SUNAH SEDIRHAM SURGA

www.bukalapak.com/

‘Sunah Sedirham Surga’ salah satu buku Salim A. Fillah yang terbit tahun 2017. Buku yang terdiri dari empat bab umum dan banyak judul kecil di dalamnya ini, menceritakan banyak kisah tentang Islam.

 

Meresensi buku ini perlu berpikir lama untuk memilih judul yang baik untuk diangkat. Bukan karena susah mencari, tetapi karena buku ini semua berisi keteladanan dari para pendahulu, dan kisah-kisahnya pun panjang-panjang.

 

Diawali dengan kata mutiara “untuk mencari kesalahan alat utama, yang kita perlukan adalah cermin bukan topeng” kemudian daftar isi berlanjut pada judul besar ‘Teladan Salaf untuk Para Mukallaf’. Apa itu mukallaf? Mukallaf berasal dari kata bahasa Arab berarti orang dewasa yang balig dan berakal. Artinya isi buku ini diperuntukan untuk orang yang merasa dirinya sudah merasa dewasa diiringi balig dan berakal. Inti dari bab pertama sebenarnya bukan mukallafnya tapi kisah-kisah keteladanan yang ditunjukkan ulama pada waktu terdahulu.

 

Di bab kedua kita akan menemukan judul besar ‘Belajar Bajik dari Ulama Klasik’. Sama halnya dengan bab satu, pada bab kedua pun kita akan menemukan banyak keteladanan dari ulama-ulama terdahulu dengan banyak judul kecil. Diantaranya ada ‘Kurang Piknik’ dan ‘Aku Tak Tahu’. Dalam catatan ini kita bisa tahu ternyata Imam Malik yang merupakan salah satu imam mutlak yang kurang piknik. Bahkan hanya sedikit melakukan rihlah ilmiyah. Beliau mencukupkan diri dengan ilmu dan atsar dari guru-gurunya di Madinah. Bahkan dikatakan beliau nyaris tidak pernah keluar dari Madinah sepanjang hidupnya. Meskipun demikian, wibawa orang kurang piknik inilah yang membuat para Khalifah atau pemimpin waktu itu merunduk kepada beliau.

 

Di bab dua ini ada kisah menarik lainnya yang datang dari seorang pemuda yang bertanya kepada Syaikh, ” Wahai Syaikh, manakah yang lebih baik, seorang Muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaknya buruk ataukah seorang yang beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama?

 

Subahanallah, keduanya baik,” ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

 

Mengapa bisa begitu?” tanya pemuda.

 

Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlak mulia bersebab ibadahnya. Dan orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepada-Nya,” jawab Syaikh.

 

Jadi siapa yang lebih buruk?” desak pemuda tadi.

 

Air mata mengalir di pipi Syaikh.

 

Kita anakku, Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali mengahabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.” Sambil terisak-isak beliau melanjutkan perkataannya, “padahal akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain” (161)

 

Pada bab ketiga memakai judul besar ‘Oratoria Para Kesatria’. Judul kecil dari bab ini banyak menyangkut hal-hal yang bersifat perjuangan baik dari segi praktek maupun perjuangan batin. Ciri khas seorang ksatria yang bisa mengalah padahal dalam posisi menang mungkin bisa diibaratkan pada kisah-kisah ini. Seperti halnya pada ungkapan, “memaafkan bukanlah karena orang yang bersalah layak dimaafkan. Memaafkan itu, bagi kita karena kita sungguh berhak untuk dianugerahi ketenteraman hati.”

 

Bab terakhir berjudul ‘Belantara Cendekia Nusantara’ , yang berisi banyak kisah-kisah teladan ulama di Indonesia. Saling menghargai antar sesama dan perbedaan menjadi ciri khas pada bab ini.

 

Membaca buku ini nyaris seperti bacaan saya terdahulu yaitu Biarkan Hatimu Tertawa. Karena ada saja hal lucu yang tersaji dalam buku ini, yang semakin kita yakin bahwa Islam tidak seseram yang dipikirkan orang.

 

Untuk mengakhiri resensi, saya akan kutip kisah jenaka yang ada pada bagian pengantar buku ini. Imam Shafiyudin Muhammad bin ‘Abdurrahim Al-Hindi, seorang faqih madzhab Syafi’i di jazirah anak benua sering mendapat cibiran orang bersebab tulisan tangannya yang jelek. “Isinya masyaallah, tapi tulisannya innalillah. Ilmunya anugerah, tapi khat-nya musibah,” demikian kira-kira dikatakan orang jika membaca bukunya. Pada masa itu dalam pencetakan buku, pelatnya masih tetap harus dijiplak dari tulisan asli penyusunnya.

 

Suatu hari aku pergi ke toko buku, lalu aku mendapatkan sebuah buku yang tulisannya sangat jelek. Aku sangat yakin bahwa tulisan di buku itu jauh lebih jelek dari tulisanku“, demikian beliau berkisah. “Lalu aku membelinya dengan harga mahal, untuk membantah perkataan orang bahwa tulisanku adalah tulisan yang paling jelek. Tanpa menyeksamai isinya terlebih dahulu, aku pun membawanya pulang ke rumah.”

 

Sesampai di rumah aku pun membacanya” pungkas beliau “ternyata buku itu adalah tulisanku yang dulu“.

Iis Aisyah

Iis Aisyah

pengelola Rajadesa Membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: