PERNIKAHAN AGUNG, PAYUNG GEULIS, KEMUDIAN SEPASANG ANGSA

Pengantin dan orang tuanya (dok pri Edward Jayadiningrat)

Dari sebuah pesan di WhatsApp, saya terkejut sekaligus bahagia ketika Acep Zamzam Noor, kawan seperjuangan dalam dunia kebudayaan, menikahkan putri pertamanya. Ana. Lengkapnya Rebana Adawiyah. Terkejut karena rasanya baru kemarin saya menyaksikan Ana kecil masih naik sepeda mini dan memakai seragam merah putih. Bahagia, karena memang pernikahan harus dirayakan dengan sejumlah kebahagiaan. Yang lebih membahagiakan ialah ada catatan bahwa akan ada pawai untuk merayakan kedua mempelai.

Kami, saya dan istri, merasa terharu. Dahulu, pernikahan kami juga dirayakan di Cipasung. Kami diarak sebagai pengantin, naik sado atau delman sepanjang jalan Cipasung hingga terminal atau mesjid raya Singaparna. Para seniman plus simpatisan dan keluarga besar Cipasung, sebahagian mengantar sambil berjalan kaki, mengikuti drumband dan atraksi seni lainnya. Becak, motor, dan sepeda juga mewarnai karnaval itu. Duh….Itu memang peristiwa bersejarah. Kami jadi terkenang dengan hal luar biasa yang tentu akan dikenang seumur hidup, dimana saya, sebagai orang biasa, merasa dirayakan secara luar biasa. Saat itu, tidak dikira sebelumnya bahwa ada penyambutan besar atas prakarsa kawan Acep Zamzam Noor, yang kemudian diamini rekan-rekan dan sejawat, khususnya seniman di Tasikmalaya.

Maka, ketika undangan itu tiba, saya langsung menjadwalkan untuk datang. Tadinya ingin datang sehari sebelumnya, namun sopir keluarga kami ada halangan, sementara saya sendiri belum sembuh betul akibat jatuh saat menuruni jalan curam di Ciwidey. Berdua, seperti halnya Dilan dan Milea, kami terbang dengan motor saja menembus jalanan sehabis shalat subuh pada Minggu 18 Pebruari 2018, atau 4 hari setelah perayaan Valentine. Saya mengira akan ada arakan panjang pengantin juga, namun ternyata tidak sejauh rute yang pernah kami tempuh saat karnaval. Sehingga perkiraan saya akan dapat menyaksikan jalannya karnaval Ana dan jodohnya, tidak terjadi. Saat tiba di Cipasung, perjalanan mengarak pengantin sudah usai.

Duh, saya ketinggalan kereta.

Yah, buat oleh apa, nasi sudah menjadi bubur, air sudah menjadi bajigur. Kini yang paling mungkin adalah menikmati sajian dekorasi pernikahan yang tidak lazim. Maklum, ini acara kesenian juga. Ada banyak payung tergantung menghias teras halaman depan hingga koridor untuk para tamu undangan, setelah menempuh jembatan bambu. Ada beberapa foto pre-wedding yang tertambat di dinding berpadu rambatan akar dan daunan, juga kolase atau inslasai foto-foto Ana dan keluarga saat masih bayi, anak yang lucu, hingga remaja. Warrrraraaas.
Eit, ada juga photo booth, plus aneka ucapan, yang dapat diprint langsung.

payung geulis (dok pri Edward Jayadiningrat)

Yang juga unik ialah kursi untuk mempelai dan orang tua kedua pasangan itu. Bentuknya unik karena terbuat dari batu seperti zaman flinstone, namun backgroundnya akar dan daunan merambat yang alami. Sehingga kesannya menjadi natural dan kolosal. Ini pernikahan agung dengan sentuhan oldschool yang art decorian, namun berkesan kontemporer. Alasnya juga rumputan yang memang sedari dahulu ada di situ, dinaungi gantungan payung geulis yang manis di atasnya. Di hadapan mempelai dan besan, terbentang jembatan bambu yang telah dikonstruski sedemikian rupa. Jembatan ini membelah kolam yang ditaburi banyak ikan, hiasan payung di atas hingga pinggir jembatan, serta pohon besar, menjadikan ruang pernikahan ini terasa luas dan memberi banyak ruang bernafas yang segar. Mata kami dan saya kira juga para tamu undangan lain, menjadi segar.

Di depan kolam, ada saung bambu juga, tempat para nayaga dan sinden bekennya, menghibur para undangan dan mempelai lewat musik dan lagu Sunda. Azim Sim Salabim Bersubsidi dan Berhadiah, menghibur tamu dengan bobodorannya yang khas Zaman Now. Pemain utama grup Borelax yang sering tampil di pinggir televisi dan pinggir panggung itu, memang dikenal sebagai pelawak yang tangguh (pantang makan minum susuguh). Ia ditemani Agus AW, seniman kawakan dari wilayah Cipasung-Singaparna, yang dikenal luas dengan karya-karya rupa dan teaternya, serta kumis baplangnya yang legendaris. Saya kurang kenal pada sinden cantik dan para nayaganya yang gagah, maklum mereka masih muda-muda dan hidup di jaman kekinian. Saya salut mereka bermain serius dan bagus.

Di atas kolam, ada tiga buah lingkaran dari kanvas yang dilukis secara ornamentik. Pada salah satunya, ada sejoli angsa putih berdampingan. Mereka adalah pasangan berleher jenjang yang menikmati masa-masa kebersamannya di atas pulau terapung. Menjadi pengantin lain yang dialasi kolam. Diiringi musik ciamik, lagu-lagu sendu hingga merayu, serta canda tawa yang menyegarkan.

Bagi saya ini juga semacam reuni. Pertemuan dengan rekan seniman adalah hal yang memang sudah saya impikan. Maka, beberapa rekan seperti Soni Farid Maulana (Penyair), Iwan Koeswanna (Pelukis) dan Ida-istri setianya; Roekmini Yusuf Affandi (Pelukis) plus suaminyah, Pak Yusuf yang kini menjabat Wakil Walikota Tasikmalaya, Saeful Badar (Penyair), Dedi Tarhedi (Penyair) bersama istri dan putrinya, Loeki Lukita (Perupa) bersama istri dan putra tercintanya; Amang Bunga Mawar (Sutaradar teater); Yadi Mafie (perupa); Yusran Arifin (penyair); Sarabunis Mubarak (penyair dan pedangang online); Budi Gunawan (Forografer); Kidung Purnama (Penyair Anti Korupsi); Irvan Mulyadi (seniman multi talent, Ketua Keluarga Seni Rupa Tasikmalaya); Eraksa (pelukis payung) beberapa anggota Sanggar Sastra Tasik, serta seniman lain yang sudah saya kenal baik. Oh ya, menjelang pulang bertemu Asen Zetset, pengusaha kondang yang pernah bersama-sama menggelar Festival Penyanyi Dangdut Tasikmalaya 17 tahun lalu.

Yang menjadi perhatian tentu juga sang tuan rumah. Acep nampak bahagia. Istrinya, Euis juga tentu saja bahagia. Apalagi kedua mempelai. “Ana bertemu lagi teman kuliahnya semasa di Undip saat sudah bekerja di Jakarta….” tutur Acep. Yah, jodoh mah memang amazing tea.

Saya tentu masih betah. Lama tak bertemu membuat saya terus berbincang. Sayang, anak-anak kami yang masih kecil menungu di rumah. Saya harus segera comeback menuju Bandung lagi. Ya, syukurlah, keluarga Acep Zamzam telah selamat menyelamatkan pernikahan putri pertama mereka.

Ya selamat menempuh hidup baru. Hidup yang lebih baik.

Edward Jayadiningrat

Sastrawan dan penggiat literasi di Jawa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: