DI BALIK SASAKALA SANGKURIANG

www.pintuwisata.com

“Ingat cerita tentang Timun Mas, raksasa yang mati karena terbenam di lumpur? Menurut para geolog, cerita rakyat tersebut menginformasikan kejadian seperti lumpur Lapindo sekarang, pernah terjadi pada masa lampau di Jawa Timur. Konon juga, aliran Kali Brantas asalnya tidak seperti saat ini. Karena bencana alam, alirannya jadi berubah,” kata Pak Nanang dalam diskusi di group whatsapp jabaraca.com.

Diskusi kemudian bergulir membahas tentang sejarah yang dituturkan dan cerita rakyat.

“Orang-orang zaman dulu suka menceritakan sesuatu lewat simbol ya…” komentarku.

“Kan cerita Sangkuriang juga menunjukkan keadaan Bandung ratusan ribu tahun yang lalu. Bandung dulunya danau yang kemudian mengering,” kata Pak Nanang menanggapi komentarku.

Tuing…

Aku kemudian jadi teringat buku berjudul ‘Wisata Bumi Cekungan Bandung’ yang ditulis oleh Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar. Buku itu menyebutkan bahwa kisah yang membalut Sasakala Sangkuriang memberi nama pada tempat di kawasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukittunggul, Gunung Putri, dan Ngamprah.

Siapa yang tak kenal cerita tentang Sangkuriang dan Dayang Sumbi, Cerita rakyat populer dari Jawa Barat? Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Sangkuriang yang ingin menikahi Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Dayang Sumbi yang tidak menghendaki pernikahan tersebut namun tak kuasa menolak keinginan anaknya itu kemudian mensyaratkan sesuatu yang sepertinya mustahil: membuat danau dan perahu dalam satu malam.

Pertama, Sangkuriang menebang pohon lametang raksasa dan roboh ke barat. Tunggulnya membentuk Bukittunggul dan rangrangannya (sisa dahan dan ranting) menjadi Gunung Burangrang. Batang pohonnya digunakan Sangkuriang untuk membuat perahu. Setelah pohon ditebang, Sangkuriang membendung sungai untuk membuat danau. Air yang dibendung tersebut pun ngamprah (tergenang).

Dengan kesaktiannya, Sangkuriang hampir berhasil membuatnya tapi digagalkan oleh muslihat Dayang Sumbi yang membuat seolah-olah fajar telah menyingsing. Sangkuriang yang marah besar karena gagal memenuhi syarat dari Dayang Sumbi kemudian menendang perahu yang dibuatnya hingga terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Dayang Sumbi kemudian berlari dan bersembunyi untuk menghindar dari kemarahan Sangkuriang. Dia bersembunyi di bukit kecil dan menghilang entah kemana. Di bukit itu kemudian tumbuh berbagai bunga yang mewangi sehingga bukit itu dinamakan Gunung Puteri.

Cerita ini diceritakan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh orang-orang Sunda. Kapan cerita ini bermula? Entahlah, yang pasti dalam catatan perjalanan milik Bujangga Manik, cerita ini sudah tertulis. Bujangga Manik menuliskan, “Leumpang aing ka baratkeun, datang ka Bukit Patenggeng. Sasakala Sangkuriang, masa dek nyitu Citarum, burung tembey kasiangan… (Aku berjalan ke barat, datang ke Bukit Patenggeng. Legenda Sangkuriang, yang membendung sungai Citarum namun kesiangan…)”

Kemungkinan besar, menurut para ahli, cerita itu bermula dari orang-orang yang menyaksikan Gunung Tangkuban Perahu meletus, kemudian batu-batu yang dimuntahkan mengalir ke arah barat dan membendung Ci Tarum dan terbentuklah danau raksasa. Secara geologis, kejadian itu bisa terjadi dalam waktu semalam.

Menarik bukan bisa meruntut kejadian yang ada dalam legenda dan mencocokkannya dengan kondisi alam? Beruntung sampai saat ini, nama-nama daerah yang terkait masih seperti itu. Aku teringat berita yang memuat kabar tentang penggantian nama sebuah gunung menjadi nama seorang pemimpin. Kita bisa saja kehilangan jejak sejarah ketika nama-nama daerahnya kemudian berganti karena sebuah alasan. Semoga nama-nama daerah tetap seperti itu sehingga generasi selanjutnya tidak terputus dari sejarah alamnya yang luar biasa.

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: