IPUSNAS : PERPUSTAKAAN DALAM GENGGAMAN

Tampilan Ipusnas di gawai (news.idntimes.com)

“Saya mau hadirin di sini keluar dari ruangan ini nanti terus download Ipusnas, ya...” kata Najwa Shihab membuka presentasinya pada acara Seminar Nasional berjudul Literasi dan Pembangunan Sosial-Ekonomi yang dilaksanakan di Bappenas tanggal 27 Februari 2018 lalu.

Peserta yang duduk di sebelahku kemudian mencolekku, “Ipusnas apaan sih?

Menurut penjabaran dari Najwa Shihab, Ipusnas adalah perpustakaan digital berbasis media sosial. Di Ipusnas, selain membaca buku kita bisa mengomentari buku yang sudah kita baca (dan komentar kita bisa dibaca orang yang juga meminjam buku yang komentari), bisa mengikuti orang-orang, bisa melihat siapa meminjam buku apa, bisa nge-like komentar orang, dan membalas komentar orang.

Penting banget gak sih fitur-fitur itu?

Penting atau tidak penting sebetulnya urusan pribadi orang. Yang pasti, perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) itu didesain supaya orang tertarik untuk mengunduh aplikasinya dan membaca buku-buku yang dimuat di dalamnya. Menurut paparan dari Najwa Shihab, 89,35% pengguna internet di Indonesia memanfaatkan internet untuk chatting. Katanya, masyarakat kita suka ngobrol. Makanya Ipusnas dilengkapi dengan fitur ‘komentar’. Ini menunjang untuk orang supaya bisa berbagi atau membicarakan buku yang dia baca. Lebih jauh lagi, orang-orang bisa mempromosikan buku yang dia baca sehingga menarik orang untuk membacanya juga.

fitur Ipusnas yang seperti sosial media (chanelmuslim.com)

Ipusnas ini adalah program supaya orang-orang tertarik untuk membaca buku. Selain itu juga, Ipusnas meluaskan jangkauan layanan. Kan namanya juga perpustakaan nasional. Gak asyik donk kalo yang bisa akses hanya orang-orang yang tinggal di ibukota dan sekitarnya? Dengan layanan Ipusnas ini, orang-orang dari Sabang sampai Merauke bisa mengakses koleksi Perpustakaan Nasional. Selama mereka memiliki kuota internet tentu saja.

Aku kebetulan sudah lama mengunduh aplikasi Ipusnas ini. Aplikasi Ipusnas dapat diunduh melalui situs resmi ipusnas.id. Aku sering bepergian dan untuk mengusir kebosanan selama dalam perjalanan, aku biasa membawa buku bacaan. Yang kemudian menjadi dilema adalah ketika membawa banyak buku, bawaanku terasa berat. Tapi kalau terlalu sedikit, bacaanku akan cepat habis. Aplikasi Ipusnas memberikan solusi untuk masalah ini. Hanya dengan mengunduh aplikasi Ipusnas, aku serasa membawa perpustakaan dalam ponselku dan tidak khawatir kehabisan bahan bacaan. Selama batere ponsel masih aman.

Kita bisa meminjam buku maksimal 3 buku dalam 1 hari dalam jangka waktu 3 hari. Kalau mau meminjam lagi setelah meminjam 3 buku, kembalikan salah satu maka kita bisa meminjam lagi. Setelah 3 hari, buku itu akan menghilang dari daftar buku yang kita pinjam. Kalau ternyata dalam 3 hari belum selesai membacanya, kita bisa meminjamnya lagi. Tidak perlu merasa sulit. Kalau lupa buku apa yang pernah kita pinjam, ada riwayat peminjaman yang memuat daftar buku apa saja yang pernah kita pinjam.

fitur peminjaman buku (www.libralibry.com)

Cukup seru kan?

Buku-buku dari penerbit mayor seperti Gramedia cukup lengkap. Banyak buku-buku yang baru terbit tahun 2017. Ini benar-benar menghemat anggaran membeli buku. Semoga ke depan, Ipusnas juga bisa menyediakan buku-buku dari penerbit indie yang bagus-bagus.

Ipusnas, sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh Aksaramaya, bukan satu-satunya perpustakaan digital yang ada. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, yang juga bekerja sama dengan Aksaramaya sebagai pengembang aplikasi, meluncurkan Ijak. Sebuah perpustakaan digital dengan fitur yang hampir sama dengan Ipusnas. Bedanya dengan Ipusnas, Ijak memiliki fitur donasi. Melalui fitur donasi ini kita bisa menyumbang untuk pengadaan buku elektronik supaya tersedia lebih banyak (kita akan bahas Ijak di lain waktu).

Yang namanya aplikasi, pasti ada saat dimana tiba-tiba galat, susah diakses, atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Kalau aplikasi tiba-tiba tidak bersahabat dan tidak bisa digunakan, jangan ragu untuk menghubungi pengembang aplikasi melalui alamat email [email protected]

 

tampilan fitur donasi dalam aplikasi Ijak (dok pri)

Kalau perpustakaan bisa kita genggam seperti ini, masak masih males baca sih?

Meita eryanti

Meita eryanti

Anggota hore-hore dimana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: