PERPUSTAKAAN SEBAGAI PELINDUNG TERIKNYA ZAMAN

Tampak beragam warnanya berusaha menyaingi warna-warni keceriaan di wajah mereka. Tidak, tugasmu hanya melindungi dari terik, warna ceria di wajah mereka masih juaranya.

dok pri Naufalia Qisthi

Tepat di hari Minggu, 24 Desember 2017, dua hari setelah Hari Ibu, Perpusdes Winduraja Membaca seperti biasa membuka lapak baca di Taman Surawisesa Kawali, Ciamis. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, hari ini akan diadakan kegiatan tebar buku oleh para relawan perpusdes. Kami mempersiapkan lapak baca ini dari pukul 05.30 WIB dengan ditambahi dekorasi tiang-tiang kayu yang diberi payung kecil warna-warni di atasnya agar terlihat lebih menarik.

Dalam tebar buku, kami tidak hanya membagikan buku bacaan, tapi ada beragam hadiah-hadiah lainnya seperti buku tulis, kaus kaki, dan lainnya. Tentu saja pengunjung lapak baca terlihat antusias sekali, penuh tawa. Banyak pula yang ber-selfie ria dengan payung-payung. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan.

Payung-payung tersebut adalah perlambang perlindungan yang diberikan untuk masyarakat oleh perpustakaan di era informasi yang banyak bersebaran berita bohong. Dalam buku yang berjudul Inovasi Layanan Perpustakaan dan Fenomena Hoax terbitan Yuma Pustaka disebutkan bahwa perpustakaan memberikan pelayanan informasi dan bahan bacaan pada masyarakat. Tentu informasi dan bahan bacaan yang diberikan pada masyarakat harus jelas sumber dan kualitasnya sehingga mampu menyaring informasi-informasi yang tidak jelas dari internet.

Hadiah juga disediakan bagi mereka yang rajin mengunjungi lapak baca setiap minggunya baik orang tua maupun anak-anak. Yang belum mendapat hadiah, mereka memberanikan diri untuk membacakan cerita di depan teman-teman yang lain agar mendapatkan hadiah pula. Hadiah yang disediakan merupakan donasi dari Dompet Dhuafa Jabar, alumni MTsN Kawali angkatan 1987, dan para relawan perpusdes.

Selain itu kami juga menyediakan sebuah permainan seperti ular tangga namun berbasis pendidikan berjudul Keranjang Bolong dari KPK Pusat Edukasi Antikorupsi (Cipta-Karya-Berdaya).

Cara bermainnya, tiap pemain bergantian melempar dadu dan melangkahkan bidaknya. Bila berhenti di petak makanan pemain boleh mengambil dan menyimpannya. Pemenang adalah pemain yang berhasil mengumpulkan empat makanan miliknya sendiri terlebih dahulu. Di permainan ini ada tokoh Sri Gala yang akan menyusahkan usaha pemain mengumpulkan makanan. Bila Sri Gala menginjak petak yang sama dengan salah satu pemain, maka pemain tersebut harus mengambil kartu negatif. Bila ada pemain (bukan Sri Gala) yang menginjak petak yang sama dengan pemain lain maka yang terinjak harus mengambil kartu positif (berisi ajakan untuk saling mengenali satu sama lain, bersalaman dengan pemain lain, memberi pujian pada pemain lain, dll).

Permainan ini mengajarkan anak untuk tidak mengambil makanan (barang) yang bukan miliknya, juga keberanian untuk saling mengenalkan diri kepada orang lain.

dok pri Naufalia Qisthi

Selain permainan Keranjang Bolong, ada pula PDKT (Pilihan Diri, Komitmet, dan Tanggung jawab kita). Tapi untuk sekarang tidak dipermainkan terlebih dahulu karena agak rumit dari Keranjang Bolong.

Semoga tidak hanya di Winduraja tapi di setiap daerah punya perpustakaan. Harapannya, dengan adanya perpustakaan di tiap daerah bisa membantu dalam mencetak generasi yang lebih cerdas dan berkarakter. Tentu saja dengan cara kreatif dalam mengajak agar mereka lebih semangat untuk mengunjungi perpustakaan tanpa jenuh.

Naufalia Qisthi

Relawan Taman Pustaka Hasanah Winduraja Ciamis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: