TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN

twitter.com/badanbahasa

“Nami abdi Haikal…”

Demikian perkenalan dari seorang anak laki-laki yang mengenakan celana komprang atau pangsi yang dilengkapi dengan sabuk yang sepertinya terbuat dari kain (atau kulit). Sebagai atasan, ia mengenakan baju kampret atau baju salontren. Di kepalanya dia mengenakan penutup bernama ikat logen model hanjuang nangtung atau barangbang semplak.

Hari itu, Hari Rabu tanggal 21 Februari 2018, di Gedung Samudra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Jakarta, dilangsungkan Festival Tunas Bahasa Ibu untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Dalam festival tersebut beberapa anak dari seluruh Indonesia didatangkan untuk memperkenalkan bahasa, budaya, dan permainan tradisional dari daerahnya. Salah satunya ada Haikal, pemuda 12 tahun dari Garut yang bersekolah di Tasikmalaya. Pada kesempatan itu, Haikal menampilkan seni tembang Cigawiran.

Tembang Cigawiran merupakan salah satu jenis tembang Sunda yang berasal dari Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut. Desa Cigawir ini terletak 60 km dari pusat Kota Bandung. Untuk menuju ke sana, kita bisa menaiki kendaraan umum yang menuju Limbangan, Garut, dan berhenti di desa Cigawiran.

Menurut Kang Asep, pendamping Haikal, tembang Cigawiran adalah jenis tembang Sunda yang berkembang di pesantren (Pesantren Cigawiran). Tembang ini dimulai dengan solawat yang dilanjutkan dengan lagu-laguan yang berisi pesan dari kiai pada santrinya.

Dikutip dari jelajahgarut.com, tembang Sunda Cigawiran berkembang sekitar tahun 1823. Awalnya, Rd. H. Jalari, yang berasal dari Cigawir, senang mesantren hingga ke Jawa Timur. Beliau senang mengarang suatu guguritan atau nyanyian dengan mengikuti aturan pupuh. Tema dari nyanyian tersebut ialah mengajak untuk melaksanakan syariat Islam secara sempurna dan tidak memaksa, serta menuturkan keindahan alam. Setelah pulang dari Jawa Timur, Rd. H Jalari mendirikan pesantren di tempat kelahirannya, Cigawir. Di pesantren itulah diajarkan guguritan khas beliau sebagai media berdakwah hingga sekarang. Dan dari buku Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat yang ditulis oleh Atik Soepandi Skar dan Enoch Atmadibrata, Cigawiran biasanya diajarkan setelah wiridan.

Walaupun Cigawiran merupakan seni pesantren, warna dari lagu-lagu tersebut tidak dipengaruhi oleh musik arab dan memiliki warna tersendiri yang berbeda dengan lagam tembang Sunda dari daerah lain misalnya Cianjuran. Rd. H. Jalari sudah lama meninggal. Kesenian Cigawiran ini kini diteruskan oleh keturunannya yang bernama Rd. Agus Gaos , Rd. Muhammad Amin dan Rd. Iyet Dimyati. Dan semoga, seni Cigawiran ini tetap lestari hingga nanti.

Contoh dari tembang Cigawiran adalah sebagai berikut:

Bismillah

Bismillah ngawitan kedal

Muji ka gusti yang widi

Solawat sinareng salam

Mugi tetep ka kanjeng nabi

Miwah ka sakurna jalmi

Anu turut sarta tumurut

Kana pilacak anjeuna

Kukuh pengkuh teu gumincing

Deng deng mayeng ka poe kiamah

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: