BACA DAN PA”HAM”I

dok pri Ipul Saepullah

Di Lapakan Panti Baca Ceria, tanggal 10 Desember 2017, aku beserta rekan – rekan Taman Tahu (yang membantu lapakan baca gratis), memperingati hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember tiap tahunnya. Kita semua mungkin sudah tak asing lagi mengenai HAM (Hak Asasi Manusia). Namun aku mencoba mengangkat topik ini di lapakan sekaligus ruang publik Kabupaten Sumedang. Mensosialisasikan kepada setiap pengunjung yang berada di ruang publik yaitu Alun – alun Kabupaten Sumedang. “Ini loh, hari ini adalah Hari Hak Asasi Manusia Sedunia”.

Kegiatan lapakan baca gratis Panti Baca Ceria telah berjalan selama satu tahun tujuh bulan. Hampir 2 tahun dan kami masih konsisten untuk buka tiap Minggu. Lapakan kadang dibuat tematik, menyesuaikan bila ada hari peringatan penting nasional atau dunia. Terkadang mengangkat isu sosial yang terjadi di negeri ini atapun dunia.

Pada hari Sabtu, 09 Desember 2017, Aku bikin flyer acara itu, untuk gembar – gembor di media sosial. Selain itu, aku hubungi teman – temanku yang ingin berpartisipasi di acara itu. Ada beberapa rangkaian acara yang aku bikin. Pembacaan puisi, teater, akustik (tanpa sound), mimbar bebas, dan membuka donasi untuk Kulon Progo.

Minggu pagi, pukul 08. 00 WIB, matahari bersinar cerah. Sepertinya semesta mendukung untuk aku menggelar lapakan baca gratis. Dari rumah, aku tidak hanya membawa beberapa buku, alas, dan banner di daypack ku. Aku juga membawa kain hitam, crayon, dan payung hitam. Aku tulis tema lapakan hari itu di kain hitam yang berukuran sekitar 150 cm x 80 cm “Baca dan paHAMi Negeri ini” dengan krayon. Dan yang lain pun membuat sesuatu tulisan – tulisan tentang HAM di kertas karton putih.

Buku sudah tertata rapih di lapakan, pengunjung mulai berdatangan seperti biasanya. Suara dari Megaphone terdengar mengajak para pengunjung untuk datang ke lapakan. Rekan – rekan dari elemen mahasiswa dan seniman yang berpartisipasi ikut meramaikan acara sudah berdatangan dan siap untuk beraksi. Acara ini dibuka dengan pembacaan beberapa puisi.

dok pri Ipul Saepullah

Puisi terakhir yang dibacakan adalah puisi dari Widji Tukul yang berjudul Bunga dan Tembok. Selanjutnya ada permainan para pemusik yang menggunakan alat musik ala kadarnya seperti gitar akustik dan cajon. Begitupun dengan seniman teater yang sudah tak asing lagi di Sumedang ini, Deden Absurd namanya. Beliau satu grup denganku di Teater Absurd. Seniman kritis.

Aku menemani aksi olah tubuhnya. Para pengunjung sontak berdatangan melihat keramaian di lapakan baca. Aku berharap semoga pesanku tersampaikan walaupun dengan acara yang sederhana. Aku rasa tidak perlu ceremonial besar yang menghabiskan banyak uang dengan membuat tumpukkan proposal tapi tak ada impactnya di masyarakat. Ini, soal hati. Bukan ajang cari materi.

Hari itu, aku, Ipul Saepulloh membawa pesan. Tidak hanya mengajak membaca buku yang berada di lapakan tapi membaca diri pribadi dan membaca lingkungan sekitar. Membaca diri kita sebagai manusia yang harus memanusiakan manusia. Membaca diri kita sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa yang mencintai segala ciptaannya.

Ipul Saepulloh

pengelola panti baca ceria sumedang

One thought on “BACA DAN PA”HAM”I”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: