BELAJAR LITERASI DIGITAL DI PERPUSJAL BEKASI #15

web.facebook.com/bayu.nggakpenting

Dari pintu masuk, Pasar Modern Harapan Indah Bekasi tampak ramai. Beberapa motor bersliweran di depan kami. Lampu dari warung tenda bergemerlapan memberikan cahaya di tengah gelapnya malam. Jam menunjukkan hampir pukul 8 malam ketika aku dan suamiku tiba di depan Angkringan dan Shisa Mazberto Jogja setelah mengelilingi komplek pasar itu. Di depan warung tenda itu, orang-orang duduk melingkar seperti pada acara kenduri.

 

Suamiku lalu mengajakku bergabung dengan orang-orang yang duduk melingkar itu. Sebelumnya, dia menyalami Mas Bayu dan teman-teman dari Perpustakaan Jalanan Bekasi, yang punya acara. Aku memandangi sekilas orang-orang yang hadir. Selain Diana, ada beberapa orang lagi relawan Rumah Pelangi Bekasi yang hadir. Ada juga Om Bisot, seorang blogger, yang didapuk sebagai narasumber. Narasumber yang lainnya adalah Endra Kusnawan, penulis buku Sejarah Bekasi. Beberapa orang lainnya aku seperti pernah melihat tapi tak tahu siapa. Mungkin aku lihat sepintas lalu di Facebook. Walaupun datang terlambat, nampaknya kami tidak tertinggal banyak sebab aku mendengar acara masih sampai di sesi perkenalan.

 

Sabtu malam itu (17 Februari 2018), aku dan suamiku menghadiri gelaran Perpustakaan Jalanan yang ke 15. Gelaran kali ini mengambil tema Ngobrolin Bekasi. Melalui sesi perkenalan itu, aku tau orang-orang yang hadir berasal dari berbagai komunitas. Bahkan ada yang berasal dari TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta. Selebihnya ada yang dari Perpustakaan Jalanan Langit Tjerah, Komunitas Historia Bekasi, dan komunitas lain yang ada di Bekasi.

 

Sesi pertama diisi oleh Om Bisot. Pada kesempatan ini, Om Bisot membuka sesinya dengan meminta Perpusjal Bekasi memiliki dokumentasi yang berupa video, foto, ataupun tulisan. Beliau menyampaikan pentingnya dokumentasi kegiatan bagi sebuah organisasi maupun komunitas.

 

Ini kan gelaran ke 15 nih, kalo yang gelaran ke 4 atau ke 10 pada inget gak isinya apa?” tanya Om Bisot.

 

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hanya terdengar kasak kusuk dari hadirin yang lainnya.

 

Gak inget kan? Itu pentingnya dokumentasi. Sukur-sukur lo bisa dokumentasiin kegiatan lo dalam blog jadi bisa menginspirasi orang banyak…” kata Om Bisot lagi menjawab pertanyaannya sendiri.

 

Pembicaraan kemudian berlanjut ke pentingnya menulis untuk generasi muda Bekasi.

 

Daripada Facebook lo isi pake foto-foto selfie dengan kata-kata yang gak jelas, mending lo nulis sesuatu yang lebih baik lah,” katanya lagi. “Misalnya opini lo tentang kebijakan pemerintah atau kejadian yang ada di sekitar lo atau kegiatan lo yang bisa menginspirasi orang lain.

 

Selanjutnya, Om Bisot berbicara tentang citizen journalism atau yang dalam bahasa Indonesia namanya Jurnalisme Warga. Jurnalisme warga adalah aktifitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (bukan wartawan). Hingga akhirnya, Om Bisot mengajak hadirin untuk menulis sesuatu di blog atau platform-platform blog seperti Kompasiana dan Indonesiana. Yang penting, jangan menulis berita bohong.

 

Lo pada kesel kan buka Facebook banyak yang nyebar hoax? Nah, salah satu penangkal hoax ya lo nulis juga. Tapi yang isinya bener,” kata Om Bisot lagi.

 

Aku yang sejak tadi fokusnya terbelah antara materi perbincangan dan mencari cara untuk menahan kantuk jadi merenung. Yang kayak gini kali yah, yang termasuk literasi digital. Aku sih gak begitu paham teorinya. Tapi mungkin aplikasinya ya seperti yang dijelaskan Om Bisot ini.

 

Hampir pukul 10 ketika Om Bisot menutup sesinya. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk. Akhirnya aku terpaksa mengajak suamiku undur diri sebelum acara berakhir.

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: