MAX HAVELAAR SEBAGAI PENDORONG GERAKAN ANTIKOLONIALISME

buku Max Havelaar (binatangjalang21.blogspot.co.id)

“Saya bertanya kepada Anda, apakah memang kehendak kekaisaran Anda sehingga orang-orang seperti Havelaar harus diciprati lumpur oleh orang-orang seperti Slijmering dan Droogstoppel; dan lebih dari tiga puluh juta rakyat Anda nun jauh di sana harus diperlakukan dengan buruk dan mengalami pemerasan atas nama Anda?” (Multatuli)

 

Hari Minggu kemarin, aku dan suami berjalan ke barat menyeberangi provinsi DKI Jakarta dari Kota Bekasi untuk sampai ke Rangkas Bitung, yang terletak di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Kami berniat untuk mengunjungi Museum Multatuli. Pusat dari barang-barang yang dipamerkan oleh museum ini adalah buku berjudul Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker) edisi pertama berbahasa Perancis yang diterbitkan tahun 1876. Di Indonesia saat ini, buku Max Havelaar diterbitkan oleh penerbit Qanita.

Aku agak bingung membaca buku ini, kalau boleh jujur. Pada bab 1 sampai 4, cerita dinarasikan dengan sudut pandang ‘aku’ oleh seorang makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht no.37, Amsterdam, Belanda. Belakangan diketahui namanya adalah Droogstoppel. Singkat cerita, Droogstoppel bertemu dengan Sjaalman kemudian Sjaalman meminta bantuan Droogstoppel untuk menerbitkan naskahnya. Droogstoppel akhirnya setuju untuk menerbitkan naskah yang ditulis Sjaalman setelah sebelumnya tidak ingin. Penyusunan naskah diserahkan pada seorang pemuda bernama Stern.

Mulai bab 5, latar tempat sudah bukan lagi di Amsterdam tapi di Banten. Gaya penulisannya seperti bertutur dan menggunakan kata sapaan untuk pembaca namun sudah bukan lagi menggunakan sudut pandang ‘aku’. Dalam keterangan di judul Babnya, tulisan dalam bab ini disusun oleh Stern. Bab 5 dan seterusnya adalah cerita tentang seorang Asisten Residen di Lebak bernama Max Havelaar. Havelaar yang baik hati ini ‘terguncang’ melihat kepedihan rakyat Lebak di bawah kesewenang-wenangan Bupati dan Residen.

Pada bab 10, pembaca dikembalikan ke Amsterdam dan kembali dengan sudut pandang ‘aku’ yang diceritakan oleh Droogstoppel yang mengkritik Stern. Bab 11, kembali ke cerita yang disusun oleh Stern tentang Max Havelaar.

Di awal bab 20, masih menceritakan tentang Max Havelaar. Havelaar sudah tidak tahan lagi melihat kejahatan yang dilakukan oleh pemerintahan dan penindasan yang diterima oleh rakyat Lebak. Akhirnya Havelaar mengundurkan diri. Pada saat-saat terakhir Havelaar ingin bertemu dengan Gubernur Jendral untuk membicarakan kesengsaraan masyarakat Jawa, Gubernur Jendral tidak pernah membukakan pintunya.

Kemudian di akhir bab 20, Multatuli muncul menggantikan Stern untuk bercerita. Multatuli menuliskan cerita ini dengan tujuan: akan dibaca! Multatuli tidak peduli jika bukunya dinilai buruk namun dia ingin mengabarkan pada dunia bawa saat itu orang Jawa diperlakukan dengan buruk. Dia akan menerjemahkan bukunya dalam berbagai bahasa.

Buku ini sepertinya disusun dalam bentuk cerita dalam cerita yang tentu saja memerlukan konsentrasi yang baik untuk membacanya agar tidak tersesat. Belum lagi dalam cerita tentang Max Havelaar disisipi dengan cerita tentang Saidjah dan Adinda.

Kalau untukku pribadi, buku Max Havelaar adalah cerminan bahwa baik dan jahatnya seseorang tidak tergantung dari dia orang mana. Namun tergantung pada pribadi masing-masing. Indonesia memang dijajah oleh Belanda tapi tidak semua orang Belanda jahat. Ada orang-orang seperti Max Havelaar yang mau memikirkan kesengsaraan rakyat. Di sisi lain, ada pemimpin lokal yang suka memeras dan merampas hak rakyat seperti Bupati Lebak saat itu.

Konon, karena terbitnya buku ini, Pemerintah Belanda mengadakan kebijakan baru yang bernama kebijakan etis yang mempromosikan irigasi, migrasi, dan pendidikan di Hindia Belanda. Dengan mulai adanya pendidikan untuk orang-orang pribumi, muncullah orang-orang Indonesia yang bergerak untuk kebebasan hingga Indonesia bisa memerdekakan diri dari penjajah pada tahun 1945. Kemerdekaan Indonesia memicu revolusi di Afrika. Sehingga menurut Pramoedya Ananta Toer, dunia berhutang pada Multatuli dan Max Havelaar yang memicu proses ini.

 

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: