat berterima kasih pada PT Pos, tetapi juga merasa sedikit “kasian” pada Kantor Pos. Bang Nirwan mendengar kabar pengiriman gratis paket buku dari bulan Juni 2017 sampai akhir November 2017 jika dikenakan tarif, biayanya mencapai Rp 5,8 milyar. Tidaklah aneh, Gilarsi W. Setijono, mengharapkan ada donatur yang sedikit meringankan beban PT Pos.

“Kami mengusulkan pemerintah membantu pengiriman paket buku, agar masyarakat mudah mendapat bahan bacaan,” ujar Bang Nirwan ketika berbincang-bincang dengan parajurnalis seusai acara. Menurut Nirwan rendahnya minat baca bangsa kita, menurut penelitian Central Connecticut State University (2016) minat baca bangsa kita berada peringkat ke-61 dari 62 negara yang diteliti, lebih dikarenakan susahnya masyarakat mengakses bahan bacaan.

Betulkah? Untuk membuktikannya Bang Nirwan yang berasal dari Makasar ini pun sepakat dengan Kang Agus Munawar mengunjungi beberapa “markas” penggiat literasi di Kabupaten Bandung. Habis shalat Jumaat di Mesjid Raya Jawa Barat (dulu Mesjid Agung) dan habis makan siang, meluncurlah ke Soreang. Dari Kantor Pos menyusuri Jalan Banceuy, Jalan Sunarya, Jalan Stasion Utara, Jalan Terusan Pasteur, dan masuk pintu jalan tol Pasteur.

Dari jalur tol yang ke Cileunyi, kemudian masuk ke Jalan tol Soroja (Soreang-Pasirkoja). Jalan tol ini, panjangnya sekitar 8 kilometer dan diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Joko Widodo, Senin 4 Desember 2017, meringkas perjalanan Bandung-Soreang. Lewat tol Soroja, Bandung-Soreang cuma membutuhkan 30 menitan, sedangkan kalau melalui Jalan Kopo pada jam-jam sibuk, pagi dan sore, memakan waktu lebih dari dua jam.

Di perjalanan di tol Soroja menuju Soreang, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, hujan mulai turun. Tiba di Sudut Baca Soreang (SBS), Ciwaru, Desa Soreang, Kecamatan Soreang, sekitar jam dua sore, hujan agak deras. Salah seorang relawan SBS, Asri Rismalah yang tengah mempersiapkan acara Kemah Asyik sambil Menulis di Bumi Perkemahan (Buper) Puncling, Ciwidey (16-17/12) datang menyongsong dan mempersilakan masuk.

Mang Yayat dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sehati, tiba lebih awal. Dari Kantor Pos Bandung naik motor, tentu saja tidak lewat jalan tol Soroja, tetapi melewati Kopo, karena memakai motor Mang Yayat bisa menerobos kemacetan, meski harus bisa-bisa mencari celah di antara deretan mobil yang pengendaranya tidak ada satu pun berwajah cerah. “Wah, kalau naik angkutan umum mah, entah jam berapa datang ke sini,” kata Mang Yayat

Di dalam terlihat enam orang anak tengah asyik membaca. Ada yang membaca buku, majalah, dan buku cerita bergambar. “Tuh, kan, hujan-hujan begini, anak-anak mau datang,” kata Bang Nirwan dengan wajah gembira. Tidak mau mengganggu anak-anak, “ngawangkong” seputar literasi di teras TBM, diiringi hujan rintik-rintik. Pokok pembicaraan, Bang Nirwan meminta masukan, pendapat untuk lebih menggaungkan gerakan literasi.

Seperti pada umumnya orang Sunda yang kalau kedatangan tamu, relawan SBS yang lainnya, Ravdi, yang juga relawan Dompet Dhuafa Bandung dan salah seorang dari 40 orang Panglima Integritas yang dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menghidangkan kopi panas dan jajanan khas Sunda. Geksor kata orang Sunda, artinya begitu tamu duduk (gek) pribumi langsung menghidangkan air minum dan kudapan (sor).

dok pri Agus Munawar

Hujan bertambah lebat, namun tidak mengurungkan niat untuk mengunjungi TBM lainnya. Jam tiga lebih berangkat lagi, kali ini Mang Yayat ikut semobil, jadi petunjuk jalan, agar di jalan tidak terjebak banjir “cileuncang”. Sasaran kedua: TBM Sehati, di Jalan Gunung Puntang, Kampung Pasirhuni, Desa Pasarhuni, Kecamatan Cimaung. Dari Soreang memakai jalan yang menuju Pangalengan, di Cimaung belok ke kiri, menapaki jalan yang menuju Gunung Puntang.

Hujan masih mengguyur, demikian juga ketika sudah sampai di lokasi, jam setengah lima sore. Dari Jalan Gunung Puntang ke TBM Sehati sekitar 50 meteran, namun karena perumahan di sana cukup padat, dari jalan tidak tampak. Yang pertama kali terlihat: bangunan terbuka, berkonstruksi bambu, dengan buku yang berjejer di rak. Bangunan ini persis di depan pekarangan rumah semi permanen. Sebelah kiri bangunan bambu: rumah kediaman Mang Yayat.

“Di rumah ini ruang pribadi hanya kamar,” kata Mang Yayat sambil tersenyum. Di ruang tengah rumahnya juga banyak buku dan sering penuh anak-anak yang membaca. Serambinya juga berpenghuni buku. Meskipun Mang Yayat dan istrinya mempersilakan duduk di dalam rumahnya, tetapi kami lebih memilih “meriung” di bangunan bambu. Alasannya, saat cuaca dingin, bambu mengeluarkan udara panas, sebaliknya ketika panas bambu mengeluarkan udara dingin.

Bangunan bambu ini yang oleh Mang Yayat dinamai Saung Kreatif dibuat tahun 2017, berukuran: lebar 2,4 meter dan panjang 3,6 meter, menghabiskan sekitar Rp2,5 juta. Berdiri di atas tanah yang luasnya 5,6 meter persegi. “Tanah wakaf, dibeli tahun 2015,” kata Mang Yayat. Di sisi bangunan: pasilitas permainan anak, pemberian  Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Bandung.

Benar, walaupun hujan tambah deras dan udara di daerah ini dingin karena berada di kaki Gunung Puntang, tubuh tidak menggigil. Bang Nirwan pun tetap setia dengan kaos oblong warna hitam. Istri Mang Yayat entah berapa kali mengirimkan logistik: pisang goreng, gerong tahu yang memakai tepung terigu, goreng tahu tanpa tepung terigu. Minumnya: kopi panas, kopi asli Gunung Puntang, gunung yang menyimpan misteri Curug Siliwangi.

Di TBM Sehati pun, Bang Nirwan, lebih banyak mendengar, mendengar penuturan Mang Yayat selama mengelola TBM: bagaimana dia membawa buku sambil berdagang tahu dari rumah ke rumah, dari satu tempat ke tempat lainnya. Nirwan tampak terkesima mendengarnya. Bang Nirwan dengan seksama melihat dan membaca kliping tulisan media massa mengenai kiprah Mang Yayat. “Di daerah memang banyak mutiara literasi,” ujarnya.

Betah ngobrol, tak terasa hari beranjak malam, sementara hujan tambah lebat. Ada satu taman bacaan lagi yang harus dikunjungi, Kang Agus Munawar sebelumnya sudah berjanji akan membawa Bang Nirwan ke sana. Hujan yang lebat tidak menjadi halangan untuk berangkat lagi. Begitu keluar dari Saung Kreatif udara dingin segera menyergap. Berempat kembali meluncur di jalan di tengah hujan yang bagai cai nu dibahekeun ti langit ‘air dicurahkan dari langit’.

“Kita ke rumah Bu Elis,” kata Mang Yayat. Bu Elis, Elis Ratna Suminar, pustakawan di SDN Cisalak, Kabupaten Bandung, beserta suaminya, Muhammad Pian Sopyan, beberapa waktu yang lalu jadi bahan pembicaraan. Mereka berdua menyediakan buku di mobil angkutan perkotaan (angkot) miliknya. Dari Cimaung menuju rumah Bu Elis melalui rute yang oleh orang luar Soreang atau Banjaran tidak bisa dihapal hanya satu dua kali ke sana.

Sebelum ke rumah Bu Elis, Mang Yayat, menganjurkan mampir di rumah Kang Buldan Shyahbuddin yang menggagas “Ontel Baca Zulfa Nurul Dzakiyyah”, di Kampung Panyaungan, Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. “Rumahnya dilewati jalan yang menuju Bu Elis,” kata Mang Yayat. Tak ada yang tidak mau, apalagi setelah Mang Yayat bercerita sepak terjang Buldan yang dengan sepeda ontelnya berkeliling “menjajakan” buku.

Sudah lewat jam enam malam waktu tiba di rumah Kang Buldan. Mang Yayat yang pertama kali membuka pintu gerbang rumah dan mengetuk pintu. Tidak lama bertamu di rumah Kang Buldan, meski demikian Bang Nirwan sempat berfoto ria dengan menaiki sepeda ontel milik Kang Buldan, sepeda ontel merk Norton buatan India.”Kalau tidak salah dibuat taun 1960-an, “ kata Kang Buldan. Bagian depan sepeda dibuat bagasi, untuk tempat buku.

https://web.facebook.com/elis.ratna.357

Tahu akan mengunjungi Bu Elis, Kang Buldan dan istrinya tak menampik ketika diajak Mang Yayat. Mereka berdua ingin mendengar pengalaman Bu Elis dan suaminya mengelola “angkot pustaka”. Jadi berenam berkunjung ke rumah Bu Elis téh. “Saya kira tidak jadi datang,” kata Bu Elis begitu rombongan memasuki pekarangan rumahnya. Kang Buldan dan istrinya sebelum ikut terlibat dalam pembicaraan, melihat-lihat kios di depan rumah Bu Elis yang penuh buku.

Lagi-lagi Bang Nirwan lebih banyak mendengarkan cerita Bu Elis dengan “angkot pustakanya”. sesekali Bang Nirwan bertanya. Bu Elis di antaranya menceritakan bagaimana dia memprakarsai menanam pohon kopi dengan pupuk, maaf, air kencing anak-anak sekolah, menceritakan tentang seorang kakek yang hampir tiap hari meminjam buku, dan banyak lagi yang berkaitan dengan suka dan duka berkecimpung dalam gerakan literasi.

Saking betahnya ngobrol, makanan ringan yang disediakan tuan rumah tak terasa tinggal sedikit. Akan tetapi bukan karena itu, berenam, meski sanggup bergadang semalam suntuk, setelah melihat jam tangan segara berpamitan pada tuan rumah. Bang Nirwan esok pagi harus sudah berada di Jakarta; Kang Agus Munawar harus ke Ciamis demi menunaikan kewajibannya sebagai suami; Mang Yayat, Kang Buldan dan istrinya pun perlu cepat kembali ke rumah.

Di jalan menuju terminal Leuwipanjang, setelah terlebih dahulu mampir di SBS, karena “kuda besi” Mang Yayat ditunda di sana, dari “dengar pendapat” dengan pengelola TBM yang dikunjungi, Bang Nirwan menjadi lebih yakin minat baca masyarakat sebenarnya tinggi. Hanya saja kebutuhan untuk membaca, untuk membeli buku, terkalahkan oleh kebutuhan lain, apalagi harga buku di negara kita tidak semurah harga buku di India, misalnya.

Oleh karena itu baik Bang Nirwan maupun Kang Agus Munawar sepakat gerakan literasi perlu lebih ditingkatkan lagi, masih banyak masyarakat yang harus difasilitasi agar mudah mengakses bahan bacaan. Selain itu yang tidak kurang pentingnya adalah impact (pengaruh kuat) taman bacaan pada masyarakat. Apakah hadirnya taman bacaan atau perpustakaan membawa dampak yang baik bagi masyarakat,  dari segi ekonomi, sosial, mental dan karakter.

Turun di terminal Leuwipanjang, jam 8 malam, Bang Nirwan mengacungkan salam literasi. Entah apa yang dipikirkan dan direncanakan Bang Nirwan setelah “reses” dengan mengunjungi empat penggiat literasi di Kabupaten Bandung. Apakah lulusan UGM yang dijuluki Presiden Pustaka Bergerak ini menolarkan lagi gebrakan yang menggemparkan seperti Pustaka Bergerak yang membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terpincut?

Kang Priatna

Kang Priatna adalah Penulis yang banyak menulis dengan bahasa Sunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: