MELAWAN YANG PASIF DENGAN KOLEKTIF

web.facebook.com/rizki.a.rahman.5

15 April 2018, kami bergerak secara kolektif untuk menghidupkan kembali literasi dan berbakti kepada alam. Mulai dari lapakan buku, sebagaimana yang rutin kami lakukan, kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih sampah di sekitar Curug Parigi Bekasi, lalu diskusi santai mengenai bagaimana caranya supaya anak-anak bersedia kembali memainkan permainan tradisional, dan diakhiri dengan belajar bermain alat musik karinding. Kawan-kawan dari berbagai komunitas turut serta dalam acara ini diantaranya @perpusjal_bks, @atapusangcikarang, @bekasicollective, @jabaracaaa, @langit_tjerah, dan ada juga beberapa kawan yang sedang berencana untuk membangun Taman Baca Masyarakat di Sawah Setu, Bekasi.

Dewasa ini , masyarakat lebih ganas di media sosial dibanding di dunia nyata. Senang sekali berteori tinggi hingga lupa kembali “ngambah bumi ” dan lebih pasif terhadap permasalahan di sekitar lingkungannya, contohnya masalah sampah. Lebih sering menyalahkan berbagai pihak dan tidak memberikan tindakan yang nyata, hanya menggerutu di media sosial dan pasif di dunia nyata. Hal ini tentu buruk jikalau kita sebagai pemuda, yang katanya harapan bangsa ini, terus menerus pasif terhadap masalah di sekitar kita.

Dari latar belakang tersebut kemudian kami bersama untuk membuat aksi sederhana namun nyata yaitu membersihkan sampah di sekitar Curug Parigi. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi kampanye kepada masyarakat bahwasannya sudah seharusnya manusia menjaga alam karena alam telah memberi segalanya.

Sambil melepas lelah setelah mengumpulkan sampah, kami pun turut mendiskusikan masalah sosial pendidikan yang berkaitan dengan berkurangnya antusias anak-anak untuk bermain permaianan tradisional atau permaianan yang sesuai dengan umurnya (pokoknya menghindari gawai). Tidak bisa dipungkiri pula, latar belakang anak-anak enggan bermain permainan tradisional adalah perkembangan dalam bidang teknologi yang begitu pesat. Namun ada beberapa aspek yang juga tidak kalah penting peranannya dalam masalah ini yaitu dari aspek 1) keluarga, bisa jadi di lingkungan keluarga anak anak tidak merasakan adanya peran orang tua yang intensif 2) sekolah, di lingkungan sekolah pun anak anak secara tidak langsung diharuskan untuk menggunakan gawai 3) lingkungan, tempat tinggal juga akan mempengaruhi anak anak untuk memilih apa permainan mereka dan dengan siapa mereka akan bermain.

Ada beberapa ide dari hasil diskusi itu yaitu membuat ruang bermain untuk anak anak dan kita sebagai orang dewasa harus memberi contoh dan ikut serta. Sederhananya di dalam acara lapak perpustakaan kita juga menghidupkan kembali permaian tradisional bisa dengan membuat layang layang bersama kemudian dimainkan bersama pula. Hal ini sederhana namun paling tidak kita sudah mengurangi waktu anak anak untuk dalam memegang gawai.

Dengan kerja kolektif diharapkan bisa melawan yang pasif.

Agi Gori

Agi Gori

Relawan di Komunitas Langit Tjerah Bekasi, Founder Perpustakaan Jalanan Anak Rantau Tangerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: