SEJARAH RAJADESA : GURU GANTANGAN MENCARI WILAYAH

tulisan tangan Pak Guru Sutisna tentang Rajadesa (dok pri Iis Aisyah)

Asal muasal suatu daerah menjadi daya tarik tersendiri untuk ditelusuri. Seperti halnya Gunung Tangkuban Perahu yang disangkutkan dengan cerita Dayang Sumbi dan Sangkuriang, maka daerah lain pun memiliki ceritanya sendiri. Pertanyaannya, apakah cerita itu bisa dipertanggungjawabkan?

Saya memiliki kesempatan untuk membaca sejarah Rajadesa dari tulisan tangan almarhum Pak Guru Sutisna. Tulisan tangan tersebut merupakan intisari Sejarah Rajadesa yang diambil dari tulisan Arab Pegon yang sebenarnya diceritakan dari mulut ke mulut orang-orang dahulu secara turun temurun.

Kemudian, aku memotret buku tulis tangan tersebut dan mengunggahnya di status WA-ku. Seseorang langsung mengomentari dan akhirnya terjadi percakapan. Orang itu memiliki 3 buku referensi tentang sejarah Rajadesa. Bahkan beliau sempat menelusuri sejarah dan silsilah keluarganya yang ternyata masih keturunan dari Prabu Sirnaraja. Percakapan ini berakhir dengan saling menukar buku, dia meminjam buku tulis tangan Pak Sutisna, dan aku meminjam buku Sejarah Rajadesa yang sudah diketik rapi dengan nama penulis H.M Suryana Wiradireja, S.H.

Mungkin ada yang bertanya. Rajadesa emang nama daerah mana, sih? Terkenal seperti Tangkuban Perahu gitu? Rajadesa merupakan nama Kecamatan di Kabupaten Ciamis Jawa Barat yang diapit oleh dua kecamatan lain yaitu Kawali dan Rancah.

Lalu siapa Prabu Sirnaraja? Baiklah. Cerita Rajadesa akan dimulai.

Prabu Sirnaraja merupakan gelar yang diberikan oleh Siliwangi kepada Guru Gantangan yang merupakan anaknya sendiri. Ketika masih dalam istana Pajajaran, Prabu Siliwangi mengadakan pertunjukkan tari di antara keluarga kerajaan. Prabu Siliwangi mengetahui Guru Gantangan tidak mungkin ikut gelaran tersebut karena mengalami cacat fisik sejak dari kecil. Tangannya tidak normal atau dalam bahasa Sunda disebut kengkong. Beliau bahkan berpendapat bahwa Guru Gantangan bukan anaknya karena tidak seperti anaknya yang lain.

Perkataan tersebut sampai di telinga Guru Gantangan dari seorang patih kerajaan. Hal tersebut membuat Guru Gantangan pergi dari kerajaan Pajajaran dan berkelana ke tempat yang entah dimana akan dituju. Jauh dari tempatnya asal hingga sampailah ia bertemu dengan seorang emban (pembantu rumah tangga keraton), Dalem Rancah. Dalem Rancah pun mengurus segala kebutuhan Guru Gantangan. Mengetahui Guru Gantangan cacat, Dalem Rancah meminta Guru Gantangan untuk bertapa di Hulu Cirancah.

Potret jalanan di Samida (dok. pri Iis Aisyah)

Selama 12 bulan bertapa, ada keajaiban yang membuat tangannya bisa normal. Ketika Guru Gantangan bertapa beliau didatangi seekor tupai putih yang jinak tapi sulit untuk ditangkap. Pada akhirnya tupai putih tersebut tertangkap dan secara kebetulan justru ditangkap dengan tangannya yang cacat. Maka terjadilah tarik menarik yang sama kuatnya antara tupai dan tangan Guru Gantangan. Seketika itu juga tangannya menjadi lurus dan tidak kengkong lagi, sedang tupai putih tersebut pergi tanpa diketahui rimbanya.

Lama bertapa membuat Adipati Rancah (Dalem Gayam Cengkong) memerintahkan pembantunya untuk melihat keadaan Guru Gantangan di tempat pertapaannya. Ternyata Guru Gantangan dalam keadaan sehat dan tangannya sudah sembuh. Mereka pun menghadap Dalem Rancah dan Dalem Rancah bersyukur melihat keadaan tersebut. Selama di Rancah, tidak ada seorangpun yang tahu asal usul Guru Gantangan.

Pada suatu hari, puteri Dalem Rancah menderita sakit sangat parah. Semua dukun dipanggil tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkannya. Dalem Rancah berjanji, siapa saja yang dapat menyembuhkan puterinya akan diangkat menjadi menantunya. Guru Gantangan yang merasa iba dengan keadaan Nyi Putri, memutuskan mencoba untuk mengobati Nyi Putri dan atas kehendak yang kuasa puteri Dalem Rancah tersebut sembuh. Seperti janji Dalem Rancah, akhirnya Guru Gantangan dinikahkan dengan Nyi Putri.

Beberapa waktu kemudian datanglah rombongan utusan dari Pajajaran sebanyak 4 orang untuk mencari salah satu putera Siliwangi yang pergi tanpa pemberitahuan. Utusan tersebut adalah Buyut Purwakalih, Buyut Gelap Nyawang, Buyut Kidang Pananjung, dan Buyut Pangadegan. Laporan adanya orang yang mencari putra Siliwangi akhirnya sampai pada Dalem Rancah dan mereka pun bertemu. Para utusan dari Pajajaran membawa pula pakaian dan air sebanyak 7 ruas untuk pengisian negeri bila Guru Gantangan tidak mau kembali ke Pajajaran.

Memang ternyata Guru Gantangan tidak ingin kembali ke Pajajaran bahkan ia juga menolak Kadipaten Rancah yang ingin diwariskan oleh ayah mertuanya. Penolakan ini dilakukan Guru Gantangan karena beliau ingin membangun dan mencari wilayahnya sendiri. Dengan restu ayah mertua, akhirnya Guru Gantagan dan istri beserta 4 orang utusan Pajajaran pergi mencari tempat untuk dijadikan negeri. Di perjalanan rombongan berhenti sebentar atau dalam bahasa Sunda disebut ngarandeg. Maka tempat tersebut sampai sekarang disebut Randegan.

Papan petunjuk menuju Makam Keramat Samida (dok pri Iis Aisyah)

Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu tempat yang rendah (pasir handap) rombongan berhenti. Tempat tersebut dianggap cukup baik untuk dijadikan tempat tinggal. Oleh karena itu segera dibuat bangunan seumpama kerajaan dan disusul dengan rumah-rumah yang bermaksud untuk mengabdikan diri di negeri tersebut yang selanjutnya diberi nama Andapraja. Karena merasa tidak sesuai dengan lokasi yang diinginkan akhirnya Guru Gantangan dan rombongan pergi ke arah selatan sehingga sampai pada suatu bukit yang memiliki tempat yang luas dan indah disebut Samida. Sebelum Samida ditempati Guru Gantangan sebenarnya sudah ditempati lebih dulu oleh Danuwarsih. Tetapi, dengan senang hati Danuwarsih memberikan tempat itu kepada Guru Gantangan. Selanjutnya Danuwarsih berpindah tempat ke Gunung Marapi, yaitu tempat yang juga berada di sekitar Rajadesa.

Dalam kamus Bahasa Sunda Naskah dan Prasasti Sunda (2001), Samida ditulis Samidha yang berarti kayu bakar. Sedangkan di masyarakat Cibulakan dan Rajadesa, Samida diangkat dari cerita lain yaitu singkatan sami-sami da. Ceritanya dulu Prabu Wiramantri mengajak Prabu Sirnaraja masuk Islam. Tetapi Prabu Sirnaraja menolak, dan mengatakan: sami-sami da. Maksud Prabu Sirnaraja adalah Islam dan Hindu sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa dan mengajarkan hal-hal yang baik. Di sanalah awal mula kerajaan Rajadesa dibangun, dan Guru Gantangan resmi diberi gelar Prabu Sirnaraja oleh Prabu Siliwangi. Rajadesa merupakan nama kerajaan yang dipilih Prabu Sirnaraja pada waktu itu.

Sampai saat ini, nama Samida masih berlaku dan masuk ke Kecamatan Rajadesa. Beralamat di Dusun Cibulakan Desa Sirnajaya Kecamatan Rajadesa dan sudah menjadi tempat yang diresmikan pemerintah provinsi (Balai Arkeologi, Bandung) sebagai Cagar Budaya.

Iis Aisyah

Iis Aisyah

pengelola Rajadesa Membaca

2 thoughts on “SEJARAH RAJADESA : GURU GANTANGAN MENCARI WILAYAH

    1. Iya, terima kasih. ūüôā
      Sy yakin setiap daerah memiliki ceritanya sendiri. Meskipun aga susah untuk mencari sumber terpercaya untuk menelusurinya.
      Itu bisa jadi karena orang2 dahulu lebih suka menceritakannya dari mulut ke mulut dibanding diabadikan dengan tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: