KAWALI PAGI, LAPAK BACA GRATIS!

facebook.com/galuhkinasih

Setiap pagi di hari Minggu, selalu ada yang berbeda di Kawali, Kabupaten Ciamis. Satu perubahan yang indah, mengubah dari sekadar lapangan bola menjadi taman. Taman Surawisesa. Di Taman Surawisesa inilah setiap Minggu pagi diadakan Car Free Day. Banyak orang-orang berkumpul, mulai dari yang sekadar lari pagi, berjualan, badminton, dan latihan silat. Pemandangan lain yang tidak kalah menarik justru tertuju ketika ada lapak baca gratis bagi pengunjung Taman Surawisesa di Minggu pagi dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 08.00 WIB.

 

Pengunjung yang tadinya sekadar jalan-jalan bisa berteduh dan membaca buku secara gratis yang disediakan oleh relawan Winduraja Membaca. Winduraja ternyata sudah terkenal dengan perpustakaan yang dimilikinya dan koleksi bukunya yang lengkap. Itulah yang pertama kali diketahui orang tentang Perpustakaan Desa (Perpusdes) Winduraja terutama bagi pelajar disekitar Kawali.

 

Pengunjung yang datang ikut car free day ini bukan hanya dari Kawali saja, banyak juga dari kecamatan-kecamatan lainnya yang ikut memeriahkan Minggu pagi di Taman Surawisesa. Misalnya dari kecamatan Jati, Cipaku, dan Rajadesa. Salah satu pengunjung yang lumayan jauh pagi ini (4/2/2018) ternyata dari kecamatan Jati. Ketika penulis bertanya apa manfaat hadir ke taman ini, ia menjawab sekadar untuk jalan-jalan atau berolahraga. Pertanyaan berlanjut dengan pendapat adanya lapak baca gratis. Jawabannya terlalu mainstream karena biasa saja. Mungkin karena memang sudah biasa melihat atau memang tidak peduli adanya lapak baca.

 

Saya langsung teringat perkataan Teh Meita bahwa membaca dan menulis adalah aktivitas yang tidak bisa dipaksakan pada seseorang. Seseorang suka dan minat baca karena dia sendiri yang sadar akan pentingnya baca. Bukan sesuatu yang perlu dipaksakan.

 

Baiklah, pendapat bisa berbeda. Saya terus telusuri trotoar taman, berharap ada yang bisa saya tanya lagi. Tapi sepertinya memang waktu sudah sangat siang, dan bertanya kepada orang yang berada jauh dari lapak baca akan sangat tidak bermanfaat. Pasti tak akan diacuhkan.

 

facebook.com/galuhkinasih

Ada yang lucu, Minggu lalu saya juga ikut ngelapak di Tamsur (Taman Surawisesa) ini. Seorang Ibu datang dan ingin meminjam buku. Relawan meminta membacanya di sekitar lokasi. Kemudian si Ibu melihat-lihat buku yang berjejer dan mengambil satu buku. Tentang pengelolaan perikanan. Ibu itu langsung mengutarakan bahwa buku tersebut salah tanpa membacanya terlebih dahulu. Dia mengatakan bahwa apa yang ada di dalam buku tidak seperti pengalamannya. Ia sendiri berjualan ikan. Relawan-relawan saling beradu pandang, entah bingung harus berbicara apa atau merasa lucu dengan kejadian ini. Satu relawan memberi solusi sebaiknya si Ibu penjual ikan mencoba membuat buku bagaimana mengelola ikan yang baik. Solusi yang bagus, untuk kejadian unik. Mungkin itu juga manfaat membaca. Tidak hanya ditelan mentah-mentah tetapi juga dicerna dan jika memungkinkan dikomentari dan dibuat buku tandingan.

 

Saya hanya mencoba bertanya pada orang yang jauh dari lapak baca. Mungkin nanti saya akan coba bertanya pada mereka anak-anak yang sering membaca di sana. Saya yakin akan ada yang istimewa selain perkataan yang biasa saja. Karena saya juga melihat banyak Ibu-Ibu, anak-anak, dan pengunjung Tamsur yang asyik dengan memilah-milah buku bacaan dan duduk disekitar buku. Artinya daya tarik buku masih cukup menggiurkan.

 

Lapak baca, minat baca atau apapun yang berkaitan dengan baca sepertinya memang terlihat sepele bagi yang tidak ada niatan membaca.  Saya sendiri datang dari kecamatan yang cukup jauh untuk sekadar mencari bahan bacaan, dan menemukan komunitas seperti halnya Winduraja Membaca. Bagi saya kegiatan lapak baca ini harus terus tumbuh, dan sayangnya di kecamatan saya lapak baca atau yang berkaitan dengan baca untuk umum itu sangat langka.

 

Empat tahun lalu saya sebagai mahasiswa harus mau dan bahkan sengaja ke toko buku di Tasikmalaya untuk mencari bahan bacaan di hari libur. Hari ini, saya mengunjungi lapak baca bukan untuk hal yang lain, niatnya benar-benar mencari bahan bacaan. Karena bagi saya, saya tidak harus jauh ke Tasikmalaya untuk membeli buku dan melihat buku bacaan. Kawali sudah punya sesuatu yang bermanfaat dan gratis untuk dibaca. Saya berharap koleksi buku yang ada sudah bisa ditambah dengan buku-buku yang baru.

 

Beramal tidak perlu dengan harta. Senyum, menyebar luaskan ilmu juga bagian dari ibadah. Semoga terus jaya lapak-lapak baca dimanapun berada.

Iis Aisyah

Iis Aisyah

pengelola Rajadesa Membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: