KARYA TERINDAH

sukabumiupdate.com

Rumah tempat tinggal kami memang terbilang masih nyaman untuk anak-anak bermain. Selain karena memang seperti kebanyakan rumah perum yang dihuni oleh beragam pendatang, di mana semua orang tuanya sibuk bekerja. Suasananya sangat sepi di siang hari dan hanya rame di sore hari.

Tetapi suasana sepi tidak terjadi di rumahku. Aku seorang ibu dari 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Aku selalu disibukan dengan aktifitas pagi yang super riweuh (sunda= repot). Pagi yang selalu diwarnai dengan rengekan manja dari anakku yang kedua dan teriakkan atau tangisan si bungsu karena dijahili oleh kakaknya. Namun pagi di hari Minggu ini masih sedikit sunyi menurutku. Setidaknya sampai jarum jam menunjukan pukul 7, belum terdengar apa-apa.

“Oh sedang menggambar,” gumamku saat melihat Khanza duduk di pojok ruangan. Di tangannya menggenggam pencil dan sesekali tengkurap. Tangan kanannya sibuk mencoretkan pensil pada kertas putih yang biasa dia ambil dari tempat printer di ruang kerja bapaknya.

Saat aku berjalan ke teras rumah sambil menenteng baju yang siap dijemur, terlihat Izza masih asyik di depan layar TV melihat acara kesukaannya, Upin dan Ipin, dengan pose kaki selonjoran ke depan. Dia duduk dengan manis sambil kepalanya bersender nyaman di boneka kesayangannya. Sedangkan Si Sulung entah aku belum melihatnya pagi ini setelah tadi subuh aku suruh bangun untuk shalat subuh. Mungkin dia sedang menggambar seperti biasa fikirku.

“Aaaaaaa dieemmmm,” teriak Khanza melengking sampai suaranya terdengar ke luar rumah saat aku sedang menjemur pakaian. Aku hanya tersenyum mendengar teriakan Khanza. Tanpa bergeming dan kemudian melanjutkan kembali menjemur baju. Namun beberapa detik kemudian terdengar tangisan Khanza sambil berteriak memanggilku.

Aku kemudian berlari kecil menuju tempat Khanza menangis, kulihat dia terus merajuk. Setelah melihat mamanya, dia memperlihatkan kertas berisi coretan gambarnya yang sedikit sobek di bagian ujung kanan.

“Ini sobek sama Aa Izza.”

Khanza bertutur masih dengan isakan tangisnya.

“Dede, sih, gak mau diliatin gambarnya.”

Izza membela diri tanpa diminta.

Tangisan berhenti setelah akhirnya aku jelaskan kalau Aa Izza hanya ingin melihat apa yang dibuat oleh Khanza. Namun kemudian Khanza teriak, “Da Aanya sih nggak bilang, langsung diambil aja kertasnya. Jadinya Dede nangis.”

Ekspresinya sungguh menggemaskan menurutku. Bagaimana tidak menggemaskan, masih dengan mimik menahan tangisan, dia berteriak berusaha membela diri dan menjelaskan kenapa dia menangis.

“Ya udah, ayo maafan ya.”

Aku mencoba menenangkan keduanya.

“Aa Izza boleh menggambar juga kok, ya, Khanza?” lanjutku kemudian.

“Iya. Aa gambar yuk?” ajak Khanza.

Beberapa detik kemudian mereka saling memberikan masukan pada coretannya masing-masing. Ah, sungguh melegakan melihat ekspresi kedua anak itu. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Mereka menjadi sangat akrab kembali.

Akupun duduk di samping mereka.

“Aa Izza sama Khanza mau makan sama apa?” tanyaku.

“Dede mau makan sama telor dikocok-kocok pakai kecap,” jawab Khanza.

“Aku juga sama telor dikocok-koocok pake kecap,” kata Aa Izza.

Aku kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur, bersiap menyiapkan menu andalan kedua anak itu. Ketiga anakku memiliki selera yang berbeda soal makan, tetapi ketiganya sangat menyukai telor. Walau kadang cara masaknya yang berbeda. Si Sulung paling suka telor diceplok mata sapi setengah matang. Si Tengah paling suka telor dikocok-kocok langsung di ketelnya dan diaduk dengan nasi. Sedangkan Si Bungsu hampir sama dengan Si Tengah namun bedanya paling suka pakai kecap.

Menu sarapan pagi pun siap dihidangkan. Aku sajikan masakan pada piring masing-masing secara terpisah, lengkap dengan taburan kecap manis di atas nasi yang diaduk dengan telur kocok.

“Hmmmmm, wangi telur membuat perutku akhirnya berkeroncong juga,” gumamku.

Aku menghampiri kedua anakku dan memberikannya sajian di piring untuk mereka makan. Sambil duduk, Aku perhatikan kertas-kertas yang sudah dibuat sama anak-anak dan sejenak aku tertegun. Aku ambil kamera ponsel, aku abadikan coretan anakku di ponsel.

“Mama, kirimin potonya ke bunda, ya!” kata Khanza setelah melihat mamanya memotret gambarnya.

“Ok,” kataku.

“Carikan gambar yang paling lucu, ya Ma! Biar bundanya seneng,” lanjut Khanza.

Bunda adalah sebutan untuk gurunya si kecil, Khanza, di sekolah PAUD Selendang Sutera.

“Iya! Izza juga, ya Ma.”

Si Tengah menimpali keinginan adiknya.

Tanganku pun sibuk mencari-cari gambar yang terlucu dan aku semakin tertegun dengan hasil coretan anak-anakku.

Walau coretan gambarnya masih belum dikategorikan profesional, namun aku semakin iri melihat karya anak-anakku.

Bagaimana tidak, dulu pada zaman aku sekolah di bangku SD kelas 3, aku dibesarkan di lingkungan perkampungan daerah Pajampangan yang notabene masih sangat sederhana. Listrik pun masih menyala di waktu malam saja. Kala itu, aku pernah mengalami perlakuan yang membuatku tidak percaya diri lagi untuk menggambar.

Waktu itu aku tidak ingat mata pelajaran apa, yang aku ingat adalah aku disuruh menggambar pemandangan yang bagus. Seperti biasa, teman-teman yang lainnya tentu menggambar pemandangan gunung dan aku sama sekali tidak bisa menggambar seperti itu. Menurutku waktu itu, kakakku paling jago kalau menggambar pemandangan gunung dan sawahnya. Jadi aku tidak berani menggambar itu.

Lalu kemudian aku mencari ide lain untuk menggambar. Waktu itu, mata langsung tertuju pada sampul buku tulis. Di sana ada gambar beberapa tokoh kartun yang menyerupai kelinci dan pemandangan rumput yang indah menurutku. Aku kemudian meniru gambar tersebut tetapi tidak menjiplaknya. Sama sekali tidak. Aku hanya meniru gambar tersebut dengan versi lengkap.

Hasil gambarku sangat bagus menurutku. Di ingatanku dan di versiku, itu adalah gambar yang sangat indah sekali. Aku dengan bangga mengumpulkan hasil gambarku ke Ibu Guru. Besoknya hasil gambarku selesai dinilai oleh Ibu Guru. Betapa kagetnya aku waktu itu, nilai 4 dengan tinta merah di sana.

Bukan hanya itu, kemudian Ibu Guruku mengingatkan kepada semua muridnya untuk tidak pernah menjiplak apapun termasuk gambar. Mulutku kelu. Seperti biasa aku tidak pernah bisa membela diri. Sampai jam bel pulang, di otakku terus berkeliaran kata-kata menjiplak dan itu perbuatan hina. Aku hanya menirunya. Kenapa dibilang menjiplak? Terus saja berputar di otakku. Dan kenapa harus dinilai 4? Aku kan memang tidak punya ide menggambar dan tidak bisa menggambar. Kenapa ibu guru tidak memberikan contoh dan cara menggambar? Kenapa harus ada pelajaran menggambar? Terus saja berputar pertanyaan tersebut tanpa ada keberanian mengungkapkan apalagi mengekspresikan kekecewaan. Setelah itu aku paling benci dengan menggambar dan kegiatan yang berhubungan dengan coretan dan karya.

Aku sangat cemburu dengan dunia pendidikan sekarang. Anakku tidak pernah menggambar hanya karena kehendak orangtuanya ataupun guru. Mereka berekspresi sesuai keinginannya. Mereka menggambar kepala dengan bentuk kotak, dengan poni carang dan senyum terkulum. Terkadang mereka membuat tangan seperti sapu lidi. Dan gurunya selalu memuji dengan memberikannya bintang. Tidak ada ketakutan. Semuanya benar karena karya adalah seni tidak ada benar ataupun salah.

Aku selalu berfikir, seandainya guruku waktu itu tidak usah memberiku nilai angka, tapi motivasi saja dengan memberikan lagi tugas menggambar yang lain. Jangan salahkan aku waktu kecil meniru gambar. Karena waktu itu, Aku tidak pernah melihat buku cerita yang berisi gambar yang menarik. Karena memang tidak pernah punya buku cerita. Tidak ada tontonan di televisi tentang anak-anak. Tidak pernah ada pelajaran khusus teknik menggambar. Hanya sekedar mewarnai.

Dan sampai saat ini, kejadian tersebut selalu menginspirasiku, seorang ibu, untuk selalu memotivasi anak apapun hasil karyanya. Tak masalah dia meniru dulu, yang dibutuhkan adalah motivasi dan kepercayaan diri untuk membuat yang dia suka. Hasilnya adalah karya murni anak usia 5 dan 6 tahun.

Sementara kakaknya Si Sulung, pada usia 11 tahun dia sudah berani membuat komik. Walau sebatas untuk kalangan sendiri.

“Mamah, ini liat dong gambar Dede,” celoteh Khanza membuyarkan lamunanku.

“Nih mah, bikinan Izza juga.”

Si tengah menimpali dengan menunjukan kertas gambarnya. Di sana terlihat seseorang yang sedang tersenyum dengan kepala kotak tidak ada leher, tetapi ekspresinya jelas sedang tersenyum malu. Mata tertutup bibir senyum lebar.

 

Nani

Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sukabumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: