AKU DAN BUKU (1): BERMULA DARI KEBIASAAN ORANG TUA

dok pri Kang Priatna

IBUKU suka sekali membaca dan karena itulah sejak dikandung, aku, demikian juga kakak perempuanku, sudah diperkenalkan pada buku. Demi ibuku, ayah yang jadi guru di SD,  sering membawa buku  dari perpustakaan SD, dan dikembalikan jika sudah selesai ibu baca. Buku yang ayah pinjam buku berbahasa Sunda dan berbahasa Indonesia, kebanyakan buku cerita fiksi.

Saat usia kandungan hampir sembilan bulan, ibu, menurut cerita kakak, berhenti dulu membaca, apalagi setelah melahirkan dan menyusui. Usiaku menginjak tiga bulan ibu menyempatkan lagi membaca, kalau aku sudah tidur dan tidak rewel. Masih cerita kakak, ibu menamatkan baca buku yang terhenti dibaca saat bersiap-siap akan melahirkan anak keduanya.

Kakak perempuanku juga gemar membaca, seperti ibu. Ayah bertambah sering membawa buku ketika pulang mengajar, terkadang buku yang dibawa ayah sudah dibaca ibu atau kakak. Kalau rentang waktu memimjamnya sudah lama, oleh ibu dan kakak buku tersebut dibaca ulang. Supaya tidak kekurangan bahan bacaan ayah kerap meminjam buku dari teman-temannya.

Ibu dan kakak biasanya membaca buku selepas asar dan selepas isya. Waktu antara magrib dan isya dipakai untuk mengaji al-Qur’an. Kalau membaca malam hari, lampu minyak tanah yang semula ditempel di dingding dipindahkan ke meja, diletakan dekat sekali dengan buku. Bisa dibayangkan perjuangan untuk bisa membaca di kala listrik belum masuk desa.

Ibu bercerita ketika sudah pandai merangkak, kadang-kadang aku merebut buku yang sedang dibacanya. Buku itu lalu kupegang erat-erat, sehingga lembaran keretasnya kusut. Menginjak usia tiga  tahun setengah, menurut ibu, aku tidak pernah lagi merebut buku. Cuma, aku sering kali memandang ibu dan kakak yang sedang membaca dengan sorot mata yang penuh tanda tanya.

Mungkin saat itu aku merasa heran, sedang ngapain ibu dan kakak kok asyik sekali melihat ke keretas, bahkan kadang mereka tersenyum-senyum sendiri, kadang-kadang juga menampakan wajah sedih, tegang dan setelah itu kemudian menarik napas panjang. Ngapain juga ayah kalau pulang ngajar seringnya membawa buku atau majalah bukan makanan.

Ibu atau ayah ketika akan menidurkan aku, sering mendongeng, seperti dongeng fabel kancil dan buaya, siput lomba lari dengan kancil, cerita si Kabayan, dan banyak lagi. Dampaknya ibu dan ayah jadi kerepotan, karena aku ketagihan mendengarkan dongeng. Hampir tiap malam kalau mau tidur aku minta ibu atau ayah untuk mendongeng.

Lama-lama kedua orang tuaku kehabisan stok dongeng. Bisa jadi ibu atau ayah sewaktu-waktu mendongeng cerita karangannya sendiri, karena ketika aku sudah pandai dan banyak membaca, hingga saat ini, tidak menemukan cerita yang didongengkan oleh ayah atau ibu. Satu di antaranya dongeng persahabatan kancil dan banteng sehingga mampu mengecoh harimau.

Dongeng tentang kacil dan banteng “dikeluarkan” ayah beberapa hari setelah berwisata ke Pangandaran dan berjalan-jalan di Cagar Alam Pananjung bersama rombongan guru-guru. Ibu, ayah dan aku naik “saung ranggon” , saung yang tinggi, dan aku melihat kawanan binatang yang menyerupai kerbau, menurut ayah, itu banteng sedang merumput dengan, kata ayah lagi, kancil.

Kancil dalam bahasa Sunda disebut “peucang”, binatang yang lincah cerdik, licin, kadang-kadang licik sehingga selalu dapat meloloskan diri dari marabahaya, dan mampu menolong binatang atau orang yang keselamatannya terancam. Aku lihat di Pananjung gambaran kancil dalam dongeng sesuai dengan kenyataannya: kecil, mungil, tapi gerakannya gesit.

Walaupun telah berkunjung ke Pangandaran, khazanah dongeng ayah dan ibu tampaknya memang sudah terkuras. Suatu malam karena ibu sudah tidak punya lagi dongeng yang diketahuinya, saya ngadat pada ayah meminta mendongeng. Ayah pun pada mulanya kebingungan, mungkin memikirkan cerita apa lagi yang harus didongengkan padaku.

Sejurus kemudian, ayah mulai bercerita. Ayah bercerita tentang seorang anak kecil yang sangat disayangi oleh kakek neneknya baik dari ayah maupun dari ibu. Diceritakan pula tentang kesukaannya makan ikan tawar bakar. Punya kakak perempuan satu. Tentang kakek dan nenek anak kecil itu juga diceritakan, termasuk tempat tinggalnya.

Asyik sekali mendengarkannya, namun ibu kelihatan senyum-senyum sendiri. Apalagi ketika ayah saya menyebutkan anak kecil tersebut hampir setiap malam nangis kalau ayah dan ibunya tidak mau mendongeng sebagai pengantar tidur. “De (ayah, ibu dan kakak memanggilku Dede), ayahmu mendongeng tentang dirimu,” kata ibu sambil tersenyum.

Aku terlonjat kaget. Wah, aku dikerjain ayah. Dongkol sekali. Aku memukul-memukul ayah dan merengek pada ayah untuk menceritakan dongéng yang lain. Aku baru reda ketika ayah menceritakan pengalamannya waktu dicegat sekawanan kera di pinggir hutan ketika akan mengajar di SD yang terpencil sewaktu masih bujangan. Untung ada anjing lewat, kera sangat takut pada anjing.

Sudah tidak punya dongeng lagi,  ibu berganti strategi. Ibu tidak lagi mendongéng, tetapi membacakan dongeng dari buku. Kalau bukunya berbahasa Indonesia, ibu menterjemaahkannya langsung ke dalam bahasa Sunda. Kalau bukunya bahasa Sunda, dibacakannya agak keras. Aku yang berbaring di sampingnya mendengarkan sambil memparhatikan gerakan bibir dan mimik ibu.

dok pri kang Priatna

Ibu membacakan dongeng dari buku “Taman Pamekar”, jilid satu sampai jilid lima, “Gandasari”, “Rusdi jeung Misnem”, dan banyak lagi yang semuanya berbahasa Sunda. Bahasa Indonesianya: majalah Si Kuncung terbitan Indrapress serta dari buku yang dipinjam ayah dari perpustakaan SD. Terkadang juga diambil dari buku “Hikayat 1001 Malam” yang berasal dari Timur Tengah.

Aku kerap membolak-balik buku yang tergeletak di kasur atau di lantai, hanya dilihat-lihat gambarnya, karena aku belum bisa membaca. Menurut ibu, aku sering berpura-pura membaca dengan memperhatikan tulisan di buku. Bibirku bergerak-gerak seperti sedang membaca dalam hati. Ya, itu mencontoh ibu dan kakakku ketika sedang membaca.

Mungkin merasa bosan membacakan cerita di buku atau di majalah, ibu memanas-manasiku agar bisa membaca buku. Kakak mengatakan kalau ibu atau ayah membacakan dongeng atau cerita tidak seluruhnya dibaca, banyak yang dilewatinya, apalagi kalau cerita atau dongengnya panjang. “Supaya puas, belajarlah membaca,” kata kakak.

Aku jadi mendidih mendengarnya dan bersemangat sekali belajar membaca, menghapalkan dan melavalkan huruf demi huruf. Setelah mampu merangkai huruf dengan huruf dalam satu kata dengan metode yang dipakai saat itu, saya dibimbing membaca Taman Pamekar jilid satu yang sebenarnya bacaan buat siswa kelas 2 SD, bukan untuk anak usia prasekolah.

Akhirnya aku bisa membaca dan ketika masuk SD akulah satu-satunnya siswa yang sudah pandai membaca. Membaca pun menjadi candu bagiku. Bahan bacaan tidak sampai berkurang, ayah berlangganan majalah Mangle,  Galura dan Giwangkara yang semuanya berbahasa Sunda. Sering membaca buku sambil makan, nasi dan lauknya habis pun tidak terasa.

Beruntung, saat aku keranjingan membaca, pemerintah pusat mengeluarkan biaya yang besar untuk pengadaan buku yang dibagikan ke perpustakaan sekolah, melalui intruksi presiden (inpres) sehingga dikenal dengan nama buku inpres. Buku inpres dimulai pada akhir tahun 1970-an sampai tahun 1980-an, bukunya didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh pelosok Nusantara.

Ayah kerap ditugasi untuk membuat kode buku dan mencatatnya di buku katalog yang masih sederhana   Ayah mengerjakannya di rumah. Tidaklah heran yang pertama kali melahap buku inpres adalah aku, ibu dan kakak. Buku yang menjadi sasaran utamaku: buku-buku cerita dan dongeng. Aku pun mengenal Cerita Panji, Timun Emas, Damar Wulan, dan banyak lagi.*** (bersambung)

Kang Priatna

Kang Priatna adalah Penulis yang banyak menulis dengan bahasa Sunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: