PEJUANG LITERASI BERKUNANG-KUNANG

web.facebook.com/rifqi.ahmadfauzi.92

Rabu subuh (13/12/17) yang dingin mengantarkanku persis ke depan Masjid Agung Rajadesa, Kabupaten Ciamis setelah semalaman berada di jalanan kembali dari ibukota. Masih sanggup kah aku ikut workshop menulis essay di Bandung, besok? Aku merasa capek dan lelah. Belum lagi sederet tugas kantor yang harus aku kerjakan juga dengan cepat karena berkaitan dengan pembagian rapor siswa pada hari Sabtu (16/12/17).

Konflik batin ini tidak bertahan lama, kebulatan tekadku untuk ikut acara workshop penulisan essay bagi pegiat baca sangat membuncah. Setelah aku sampai di rumah yang hanya berjarak 1 km dari Masjid Agung Rajadesa, segera aku selesaikan tugas kantor dan cepat bergegas mengumpulkan barang-barang yang akan kubawa ke Bandung sore harinya. Tidak ada waktu untuk istirahat saat itu. Aku merencanakan untuk tidur di mobil dalam perjalanan. “Keikutserataan ini, menjadi bekalku untuk bermanfaat di masyarakat,” pikirku.

Acara workshop yang aku ikuti ini bertajuk “Workshop Menulis Essay: Melalui Workshop Penulisan Essay Mampu Mencetak Penulis Handal di Kalangan Pengelola Perpustakaan dan Pegiat Budaya Baca” dan diadakan di Dispusipda Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Kawaluyaan II Kota Bandung. Untungnya, aku punya Kakak yang tinggal dan bekerja di Bandung. Kantor kakakku berseberangan dengan gedung Dispusipda. Rencanaku, aku akan menginap di kosan Kakak malam ini lalu berangkat bersamanya menuju gedung Dispusipda paginya. Sepertinya, takdir Tuhan sedang berpihak.

Dari Ciamis ke Kota Bandung aku menumpang travel 4848 dan mendapat tempat duduk di depan. Di sebelah supir. Aku lupa kalau harus beristirahat karena diajak mengobrol oleh Sang Supir. Banyak hal yang dibicarakan olehnya mulai dari motivasi, kesuksesan, hingga tentang jodoh. Menggiurkan untuk dibahas.

Aku lupa belum menceritakan bagaimana aku bisa ikut acara ini. Aku merupakan orang baru dari kegiatan seputar perpustakaan ini. Bisa dikatakan aku hanya orang yang numpang eksis di acara ini. Relawan dari Winduraja Membaca sih ceritanya, tetapi sebenarnya tahu tentang Winduraja Membaca saja baru beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Bandung. Pak Qodar yang sudah lama berkecimpung di komunitas literasi menjadi jalanku bertemu orang-orang inspiratif di Dispusipda ini. Beliau berbagi poster yang berisi ajakan untuk mengikuti workshop dengan ketentuan menulis essay terlebih dahulu. Waktu itu aku terima pesannya tanggal 6 Desember 2017 sekitar pukul 17.00, sedangkan penerimaan naskahnya paling lambat pukul 24.00 pada tanggal yang sama. Artinya, ada waktu sekitar 7 jam untuk membuat tulisan yang diinginkan sesuai tema. Merasa tertarik, dan berpikir daripada galau memikirkan jodoh (eh), aku beranikan diri menulis essay tentang Sastra Indonesia. Begitulah dalam menulis, kadang-kadang yang menjadi permasalahan penulis adalah moodnya. Alhamdulillah, moodku ketika menulis tentang sastra sedang stabil.

dok.pri Abdul Holik

Niatku untuk menambah ilmu, wawasan, dan kawan ternyata tidak sia-sia. Ilmu yang aku dapat sangat banyak, cerita-cerita dari kawan-kawan relawan Perpusdes dan (Taman Bacaan Masyarakat) TBM pun sangat menginspirasi. Begitupun mungkin bagi sekitar 50 peserta pejuang Literasi se-Jawa Barat. Para pustakawan, baik dari Perpusdes maupun TBM yang hadir dengan rendah hati menceritakan pengalaman mereka dalam mengelola perpustakaan desa dan TBM yang dikelolanya.

Ada yang menarik dari salah satu peserta yang aku lupa namanya, beliau menceritakan perjuangannya ke desa-desa sambil membawa gerobak berisi buku-buku untuk dibaca olehh masyarakat. Ada lagi dari relawan TBM yang pernah diusir oleh petugas keamanan karena disangka berjualan di trotoar Alun-Alun. Padahal sebenarnya relawan tersebut sedang menggelar buku untuk dibaca masyarakat secara gratis. Mengesankan!

Narasumber  yang hadir pun luar biasa, adalah Kang Abdul Holik, Kang Nanang Supriatna, Kang Agus Sopandi, dan Ka Meita. Semuanya sudah lebih dahulu berkecimpung dalam dunia literasi, baik dalam membaca ataupun menulis. Acara ini juga dihadiri oleh pustakawan dari Dispusipda, dalam hal ini Ibu Dr. Hj. Oom Nurrohmah M.Si yang membuka acara secara resmi. Pada sambutannya, Ibu Oom memberikan arahan agar Indonesia dan generasi muda tidak hanyut  dan mudah percaya begitu saja dengan penelitian orang Luar Negeri ataupun lembaga internasional lainnya seperti UNESCO, bahwa bangsa Indonesia berada pada posisi buncit dalam budaya membaca. Beliau juga menambahkan kemungkinan besar penelitian tersebut merupakan hasil chek and ricek yang belum tentu kebenarannya dan bermuatan politik ataupun kepentingan pribadi. Dengan demikian, sebagai tonggak penerus bangsa, kita, para peserta, lah yang harus membuktikan bahwa Indonesia tidak seperti yang mereka pikirkan. Bukan dengan berkoar-koar, tetapi dengan pembuktian dan bergerak. Mencipatakan inovasi dan kreativitas literasi.

Sastra, Kebudayaan Sunda, Dinamika Perpustakaan, Impact Keberadaan Perpustakaan, dan Tren Anak Muda Dalam Aktivitas Literasi adalah materi yang cukup menarik untuk dibahas pada workshop kali ini. Bagaimanapun keberadaan sastra, perpus dan anak muda menjadi satu kesatuan yang bisa mewujudkan masyarakat yang literat.

Pada dasarnya, orang yang memiliki budaya literat bukan hanya orang yang suka membaca tetapi lebih pada meneliti dan menganlisis bacaan tersebut. Begitupun yang diharapkan setelah acara workshop ini. Bukan menjadi pembaca saja tetapi juga sebagai pembaca yang mampu menganalisis buku bacaan dan menelaahnya. Kemudian mengembangkan bacaan tersebut menjadi tulisan essay yang lebih bermakna.

dok.pri Abdul Holik

Adapun menulis essay, merupakan kemahiran berbahasa tulis yang tinggi. Mengapa demikian?

“Pada dasarnya essay merupakan proses imajinasi yang berkaitan dengan pola pikir seseorang dalam mengeluarkan pendapat dan memecahkan masalah yang sedang terjadi. Penulisan essay akan sangat menarik seandainya didalamnya berisi solusi dan bukan hanya kritik,” begitulah menurut Kang Nanang dalam kuliah umumnya.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.00-15.00 WIB. Secarik warna berkembang di hati saya. Oh Tuhan, sungguh hebat mereka!

Perjalanan yang manis untuk langkah awal, mudah-mudahan memang mampu membuat generasi Indonesia yang literat. Hanya satu disayangkan, tidak ada waktu untuk jalan-jalan setelah workshop ini, karena saya harus segera pulang untuk melanjutkan tugas yang tertunda. (maaf lebay).

Hanya harapan yang tersisa, semoga acara workshop ini mampu mengantarkan para pegiat baca untuk terus maju dan bergerak walau kadang kebijakan tidak berpihak. Salam Literasi!

Iis Aisyah

Iis Aisyah

pengelola Rajadesa Membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: