ALEPPO

www.pictame.com

Kalau ada yang melihat komentar tentang buku ini di goodreads.com, kita akan melihat banyak orang memberi bintang 4/5 tanpa menyebutkan alasannya dan beberapa orang yang memberi bintang 2 (bahkan 1)/5 karena mereka merasa terkecoh dengan judulnya.

Jauh dari ekspektasi. Ketika melihat judul dan kutipan cerita di belakang novel ini, saya berharap mendapatkan banyak cerita mengenai Aleppo. Ternyata buku ini hanya membahas sedikit sekali tentang Aleppo.

Tulisan beliau memang bagus tapi buku ini bukan untuk saya.”

Demikian salah satu komentar yang memberi bintang 1/5 untuk buku ini.

Tulisan dari Rusdi Mathari memang selalu menyenangkan untuk dibaca. Bahkan orang yang nyata-nyata kecewa telah membeli bukunya pun mengakui kalau tulisan beliau bagus. Keren yah?

Bagi yang belum tahu, Aleppo adalah nama kota terbesar kedua di Suriah. Tempat terjadinya peperangan (bukan sekedar kerusuhan) antara pemerintah dengan kelompok pemberontak. Bisa membayangkan donk, bagaimana situasi di Aleppo. Pasti banyak yang berekspektasi akan mendengar cerita tentang kota itu atau peperangan yang terjadi di sana ketika membaca judul buku ini.

Sayangnya, tulisan tentang Aleppo hanya diberi porsi 1 halaman dalam buku yang diterbitkan oleh EA Book ini.

Besok sore kita akan tiba di Aleppo dik. Menyeduh kopi dan meminumnya di teras hotel yang tembok lobinya bolong-bolong sebab ledakan mortir. Aleppo kini memang bukan kota yang pernah dimimpikan Macbeth saat memanggil tukang nujum agar menobatkannya sebagai raja mengenakan baju satin. Bukan kota tempat kita pernah berbulan madu di Carlton Citade, dan bersarapan Safiha, roti yang diolesi zaitun dan has kambing.

Aleppo sekarang adalah wabah. Menularkan kemarahan dan kesumat. Melahirkan orang-orang yang setiap hari berpikir dengan membunuh dan kepada Tuhan mereka merasa berbakti. 

Kita mungkin akan terasing dengan suasana seperti itu, tapi kita akan tiba di Aleppo besok sore dan minum kopi. Bukan karena kita pernah berbulan madu dan sarapan roti Safiha, tapi sebab kota itu tak pernah benar-benar takluk bahkan oleh kematian. Dan itu penting bagi kita, yang datang ke Aleppo dengan segenap rindu dan cinta.”

Udah. Itu aja.

Selebihnya, buku ini menceritakan tentang Rusdi Mathari. Rusdi muda yang nakal dan banyak akal, Rusdi yang takut dengan darah, Rusdi seorang wartawan, Rusdi sebagai suami, Rusdi sebagai seorang ayah, Rusdi yang merasa sudah tidak muda lagi, dan Rusdi yang menulis refleksi dari apa yang pernah ditemui, dibaca, dan dialami.

Bagian yang paling menarik dari buku ini ada pasa subbab yang berjudul Menulis.

“Saya tidak pernah percaya dengan yang dikatakan Arswendo bahwa ‘Mengarang Itu Gampang’. Setiap hari saya menulis dan sampai sekarang selalu merasa menulis bukan sesuatu yang mudah. Meminjam istilah Putu Wijaya, menulis asalah sebuah peristiwa yang khusyuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan.”

Sangat lucu dan hampir tidak bisa dipercaya, kalimat itu dituliskan oleh seorang Rusdi Mathari, wartawan senior dengan jam terbang yang tinggi. Namun memang harus diakui menulis seringkali memang bukan proses yang mudah. Mengikuti latihan di buku ‘Mengarang Itu Gampang’ yang ditulis Arswendo memang tidak semudah teorinya. Butuh ketekunan dan disiplin untuk bisa menulis dengan baik.

Rasanya, Rusdi Mathari ingin menyampaikan sebuah pesan moral dalam tulisan yang ada di buku ini. Namun tulisan itu tidak ada yang bernada menggurui. Semuanya disampaikan melalui cerita dan pemikirannya.

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: