LITERASI TANPA HIRUK PIKUK DI MERAPI LAVA TOUR

dok pri Kang Priatna

“NTAR ada lava tournya, lho. Nyesel deh kalau nggak datang,” kata Yunita Purnamasari, lewat jalur pribadi (japri) WhatsApp kira-kira dua bulan yang lalu. Rayuan teman (dalam tanda kutip), yang juga panitia acara Reuni 30 Tahun Sastra Indonesia (Sasindo) 88 Universitas Diponegoro (Undip), membuatku meninjau ulang jadwal kegiatan yang sudah direncanakan jauh hari.

Sudah lama aku mendengar mengenai lava tour di Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta: menyusuri tempat-tempat yang terkena dampak letusan Gunung Merapi tahun 2010 dengan menggunakan jeep atau landrover. Jalannya bebatuan, berkelok-kelok, nain turun, serta berbasahan-basahan di sungai, yang semuanya membuat adrenalin naik.

Akan tetapi bagiku yang menjadi daya tarik bukan itu. Ber-landrover ria di jalan yang bukan jalan biasa beberapa kali kuikuti. Yang paling mengesankan: saat berkunjung ke Ciptagelar, di Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kampung adat ini terletak di ketinggian Gunung Halimun yang pada tahun 2003 bersama Gunung Salak dijadikan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Aku mendapat cerita dari beberapa teman pencinta alam di Jawa Barat, di antaranya dari mahasiswa Program Studi Geografi Unsil Tasikmalaya, yang pernah ke sana, tentang para driver-nya. Bukan hanya piawai mengemudikan jeep atau landrover nya, tetapi juga berpengetahuan luas tentang Gunung Merapi: riawatnya, mistiknya, hingga kebencanaanya.

Pertanyaannya adalah kenapa driver lava tour Gunung Merapi sampai bisa memiliki pengetahuan tentang Gunung Merapi yang mumpuni? Apakah merangkap juga menjadi guide? Apakah untuk kepentingan pariwisata? Atau hanya untuk jaga-jaga kalau wisatawan bertanya seputar Gunung Merapi termasuk ketika meletus tahun 2010 lalu?

Dari mana mereka dapatkan pengetahuan atau informasi mengenai Gunung Merapi pada masa lalu, masa sekarang, dan kemungkinan kejadian pada masa yang akan datang? Dari membaca buku, koran, majalah, internet? Atau tanya-tanya kepada pihak-pihak yang dianggap tahu tentang Gunung Merapi? Atau karena tinggalnya kebetulan di dekat Gunung Merapi?

Apakah mereka sudah pernah mendapatkan “penyuluhan” pentingnya literasi? Seberapa sering pergi ke perpustakaan, taman bacaan, ataukah sama sekali tidak pernah? Sebagaimana jauhkah mereka menyadari pentingnya literasi? Apa yang bisa diambil dari situ untuk gerakan literasi di daerah lain agar masyarakat melek literasi sehingga berpengetahuan luas?

Dalam perjalananan mengikuti Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat di kawasan Banten Lama (27-29 Maret 2018), di bus pariwisata yang membawa rombongan, aku mencoba berselancar mencari tahu di balik lava tour Merapi. Tapi yang diketemukan hanya tentang operator, paket, dan tarif, tak ada satu pun tentang driver nya.

Aku berangkat ke Yogyakarta dari kantor BPNB pukul 11 malam, langsung ke Cileunyi, numpang bus pariwisata yang akan pulang ke poolnya yang kebetulan di Cileunyi. Di jalan keluar tol Cipularang dengan terkantuk-kantuk menunggu bus trayek Jawa Tengah, paling tidak ke Purwokerto. Susah sekali, karena sudah larut malam, dan bus patas atau bus malam tidak mau menaikkan penumpang di sembarang tempat.

Setelah kurang lebih tiga perempat jam menanti akhirnya dapat juga bus yang ke Purwokerto, bus ekonomi. Di bus diusahakan untuk sekadar memejamkan mata, meski sering terbangun untuk memastikan keadaan aman. Secara lahiriah, sebenarnya tak akan ada yang mengincar: kaos, celana, yang kukenakan sudah lusuh, rambut acak-acakan, dan cuma bersandal jepit.

Di Purwokerto, karena luar biasa lelah, terpaksa transit dahulu. Sebelum rehat, diantar tukang becak mencari binatu (laundry) yang bisa mencuci dengan cepat sampai kering sekaligus sudah digosok, sudah disetrika, karena pakaianku ditunggu untuk dikenakan lagi. Pulang mengantarkan cucian, tertidur sampai jam lima sore. Habis mengambil cucian yang cuma beberapa biji itu, aku tergolek lagi.

Aku melanjutkan perjalanan pukul 9 malam dengan naik bus patas Purwokerto-Yogyakarta. Di sana Aku bisa tidur dengan pulas. Mungkin karena mengenakan pakaian bersih, tidak seperti dalam perjalanan Bandung-Purwokerto. Cuma, tadinya sampai Yogyakarta mau turun di Pasar Gamping yang lebih dekat ke Sleman, kebablasan sampai Terminal Giwangan.

“Cuma beda dikit,” kata pengemudi Grab Bike waktu ditanya perbedaan jarak ke Sleman dari Giwangan dan dari Gamping. Mungkin karena dini hari, kendaraan masih jarang yang berlalu-lalang. Hanya membutuhkan sekitar 30 menit dari Giwangan ke tempat penginapan, sebuah villa yang lumayan besar, berlantai tiga, yang disewa panitia, Pakem Valley.

Sebelum membuka pintu pagar, kulirik alamatnya: Jalan Kaliurang km 20, Pakembinangun, Pakem. Aku terhenyak. Bukankah kecelakaan jeep willys lava tour terjadi di kilometer 20? Kejadiannya Ahad siang, 7 Januari 2018, sekitar jam 13.25, jeep yang membawa wisatawan menuju kawasan wisata Lava Tour Merapi di Cangkringan melaju kencang.

Jeep yang dikendarai Wisnu Joko Santoso, 18 tahun, itu ketika akan menyalip kendaraan di depannya terlalu membanting stir ke kanan. Akibatnya jeep menghantam bagian kiri belakang bus pariwisata yang diparkir di situ. Nail Huga, 13 tahun, warga Sawah Besar, Semarang, Jawa Tengah, dan Fatun Hikmah, 50 tahun, warga Pati, Jawa Tengah, terlempar dan terluka.

dok pri Kang Priatna

Kecut juga akan mengikuti lava tour Merapi. Tapi itu kecelakaan bukan terjadi lokasi, ini di jalan raya, dan dikarenakan pengemudinya ugal-ugalan. Masih leyeh-leyeh di kamar villa yang cukup besar dan mengobrol bersama teman-teman lama, panitia telah berteriak-teriak agar bersiap-siap, karena jeep sebanyak enam buah telah datang, memenuhi halaman.

“Satu jeepnya disewa Rp350.000, lamanya lava tour sekitar 2, 5 jam,” kata Yunita Purnamasari ketika akan berangkat. Yang kutumpangi bukan landrover, jeep biasa, garda tunggal. Sejeep empat orang. Tatik Akbariyah, kepala SMK di Banjarmasin; Nanik Tri Maryani, juga dari Kalimantan, pejabat di sebuah perusahaan kontraktor, dan; Andi Arto, pengusaha tambak udang di Purworejo.

Lava tour yang kami ikuti paket rute pendek. Dari Kaliurang menuju Desa Tangkisan, di antaranya melewati kuburan massal. “Tempat dimakamkannya korban meletusnya Merapi tahun 2010,” kata Kiki, 25 taun, sang driver, tanpa kami tanya. Tugu Ambruk, Kedai Kopi Merapi, Gumuk Ball, Désa Wisata Petung, kami lewati. Kami langsung menuju Museum Sisa Harta.

Merasa drivernya bisa diajak bicara, Tatik Akbariyah yang duduk di depan yang mula-mula bertanya. “Apakah ada tanda-tandanya kalau gunung mau meletus?” tanya Tati memulai. Sambil mengendarai, Kiki, baru berumur 25 taun, tamatan SMP, dengan sigap menjawab pertanyaan Tati. “Alam memberi tanda peringatan, kita tinggal membacanya,” ujar Kiki.

Kiki menerangkan tanda-tanda alam tersebut, di antaranya udara di sekitar gunung menjadi lebih panas dari biasanya, hewan peliharaan gelisah, burung-burung berterbangan, dan banyak binatang melata menjalar turun. “Ini karena tanahnya menjadi lebih panas,” kata Kiki. Mendekati gunung meletus, binatang yang turun gunung menjadi lebih banyak.

Ketika sudah dalam keadaan begitu, kata Kiki lagi, kita yang tinggal dekat gunung harus cepat-cepat mengungsi ke tempat yang dikira-kira aman. “Langkah terbaik, ikuti petunjuk pemerintah,” kata Kiki sambil tersenyum serta tetap mengemudi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Ketika jalannya cuma bebatuan, Tati tidak mengajukan pertanyaan.

“Walah, aneh ya di Indonesia jalan seperti ini di Kalimantan jadi makanan sehari-hari, di sini malah menjadi atraksi wisata,” seru Tati sambil berpegang erat pada sabuk pengaman. Kami semua tertawa. Kiki cuma mesem. “Tadinya jalan ini bagus, dihotmix dan diplur, tapi karena sering dilewati truk yang membawa pasir, jalannya jadi rusak,” kata Kiki.

Perbincangan terhenti ketika sudah sampai di Museum Sisa Harta, bekas rumah penduduk yang menyimpan benda-benda tersisa. Setelah itu menuju Desa Jambu, untuk mengunjungi Baru Wajah atau Batu alien serta melihat Kali Gendol dari atas. Tati tak bertanya lagi, mengingat medannya semakin berat dan butuh pegangan kuat agar tidak terlempar dari jeep.

Dari Batu Alien menyusuri Hutan Soga menuju Kali Adem untuk mampir di Bunker Kali Adem. “Bunker ini untuk berlindung bagi yang terjebak abu panas,” kata Kiki. View dari bunker Kali Adem cukup memikat, apalagi pagi hari karena persis di belakangnya menjulang Gunung Merapi, dan tulisan Bunker Kali Adem dibuat agar menarik bagi pe-selfie mania.

Turun dari Bunker Kali Adem, Kiki menjalankan jeepnya tidak seperti ketika memulai tour lava. Tati pun kembali melemparkan pertanyaan mengenai letusan Merapi tahun 2010. Dengan tangkas, Kiki menjawabnya. “Kami dengan Merapi sudah akrab. Gunung Merapi harus diakrabi, bukan ditakuti, meski Merapi merupakan gunung yang paling aktif dunia,” kata Kiki.

Supaya kita bisa harmonis dengan Merapi, sambung Kiki, tentu saja kita harus mengetahui keadaannya, ibarat kita mau menjalin hubungan dengan lawan jenis. Untuk tahu tentang Merapi bisa bertanya pada orang-orang tua, bertanya pada ahli gunung dan membaca referensi. “Tidak cukup hanya itu, untuk memperdalamnya ya kita harus membaca alam,” ujar Kiki.

Membaca referensi, mendengar penjelasan para ahli gunung, cerita orang-orang tua, tanpa kita membaca alam, pengetahuan tentang Merapi tidak akan sempurna. Bukan hanya tentang gunung, tetapi tentang bidang lain, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dan sebagainya, kalau tanpa kemampuan membaca alam, pengetahuan kita hanya di permukaan.

Kiki mengaku memiliki pandangan seperti itu hasil pergaulannya dengan orang-orang yang dianggap bijaksana, mempunyai kekayaan batin. Kiki juga mengaku tidak pernah mengikuti gerakan literasi, gerakan literasi memang sering dia dengar, tapi kesannya hanya baca buku, setelah itu selesai, tidak diteruskan dengan membaca alam.

Perlukah membaca alam?

“Ilmu pengetahuan semuanya ada di alam, kita manusia hanya memetodekan, memformulakan, sehingga muncul dalil, hukum, dan teori,” kata Prof. Dr. Cece Sobarna, guru besar dan ketua S3 Ilmu-ilmu Sastra Unpad Bandung. Buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis para ilmuwan semuanya dari alam, dari hasil memahami alam.

Menurut Prof. Cece, kita sangat perlu membaca alam agar bisa paham dan mengerti pada alam yang diciptakan Tuhan sedemikian sempurna. Menurut Prof. Cece gerakan literasi bukan hanya membaca teks tertulis, baik cetak maupun online, tetapi juga membaca téks tidak tertulis yang terdapat di alam, termasuk yang terdapat dalam diri kita sendiri.

Luar biasa. Merapi lava tour telah melengkapi pemahaman tentang gerakan literasi yang selama ini diartikan sempit: hanya membaca teks tertulis, bercerita dan menulis,. “Seru kan mengikuti lava tour?” kata Yunita Purnamasari ketika sudah kembali ke villa.  Seru memang tetapi bukan hanya karena berjeep ria, tetapi juga mendapat sesuatu yang berharga.

Kang Priatna

Kang Priatna adalah Penulis yang banyak menulis dengan bahasa Sunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: