MENJERAT PELAJARAN BERANI MENYUARAKAN PENDAPAT UNTUK INDONESIA DARI NOVEL LAUT BERCERITA

tagar.id

Liburan semester kemarin saya ditemani oleh Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel ini merupakan perpaduan antara fiksi dan nonfiksi di mana di dalamnya terdapat cerita petualangan yang diselipi tentang cinta keluarga yang begitu besar. Setiap judul dalam buku ini menggunakan nama tempat sekaligus tahun kejadian. Mulai dari “Sayegan, 1991” hingga “Di Depan Istana Negara, 2007” dan epilog “Di Hadapan Laut, di Bawah Matahari”. Di samping sampul bukunya yang menarik, ketika membaca bagian prolog sudah dapat saya ketahui bahwa saya (yang belum lama mencicipi bangku kuliah) akan banyak menemui konflik dan semangat mahasiswa di dalam buku ini.

 

Buku ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama diceritakan oleh Biru Laut. Biru Laut merupakan tokoh yang bersifat pendiam, memiliki ketertarikan dalam dunia menulis, dan berhati tulus. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Inggris UGM dengan alasan “Ingin bertemu dan belajar dari orang-orang yang berdiskusi dengan pemikiran besar.”

 

Bagian kedua diceritakan oleh Asmara Jati, adik Laut yang lebih menyukai hal-hal yang realistis dan dapat dibuktikan dengan ilmiah. Ia merupakan lulusan UI jurusan kedokteran. Asmara memiliki hati yang tegar dan lembut.

 

Saat masa orde baru, membaca maupun membawa buku karya sastra tertentu seperti karya Pramoedya Ananta Toer dilarang oleh pemerintah sebab dianggap berbahaya dan bisa dituduh pengkhianat bangsa. Namun Biru Laut yang sudah mencintai dunia sastra tetap mendiskusikan karya-karya terlarang tersebut bersama teman-temannya yang lain seperti Gala, Alex, Sunu, dan Kinan di sebuah tempat persembunyian.

 

Mereka bercita-cita untuk menggulirkan orde baru sebab merasa presiden tidak dipilih berdasarkan pemilu yang betul-betul adil. Pilar-pilar tidak berfungsi dengan baik, perangkat hukum dan parlemen berada digenggaman seorang diktator, dan pers tidak bisa bebas.

 

“Apakah kita akan pernah hidup dalam Indonesia yang tidak demikian? Indonesia yang tak perlu membuat para aktivis dan mahasiswa yang kritis harus hidup dalam buruan dan sesekali mendapat bantuan dari berbagai orang baik?”

 

Berbagai siksaan yang mereka alami seperto disetrum, dipukuli, disiram, dan disuruh berbaring di atas balok es hingga akhirnya jadi buronan tidak lantas membuat semangat mereka menciut dalam menyuarakan pendapat. Mereka yakin bahwa setiap langkah yang mereka lakukan baik terlihat maupun tidak terlihat, terasa atau pun tidak terasa, itu tetap merupakan sebuah kontribusi, sebuah langkah menuju Indonesia yanng lebih baik. Hingga akhirnya Laut dan kedua belas orang lainnya hingga saat ini masih bersatus dihilangkan.

 

Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah ketika menceritakan kehangatan keluarga Biru Laut yang mempunyai ritual makan bersama di hari Minggu dengan ditemani tengkleng buatan ibu. Menurut Laut itu adalah tengkleng terenak sedunia dengan dilengkapi acar yang wajib ada dalam setiap jenis masakan apa pun. Bagaimana mereka begitu tetap membersihkan kamar Laut dengan rutin dan tetap menyediakan empat piring walau pun Laut tidak pernah kembali. Orangtua Laut menolak mengakui bahwa Laut tak akan pernah kembali.

 

Asmara, adik perempuan Laut, yang merupakan seorang dokter merasa bahwa orangtuanya semakin menjauh sebab mereka tak mau keluar dari kepompong penyangkalan. Ketidakpastian memang selalu menjadi hal yang menyakitkan. Asmara tetap tegar hingga akhirnya ibunya mulai membuka mata dan hati bahwa ia masih mempunyai seorang anak yang selama ini dengan sabarnya berusaha memberi pengertian.

 

Namun saya sempat bingung saat membacanya sebab buku ini menggunakan alur maju-mundur. Menurut saya buku ini adalah novel untuk dewasa dengan pemikiran dan penjabaran siksaan yang sulit dibayangkan oleh remaja. Saya rekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh mahasiswa karena novel ini bercerita tentang perjuangan para mahasiswa dalam menegakkan keadilan untuk rakyat dan untuk Indonesia yang lebih baik.

Naufalia Qisthi

Relawan Taman Pustaka Hasanah Winduraja Ciamis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: