BELAJAR EKONOMI DARI NOVEL “NEGERI PARA BEDEBAH”

dok pri Herik Diana

Kalau Anda pernah nonton film-film James Bond, atau pernah membaca novel karya Dan Brown berjudul The Da Vinci Code, sepertinya novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye cukup sepadan dengan karya fiksi terjemahan dan film-film tersebut. Novel ini memiliki nuansa cerita “dikejar waktu”.

 

Tokoh utamanya, bernama Thomas, hanya punya waktu dua hari untuk menyelamatkan Bank Semesta dari kemungkinan ditutup total oleh pemerintah. Sang Tokoh Utama yang memang ahli keuangan melihat celah bahwa bank tersebut masih bisa diselamatkan. Diramu dengan plot kejar-kejaran antara Thomas dengan para petugas kepolisian. Pihak petugas mengincar Sang Tokoh Utama karena dianggap melarikan pemilik bank.

 

Novel ini kaya akan istilah ekonomi. Sebagai contoh, tokoh Thomas terlihat bombastis ketika menjelaskan tentang situasi ekonomi yang terjadi. Pada halaman 13 contohnya, Thomas saat itu menjelaskan tentang krisis global dalam sebuah seminar. Perumpamaannya sangat menarik.

 

Si Om Teroris ini – maaf, saya bosan menyebutnya dengan krisis ekonomi global, subprime mortgage, atau apalah nama binatang itu, terlalu panjang dan mual mendengarnya – setiap hari ada di televisi, koran, radio, internet, bahkan sopir taksi tidak ketinggalan. Saya akan menyebutnya dengan Om Teroris saja. Ada yang keberatan?

 

“Ya, ya, saya tahu di pojok sana keberatan.” Aku pura-pura memasang wajah serius.” Tetapi di dunia dengan sistem ekonomi saling bertaut, tidak ada batas pasar modal dan pasar uang, krisis seperti ini lebih menakutkan dibanding teror dari ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri. Kita tidak pernah melihat indeks saham terjun bebas, seperti hari ini ketika dulu menara WTC dihancurkan, bukan? Bahkan indeks tidak berkedut ketika kapal selam nuklir Soviet memasuki perairan Amerika di era perang dingin. Hari ini, semua orang panik, satu persatu seperti anak kecil menunggu jatah permen, perusahaan raksasa mendaftar perlindungan kebangkrutan, dan harga surat berharga menjadi sampah, tidak lebih dari harga selembar kertas polio kosong.” Aku ekspresif menjentik selembar kertas, membiarkannya jatuh dari atas meja.

 

Begitulah alinea/paragraf pada awal pembuka novel tersebut. Menjelaskan langsung karakter dan tokoh Thomas, sebagai pengamat dan ahli keuangan, yang bisa menjelaskan persoalan ekonomi dengan bahasa yang lebih sederhana dan lebih membumi.

 

Begitu juga ketika Thomas menjelaskan apa yang dia cemaskan ketika dunia dikuasai oleh orang-orang yang terlalu kaya pada seorang wartawan dengan ilustrasi yang sederhana. Dalam novel ini tampak bahwa penulisnya faham betul tentang ilmu ekonomi. Tidak perlu disangkal, Tere Liye, Sang Penulis, adalah lulusan fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Novel ini juga mengisahkan tentang bagaimana seorang anak, yang tadinya tidak pernah dilibatkan dalam bisnis keluarga, tiba-tiba terketuk hatinya untuk membantu menyelamatkan bisnis keluarga. Yup! Novel ini kaya akan sebuah filosofi makna kekeluargaan dan juga pengkhianatan.

 

Novel ini sejatinya mengajarkan kita untuk selalu mandiri dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tokoh Thomas, memilih menjadi konsultan keuangan dan mendirikan bisnisnya sendiri dibandingkan dengan menjadi pekerja atau direktur sekalipun, di bawah naungan bisnis keluarga. Padahal Thomas telah dibujuk oleh Opa-nya untuk mengelola sebuah bank, yang telah didirikan Om dan ayah kandungnya. namun Thomas dengan tegas menjawab, “Aku akan membuka kantor sendiri. Terima kasih atas tawarannya.”

 

Sayangnya novel ini berakhir dengan menggantung. Sepertinya akan bersambung. Meskipun begitu, suguhan yang tidak biasa ala Tere Liye ini cukup setara, seperti membaca karya-karya novel terjemahan Dan Brown, Jhon Grisham, atau Sidney Sheldon.

 

Novel ini akan membuka mata siapapun yang membacanya, terutama bagi para mahasiswa dan lulusan-lulusan sarjana ekonomi serta yang berminat pada urusan ekonomi. Istilah-istilah perekonomian yang disisipkan dalam penjelasan sederhana akan semakin memperkaya kosakata dan perbendaharaan kalimat.

 

Tentu saja cerita dalam “Negeri Para Bedebah” ini adalah fiksi. Novel terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama tahun 2013 ini bisa dikatakan cukup tebal karena berjumlah 433 halaman. Dikemas dengan sampul yang mengingatkan kita pada tokoh cerita komik Si Petruk. Cover buku tersebut bergambar orang memakai pakaian lengkap jas berdasi, namun berhidung panjang seperti Pinokio, tokoh boneka yang jika berbohong hidungnya akan langsung memanjang. Ditambah ada gambar pendukung lainnya di bawah setelah jas itu, yakni gambar serigala berbulu domba.

 

Yup! Dari cover depannya saja, ditambah dengan judulnya yang ada kata “Bedebah”-nya, telah cukup mengaduk rasa penasaran. Bagi yang tidak suka baca, tentu saja cover sebagus dan semenarik apapun, tidak akan dilirik. Tapi bagiku, yang suka baca novel fiksi, cover ini sungguh brilian.

 

Tokoh menarik lainnya dalam novel ini ada Julia, sang wartawan majalah mingguan yang mewawancarai Thomas, diceritakan tidak seperti wartawan kebanyakan. Ia mencari tahu lebih detail daripada wartawan yang ada di sekelilingnya sehingga ia pun terjebak dalam kejar-kejaran polisi bersama Thomas.

 

Tokoh Kadek juga mengasyikan. Dia ahli mengemudikan kapal pesiar mewah serta jago dalam hal memasak. Staf khusus kantor lembaga konsultan keuangan milik Thomas, Maggie, sepertinya juga menjadi bumbu menarik dalam cerita Negeri Para Bedebah ini. Maggie harus tahan mental dan tahan banting, karena sang bos selalu memberikan instruksi-instruksi mendadak yang harus segera dilaksanakannya.

 

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, tampaknya novel ini cukup menghibur dan menambah wawasan tentang dunia perbankan dan istilah-istilah ekonomi dengan mudah difahami. Menurutku, sebuah ilmu akan mudah dipelajari lewat fiksi-fiksi menarik dengan bahasa yang mudah dicerna. Novel ini adalah salah satu contohnya. Teruslah berkembang penulis-penulis Indonesia! Kami siap membaca dan mengulasnya!

Herik Diana

Perintis dan pengelola TBM Haidar Di Desa Cisambeng Kec. Palasah Kabupaten Majalengka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: