PERTARUHAN

sumber gambar: tekno.tempo.co

“Capek,” lirihmu di telinga ketika kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23.00.

Lelahmu memang tampak dari peluh yang menghiasi raut ayumu. Cantik. Betapa besar kekuatan yang telah kamu pertaruhkan. Memberikan waktu 20 jam sehari tanpa waktu istirahat yang jelas. Kucoba memberikan sentuhan, agar lelahmu berkurang, pada titik titik yang sering diminta. Perlahan betismu kutelusuri dengan baluran wali kukun yang hangat.

“Ah… makasih Mas, mohon maaf dua hari ini pulangnya telat terus,” Desahmu.

Aku tahu. Tanganku terus bekerja menelusuri lekuk tubuhmu yang ramping. Kamu pun lunglai, rebah di atas dipan khusus untuk tamu. Pasrah. Tangan kasarku terus meliuk dan merayap dengan gigihnya. Meski berusaha melawan, sepertinya kamu tidak berdaya ketika kantuk menerpa. Terlelap. Mendengkur seperti biasa. Kamu…Tara istriku.

“Kamu tadi menjamu Mbak Dian, ya?”

“Kok tahu?” sedikit kaget.

“Lha ini… bajunya masih disini.”

Ya ampun… Mbak Dian memang pelupa.

“Hati-hati,” Kerlingnya menelisik.

“Hati hati kenapa?” tanyaku penasaran.

“Tadi siang, aku lihat Mbak Dian ngobrol sama tamu. Aku nggak pernah lihat laki – laki itu. Lama banget. Mentang mentang bapak dan ibunya nggak ada. Duduknya deketan padahal kan ada aku. Ah… Dasar anak – anak edan…” Tara nyerocos mirip petasan imlek.

“Kenapa nggak dibilangin? Kan nyonya udah pesen,” sergahku.

“Ngak mempan Mas, yang ada dia ngusir aku secara halus. ‘Mbok Tara… beliin anggur ya yang jauh’, huh kesel,” bibir mungilnya cemberut.

“Ya sudah,” aku angkat bahu.

“Bukan gitu Mas, aku lihat laki-laki itu motret-motret ruangan tengah. Aku melihat tangannya bawa tas besar. Pas Mbak Dian masuk kamarnya, aku lihat laki -laki itu memasukan semua hiasan emas di atas meja tamu.”

“Hah!” teriakku setengah loncat.

“Kenapa tidak teriak maling? Aku kan bisa nyalain alarm,” pelototku.

“Aku mau teriak… Tapi tiba-tiba laki-laki kumel itu sudah ada di belakangku.Tangannya memegang pistol dan mengarah ke pinggang, ‘Kalau kamu teriak akan aku habisi’.”

Tara meloncat mendekapku. “Aku takut, Mas…”

Tangannya semakin erat memeluk. Kubalas pelukannya.

“Mata laki – laki itu tajam agak merah. Tangannya kekar dan berotot. Kaosnya hitam.”

Aku merasakan Tara dalam tekanan.

“Akan aku lihat CCTV,” Kuambil kruk.

“Mau kemana bunting?” Tiba -tiba kudengar suara seseorang di belakang. Seorang laki-laki kumel berdiri tegak.

“Mas, laki – laki ini yang tadi sama Mbak Dian,” Istriku lirih ketakutan. Dengan sigap, kulemparkan kruk ke arahnya. Hampir mengenai kepalanya. Sialan, dia pandai mengelak. Dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku dan Tara melemparkan semua barang yang ada ke arahnya. Secepat kilat aku lempar alarm agar berbunyi, tapi pistol itu lebih cepat dari tanganku. Dor! Tombol alarm pecah. Laki-laki itu sangat ahli.

“Saatnya aku habisin kalian satu per satu…” geramnya setelah melihat perlawanan kami.

Kulihat tangannya terluka berlumuran darah. Dan pistol itu mengarah kepadaku. Ingatanku mengarah pada bak sampah kecil, kembali kulemparkan. Lagi -lagi ia mampu menghindar, badannya agak melayang, ringan sekali.

“Buntung, hari ini nyawamu aku cabut,” Pistolnya mengarah kepalaku. “Manusia cacat sepertimu tidak perlu dikasihani.”

Tangannya memukul pintu. Brak. Jemarinya menggenggam pelatuk.

Aku tak berdaya, dengan kaki dan tangan yang tinggal sebelah. Aku hanya bisa pasrah. Keahlianku hanya bisa memijat. Tuan dan nyonya menerima kehadiran aku dan istri sebagai pembantu karena pernah mejadi sopir mereka. Tabrakan yang menyebabkan aku cacat permanen.

“Selamat jalan Buntung”

Dor…Brak…gedebrug…. Aku jatuh dari dipan. Badanku menggigil kedinginan. Kulihat tirai, meja dan baju Mbak Dian masih sama sebelum aku memijat Tara. Rupanya mimpi.

“Doong doong doong……” jam tua itu berbunyi tiga kali. Tara masih mendengkur. Sigap kuambil selimut merah untuk menutupi tubuhnya. Harum keringatnya menyeruak. Dengan luas rumah delapan ratus meter persegi, bukan hal mudah untuk menjaga rumah ini tetap bersih.

Segera kusiapkan panci untuk memasak air. Rutin. Persiapan menuju pagi yang riuh para penghuni. Tidak ada yang istimewa dari keluarga kecil seperti kami. Hidup menumpang dari belas kasih tuan dan nyonya rumah. Aku bergerak semampunya melayani mereka.

“Mang Dimaaaann….Mbok Tara…..ayo bangunnn,” suara khas berat Tuan dekat pintu dapur.

 

Arjasari.18.9.’18

Jabaraca

Jabaraca

Sebuah gerakan kultural untuk Jawa Barat dan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: