DUNIA KALI DAN KISAH SEHARI-HARI

www.goodreads.com

Dua hari sebelum hari libur selesai, aku buka chatting dari Teh Meita. Sebenarnya aku sendiri yang memulai chat ini, meminta pendapat tentang ebook yang beredar belakangan ini. Masalah legal dan ilegalnya sebuah ebook beredar. Selain itu kami berdiskusi tentang buku, Felix dan Abu Janda, serta Yogya dan keistimewaannya. Disela-sela istirahat siang, Teh Mei memberikan ebook yang katanya setelah membacanya, dia ingin berumah tangga. Ajaib, ternyata memang benar ungkapan seseorang yang pernah saya kenali, bahwa buku atau sebuah bacaan itu dapat menembus ruang hati dan pikiran yang dalam.

Sampai pada akhir chat, aku ditantang meresensi bacaan ini, judulnya “Dunia Kali dan Kisah Sehari-Hari”. Pengarang dari buku ini adalah Puthut EA. Seorang cerpenis yang katanya cerpennya mandeg di buku-buku lama alias tulisan lama. Tulisan-tulisan pada buku ini pun sebenarnya adalah kumpulan tulisannya di media digital yang bernama facebook. Beliau juga merupakan lulusan filsafat Universitas Gajah Mada, yang sebagian orang meragukan kefilsafatannya. Ah, itu kata Agus Mulyadi di bagian pengantarnya.

Buku ini terdiri dari 5 bab dan masing-masing bab memiki kemiripan tersendiri yaitu mengungkap hal-hal yang menggelitik dan rasanya memang sering terjadi di dunia nyata. Tetapi karena penyampaiannya yang unik dan sedikit lucu, pembaca merasa tulisannya memang lucu. (lagi-lagi memakai bahasa pengantar Agus Mulyadi).

Pada bab pertama, kita akan disuguhi kisah keseharian Bisma Kalijaga atau yang selalu dipanggil Kali, yaitu anak pertama dari Puthut EA. Konon nama Bisma Kalijaga merupakan nama yang cocok dari sekian nama yang akan diberikan. Karena dua tokoh pada nama tersebut merupakan tokoh favorit penulis.

Bisma yang merupakan tokoh pewayangan. Dia memiliki sifat yang luar biasa yaitu selalu menepati janji. Karena orang tua Puthut selalu mengajarkan jika janji itu harus ditepati, maka nama ini menjadi arti filsafat yang penting bagi anaknya. Sedang, Kalijaga merupakan nama sunan yang Puthut kagumi karena sifatnya yang berubah dari bengal menjadi alim (Istriku:19).

“A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man,” Itu adalah prinsip Puthut. Sesibuk-sibuk laki-laki, ia harus bisa menyisihkan waktu atau bahkan harus punya waktu tersendiri untuk keluarganya, apalagi anaknya. Puthut menyadari bahwa ada hal yang tidak boleh ditinggalkan dari masa keemasan anak. Anak harus selalu diawasi dan selalu diberikan pengarahan. Dan itu menjadi tugas Puthut, sebagai seorang ayah. Dalam situasi itulah ada banyak kesamaan Kali dengan dirinya yang terlihat oleh Puthut. Ya, bagaimanapun kita akan meyadari bahwa anak selalu mencontoh orang terdekat.

Pada bab kedua berisi Renungan Harian. Isinya adalah bagaimana aktivitas Puthut dan pekerjaannya selama di Yogya. Ada juga cerita saat ia membuat warung makan bernama warung Mas Kali yang akhirnya harus tutup. Pekerjaan Puthut di dunia tulis menulis dan bisnis tentu tidak seenak yang dibayangkan. Ada banyak masalah dan sederet persoalan ekonomi yang kadang-kadang membawa kerugian. Tetapi dalam keadaan tersebut, Puthut memberi tips dalam menulis.

Menulis itu mirip-miriplah sama sepakbola. Ada teorinya, ada prakteknya.

Kalau Anda belajar di sekolah sepakbola atau bergabung dgn tim sepakbola, pasti diajari bagaimana berlari, menendang bola, membayang-bayangi lawan, mencegat, mengoper, kerjasama tim, dan lain-lain.

Kalau Anda belajar teori menulis tanpa praktek, seperti pemain bola disuruh latihan terus tanpa pernah bertanding.

Tapi hati-hati, akan aneh kalau ada komentator bola menyalahkan pemain yang menggolkan bola lewat jejakan tumit atau betis. Hanya gara-gara nggak ada teori menendang bola dengan cara menjejakkan tumit atau lewat betis.”

“teori dan praktek

Teori itu penting.

Berlatih itu penting.

Bertanding juga penting.

Bikin gol lebih penting lagi.

Dengan cara apapun.

Maradona pun bikin gol lewat tangan. Malah dicatat dalam sejarah. Begitulah.” (Teori dan Praktek:72)

Semoga Anda paham maksudnya, ya!

Dalam bab ketiga, diceritakan komunitasnya dan kesehariannya. Hanya pada bab ketiga ini, pembaca akan disuguhi beberapa hal yang berbeda pola pikir dari bab sebelumnya. Di bab dua dituliskan seakan-akan penulis mendukung Jokowi. Bab ketiga justru mengkritik Jokowi habis-habisan, sedikit pula tentang Prabowo, hanya ulasan-ulasan pendek yang sama. Kritik. Kritik-kritiknya terhadap dunia politik dikemas apik, dan sebagaimana seorang penulis yang berdiri bebas, Puthut sepertinya tidak terikat diantara kedua kubu dua tokoh tersebut.

Di BAB keempat, kita akan menemukan sastra. Lebih tepatnya kritik sastra. Sebagaimana Goenawan Mohamad mengkritik, Puthut justru membuatnya lebih sederhana. Pembaca juga akan melihat sisi lain sosok Goenawan dan lawan sastranya, dan Goenawan yang mirip-mirip Suharto.

Menurut saya pribadi dari kelima BAB yang disediakan Puthut, BAB kelima ini yang paling menarik. Yaitu bab berjudul Menuju Langit. Dari tema yang diangkat, memang sudah jelas berisi spritual dan emosional. Bagaimana seorang penulis mampu menyuguhkan hal-hal sederhana menjadi hal yang luar biasa dan patut untuk pembaca renungkan. Dalam bagian” Tidak Ada Hal Besar Tanpa Hal Kecil” (Hal 186) kita menemukan sesuatu yang lumrah terjadi, melihat orang dari akhlaknya bagiamana seorang penjual melayani konsumen. Bisa jadi itu adalah pengantar dirinya menjadi orang besar. Tetapi untuk dunia yang serba terbalik ini, bisa jadi tidak akan terjadi. Hmm.

Hal lainnya, yang menurut saya menarik adalah tulisan berjudul “Seorang Anak Kepada Orangtuanya”. Judulnya membuat saya yakin kisahnya amat penuh dengan kesantunan. Karena dari yang diceritakan anak pada kisah ini adalah lelaki bercelana cingkrang yang berhasil menjadi sarjana tepat waktu. Orangtuanya sangat bangga pada anaknya ini, sampai pada suatu saat ayahnya yang seorang petani ini dilarang puji-pujian di masjid, karena menurut Imam anak Pak Munajat ini itu adalah perilaku bidah. Jelas jika dibandingkan dengan sarjana Pak Munajat kalah pintar. Ia pun mengalah. Rokok juga dikatakan haram oleh Imam. Pak Munajat mengalah.

“Suatu saat, emak Pak Munajat meninggal dunia. Sebagaimana biasa, digelar ritual doa bersama tetangga selama 7 hari di rumahnya, kelak dilanjut 40 hari, 100 hari, 1.000 hari dan seterusnya. Baru berjalan semalam, Imam kemudian melarang acara itu diteruskan. Bid’ah, katanya. Kali ini, Pak Munajat membantah. Dia bilang, sosok yang barusan meninggal adalah emak yang sangat disayangi dan dicintainya. Orang yang mengandung dirinya, melahirkannya, merawatnya dan membesarkannya seorang diri karena bapaknya meninggal saat dia berumur 10 tahun. Pak Munajat hanya ingin berdoa, ingin tetangga-tetangganya ikut berdoa. Dia hanya ingin menjadi anak yang berbakti. Pak Munajat memohon betul agar kali ini Imam memperbolehkannya melakukan ritual yang sangat penting itu. Imam tetap tidak memperbolehkan. Kali ini, Pak Munajat tetap bersikukuh dengan sikapnya, dia tetap ingin melanjutkan acara doa bersama sampai 7 hari. Bu Warni dengan bersimbah airmata pun memohon agar Imam memperbolehkan ritual itu. Toh mereka memakai uang mereka sendiri, bukan uang dari Imam atau dari siapapun. Imam marah luarbiasa. Dia tunjuk muka kedua orangtuanya yang masih berduka itu dan bilang: kalian kafir!” (206)

Rasanya, pembaca harus giat sekali berpikir ulang karena memang faktanya banyak hal yang sedemikian mirip dengan kejadian atau kisah-kisah yang disampaikan penulis. Bagi saya, tulisan yang disajikan memang baik, lugas, dan mencerahkan. Tetapi ada banyak bagian yang memakai bahasa Jawa, dan bagi saya itu kesulitan tersendiri dalam mengartikannya.

Dari judul-judul yang disampaikan di buku ini, saya sarankan pembaca jangan terlalu serius. Tetap rileks dan murah senyum, kalau bisa baca buku ini ketika Anda semua memang sedang tidak ada kerjaan. Selain itu, buku ini menurut saya boleh dikonsumsi bagi siapa saja, tetapi tetap dalam pengawasan orang tua.

Iis Aisyah

Iis Aisyah

pengelola Rajadesa Membaca

2 thoughts on “DUNIA KALI DAN KISAH SEHARI-HARI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: