LITERASI UNTUK MEMBANGUN NEGERI

web.facebook.com/amich.alhumami

“… Selamat datang kepada Deputi PMMK Bappenas, Bapak Subandi, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Bapak M Syarif Bendo, Sekertaris Kementerian PPN/ Bappenas, Bapak Gellwynn Daniel Hamzah Yusuf, moderator dan narasumber seminar. Silakan menempati tempat yang telah disediakan,” kata MC yang bertugas dalam acara Seminar Nasional ‘Literasi dan Pembangunan Sosial-Ekonomi’ yang diselenggarakan di Ruang Djunaedi Hadisumarto Kementerian PPN/ Bappenas tanggal 27 Februari 2018.

Kasak-kusuk dan suara-suara orang yang mengobrol pun berhenti. Semua orang yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke pintu tengah di mana mereka memasuki ruangan. Acara pun dimulai dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Setelah hadirin dipersilakan duduk kembali, hadirin disuguhkan teatrikal dari Perpusda yang menjadi mitra perpuseru dengan judul Journey of Literacy. Drama itu berkisah tentang bagaimana buku dan informasi yang tersedia di perpustakaan menjawab permasalahan yang ada di masyarakat yang dikemas dengan menarik dengan adanya sentuhan budaya berbagai daerah di Indonesia.

Nampaknya, teatrikal tersebut mewakili apa yang menjadi bahasan seminar yang dihadiri lebih dari 540 orang ini. Hadirin datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendengarkan paparan dan ikut berdiskusi tentang peran literasi dalam pembangunan nasional.

Dalam pidato kunci yang dibawakan oleh Gellwyn, yang pada seminar itu mewakili menteri PPN, beliau menunjukkan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa skor literasi berbanding lurus dengan pendapatan masyarakat. Literasi saat ini seharusnya sudah bukan lagi tentang melek aksara, tapi tentang pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga perpustakaan tidak lagi sekedar mengurusi pinjam-meminjam buku, tetapi bagaimana perpustakaan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan informasi yang dimiliki.

Senada dengan Gellwyn, dalam sambutannya Syarif Bendo mengatakan bahwa pekerjaan pustakawan bukan lagi hanya katalogisasi buku. Namun pustakawan harus mendampingi masyarakat dalam mengakses informasi.

Subandi pun menyampaikan bahwa sumber bacaan yang ada di perpustakaan harus bisa ditransformasi menjadi kecakapan hidup untuk merintis kegiatan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Bahagia sekali mendengar bahwa petinggi yang hadir di sini sepakat tentang pentingnya literasi untuk kemajuan masyarakat terutama di bidang sosial ekonomi. Bahkan, Bappenas menjadikan literasi sebagai salah satu kegiatan prioritas dalam RKP 2019.

Setelah sambutan-sambutan, seminar pun dimulai dengan pertanyaan “Sedang baca buku apa hari ini?” dari Retno Pinasti, seorang jurnalis senior, yang didapuk untuk menjadi moderator. Narasumber acara ini adalah Amich Alhumami, direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan di Bappenas, Erlyn Sulistyaningsih, direktur Program Perpuseru dari Cocacola Fondation, Nirwan Arsuka, presiden Pustaka Bergerak Indonesia, dan Najwa Sihab, duta baca Indonesia.

Pada kesempatan ini, Amich memaparkan sejarah literasi di nusantara. Amich menceritakan bahwa pustaka bergerak ada sejak dulu dan bagaimana literasi menjadi alat untuk transformasi sosial budaya. Menurut beliau, literasi adalah refleksi dari kemampuan kognitif yang bisa mendorong kesejahteraan masyarakat.

Lewat Perpuseru, perpustakaan jadi selalu giat berinovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Hal itulah yang disampaikan Erlyn. Erlyn bercerita tentang orang-orang yang berkembang dan terbantu kebutuhan ekonominya lewat perpustakaan. Salah satunya adalah Vika, seorang pemudi dari Enrekang yang belajar melakukan pemasaran produk secara online di perpustakaan daerah kabupaten Enrekang.

Nirwan, menceritakan hal yang lebih romantis siang itu. Beliau bercerita tentang Pustaka Bergerak Indonesia. Awalnya beliau bercerita tentang relawan di perpustakaan bergerak yang berasal dari kalangan masyarakat ‘biasa saja’ yang bergerak dengan senjata sosial media dan buku bekas dari donatur.

Pembicara penutup dalam seminar ini adalah Najwa Shihab yang mempromosikan Ipusnas, perpustakaan digital milik perpustakaan nasional. “Buku sekarang juga masih mahal, trus yang murah apa? Kuota internet…”

Menurut paparan Najwa, orang senang membaca hal-hal yang ditampilkan di layar ponsel sehingga buku bentuk digital ini bisa mendekatkan bahan bacaan pada orang-orang yang tidak suka baca tapi tidak bisa melepas ponselnya. Upaya apapun yang bisa dilakukan untuk membuat orang mau membaca harus dilakukan. Membaca adalah kegiatan meraih makna. Bukan sekedar mengeja aksara.

Pada sesi tany a jawab, antusiasme hadirin untuk ikut berdiskusi terlihat dengan banyaknya hadirin yang angkat tangan. Sayangnya, karena waktu yang terbatas tidak semua yang angkat tangan memperoleh kesempatan untuk berbicara. Salah satu bahasan yang menarik adalah tentang hoax. Untuk menangkis hoax, menurut Erlyn, perpustakaan mitra Perpuseru mengadakan program internet sehat. Najwa, bukan tidak setuju dengan pernyataan Erlyn. Edukasi tentang internet sehat memang penting namun penangkal hoax yang paling penting adalah diri sendiri. Kita harus waspada dan melatih daya pikir kita supaya tidak termakan dengan hoax yang beredar. Salah satu cara melatih daya pikir adalah dengan banyak membaca, kan?

Acara berakhir pukul 1 siang. Ketika Retno menyampaikan kata penutup, beberapa hadirin sudah undur diri untuk ke toilet dan ada juga yang mengambil makan siang. Di depan ruang seminar, ada stan pameran produk hasil belajar masyarakat di perpustakaan daerah yang menjadi mitra perpuseru. Produk-produk tersebut terinspirasi dari buku dan internet yang disediakan oleh perpustakaan daerah.

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: