SEBUAH USAHA MENOLAK LUPA DAN MENOLAK BUNGKAM

www.imgrum.org

Apa yang ada di benak kepala teman-teman semua ketika membaca atau mendengar sebuah buku kumpulan cerita pendek yang berjudul “Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh”? Apakah sebuah cerita yang berlarut-larut? Atau sebuah kumpulan cerpen yang tidak akan pernah ada habisnya untuk di baca? Atau Sebuah cerita fiksi yang terlalu melenceng dari alur cerita seperti sinetron?

 

Saya akui, semua pertanyaan di atas tersebut adalah pertanyaan dari benak kepala saya sendiri ketika pertama kali menatap sebuah judul, Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh.

 

Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh merupakan sebuah upaya menerbitkan ulang cerpen-cerpen dari seorang penulis kelahiran Rembang bernama Puthut EA. Cerpen-cerpen ini terkumpul dalam sebuah tema tertentu. Terbitnya buku ini berdasarkan gagasan dan dukungan oleh beberapa sahabat si penulis.

 

Dalam buku ini Puthut EA menggali tragedi-tragedi kelam yang terjadi di negeri ini. Menceritakan lima belas kisah tentang tragedi kemanusiaan. Menceritakan mereka yang bungkam, mereka yang ditindas dan mereka yang hilang entah kemana pada zaman orde baru. Puthut EA menjadi juru bicara bagi korban, manusia yang dikalahkan lantas dipaksa menyerah.

 

Bukan sebuah peristiwa atau tragedi heroik yang telah Puthut EA tulis. Akan tetapi ia menuliskan hal yang biasa saja. Dimulai dengan cerpen yang menjadi judul buku ini, “Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh”. Sebuah cerita monolog tokoh bernama Wening yang mengingat masa lalunya. Mengingat tentang keluarga, mengingat tentang manusia yang dihilangkan secara paksa. Dibalut cerita cinta dengan kekasihnya bernama Bagus, seorang mahasiswa yang hilang entah bagaimana dan kenapa. Mulai dari sini kita tahu kalau buku ini mencoba mengingatkan kembali tentang peristiwa penculikan aktivis 1998.

 

Bukan sebuah cerita heroik yang ia tulis. Puthut EA hanya menceritakan tentang seorang tukang nasi goreng bernama “Koh Su” yang cita rasa nasi gorengnya menjadi legenda di masyarakat. Sehingga membuat nama Koh Su menjadi kata kerja untuk aktivitas membuat nasi goreng, yaitu: Ngohsu. Koh Su hilang entah kemana. Ada yang bilang Koh Su melarikan diri, ada yang bilang Koh Su mati dikubur bersama puluhan orang komunis di sumur tua. Ada juga yang bilang Koh Su lenyap dalam peristiwa berdarah di dusun Ngandang yang kini nama Daerah tersebut berganti menjadi Bangunrejo. Mana yang benar? Koh Su pun menjadi misteri besar.

 

Dalam cerpen “Doa Yang Menakutkan”, menggambarkan keyakinan dalam beragama yang semestinya mendamaikan malah menjadi sebuah petaka. Tembok masjid dihancurkan, karpet di dalam masjid dibakar, masjid tempat biasa mengaji di robohkan. Sehingga menimbulkan trauma tersendiri saat doa-doa terdengar oleh si tokoh.

 

Menurut saya cerpen yang berjudul “Retakan Kisah” merupakan cerpen yang paling memilukan. Bercerita tentang perjuangan perempuan-perempuan tangguh dalam menghadapi ketidakadilan sistem pemerintahaan saat itu. Seorang guru TK yang ditangkap, lalu ditahan, disiksa, dinistakan, dan dilecehkan tak berharga diri.

 

Buku ini ditutup dengan cepen berjudul “Sisa Badai Di Sepasang Mata”. Sepasang mata itu bercerita tentang ia dan keluarga yang terusir dari rumahnya sendiri. Rumahnya diubah menjadi yang sama sekali ia tidak mengerti. Sementara si tokoh merasa terteror oleh sepasang mata itu karena ia merasa menjadi orang-orang berpendidikan yang dimaksud dengan tas berisi berkas penelitian tentang kandungan tanah di daerah itu.

 

Saran saya, jika teman-teman ingin membaca kumpulan cerpen Puthut EA sebaiknya sediakan segelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng. Ini akan membantu teman-teman untuk cepat larut membaca dan masuk ke kisah itu sendiri. Dan satu lagi, jangan coba-coba menebak akhir dari kisah-kisah tersebut. Biarkan imajinasimu bertamasya. Puthut EA telah meyiapkan kejutan di setiap kisahnya.

 

Dalam kisah-kisah tersebut saya hampir percaya kalau semua itu adalah kisah nyata. Fiksi tetaplah fiksi yang harus bisa masuk di akal. Pada akhir kisah saya tersadar kalau ini adalah sebuah sebuah usaha menolak lupa dan menolak bungkam.

 

Kisah-kisah ini hanya fiksi, hanya kisah ‘kebohongan’ dari kebenaran yang dilupakan. Begitulah kalimat yang tercantum dalam sampul belakang buku ini.

***

 

Judul buku: Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh

Penulis: Puthut EA

Penerbit: EA Books

ISBN: 978-602-1318-05-8

Halaman: xiii + 184 hlm, 13cm X 19cm

Cetakan pertama, Februari 2014

Allan Maullana

Penulis di kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: