RONA DI JEMBATAN TITAMI

backpackerjakarta.com

“Aku kembali! Maaf terlambat!”

Baru saja aku menghabiskan setengah cangkir cokelat. Jarak rumahku dengan tempat ini terbilang cukup jauh, namun membayangkan bisa berduaan dengan buku antologi puisi dan secangkir cokelat panas pada akhirnya membawaku ke sini sore itu.

 

***

 

“Sudah pulang lagi?”

“Ya, mungkin di lain akhir pekan aku akan lebih lama menikmati sore. Yang kuinginkan ketenangan. Bukan teriakan yang memekakan. Mengapa kau selalu tak mau bila kuajak?”

Ia pun tersenyum sambil membukakan sweater orange pucat milikku.

“Kau memang perlu banyak waktu sendiri setelah penat mengurusi rumah, Ras.”

“Terima kasih Ry, tapi itu bukan berarti aku setuju dengan persoalan kemarin. Ingat ya,” tatapku curiga.

“Baiklah Ras, aku mengerti. Tenang saja, kau tetap pilihan terbaikku semenjak dirimu tak sengaja menginjak kacamataku di ruang praktikum botani,” sambil tertawa renyah ia mengacak lembut rambut kepalaku yang tergerai sebahu.

“Hentikan, itu cerita usang, Ry,” ucapku sambil memanyunkan kedua bibir, tak suka. Sementara ia terus menunjukkan gigi rapinya sambil kemudian menarikku ke dalam peluknya. Hangat.

 

***

 

“Pulang nanti kau ingin kumasaki apa?” tanyaku sambil merapikan dasi miliknya.

“Tak usah. Lebih baik aku makan di luar,” balasnya sambil menatapku lurus.

Seakan tertampar dengan ucapannya, tanganku yang sedang menalikan dasi sampai terhenti.

“Kau serius?”

“Tentu, kenapa? Oh aku salah, maksudku ‘kita’ lebih baik malam ini makan di luar. Kemarin aku dengar di berita mengatakan malam ini langitnya akan indah. Walau dingin, kau pasti suka. Bagaimana?” lanjutnya menggenggam jemariku.

“Lupakan.”

Merasa dipermainkan, aku melepaskan genggamnya. Ia diam terkejut dengan responku tadi.

“Kutunggu kau di stasiun pukul tujuh Ry, jangan telat. Agar aku bisa memaafkan perilakumu hari ini,” balasku sambil memegang pipi kirinya.

Ia tersenyum.

“Baiklah, Ratu Singa ku,” guraunya sambil berlalu menaiki angkutan umum sebelum sempat aku pukul lengan bahu miliknya.

***

 

“Aku kembali! Maaf terlambat!”

Lagi. Baru saja aku hendak menyeruput cokelat panas sebelum akhirnya terhenti. Aih, baru satu halaman ku baca. Teriakan itu kembali bermunculan.

***

“Sudah pulang lagi?”

“Kau tahulah Ry, padahal cuaca begitu menusuk kulit. Masih saja ada anak yang berkeliaran di luar rumahnya.”

“Mungkin dia bosan.”

Seperti biasa, ia selalu tersenyum lembut jika sedang bicara padaku.

Untuk pertama kalinya aku benci melihat Pikiry tersenyum tanpa mengucap kata.

***

“Aku kembali! Maaf ter…”

*bruk*

Tak sengaja ia terjatuh tepat di sebelahku.

“Eh hehe, maaf Kak. Ran sedang buru-buru.”

Dihadapanku berdiri seorang anak sambil memegangi dus berisi guguran daun, dengan pipi kemerahan dan wajah yang ceria, ia tersenyum manis.

“Tidak apa-apa. Kakak permisi pulang ya,” aku pun beranjak meninggalkannya tanpa sempat duduk di bangku taman dekat jembatan, tempat kesukaanku.

***

“Tumben akhir pekan ini kau hanya duduk di ruang tamu, tak ada niat pergi ke luar?”

Setelah terdengar salam sekaligus pintu di buka, Pikiry kemudian duduk di kursi sebelahku.

“Malas.”

“Kau yakin?”

“Tentu.”

“Walaupun aku temani?” sambil mengangkat sebelah alis kirinya.

“….”

Sial, dia ini, mengapa selalu ada-ada saja tingkah konyolnya yang tak bisa kutolak. Yang ku suka.

***

“Sepertinya kau senang Ras, sudah dua cangkir dan puluhan halaman kau telan sekaligus.”

Aku tak menjawabnya, hanya menganggukan kepala dengan mata yang masih terus terfokus pada buku bacaanku.

“Hm, anak kecil yang sering kau bicarakan di mana ya? Aku penasaran selucu apa dia.”

Sambil menandai halaman baca terakhir, aku menghadap melihat Pikiry yang di sebelahku. “Jika anak itu ada, maka aku akan pulang.”

***

Seharusnya aku merasa senang tanpa kehadirannya, tapi ini adalah hari ke-5 anak itu tidak datang berteriak-teriak di pinggir jembatan. Penasaran, aku hampiri ibu-ibu penjaga kedai mie di dekat sini.

“Permisi Bu, apakah Ibu tahu anak kecil yang sering berteriak sambil membawa dus di jembatan ini?”

“Oh, maksudmu Ran? Entahlah, sudah berhari hari aku tidak melihatnya. Kau saudaranya?”

“Ah tidak, aku hanya penasaran saja.”

“Kalau begitu mengapa tak kau datangi saja rumahnya? Hanya dua kilometer saja dari sini, dekat persimpangan depan sana kau belok kiri.”

“Baiklah, terima kasih, Bu.”

Setelah itu, aku berjalan sesuai arahan Ibu di kedai mie. Hingga mendapati sebuah rumah berdesain lampau tapi bersih terawat.

“Permisi…” ucapku sambil mengetuk pintu.

“Ya, sebentar.”

Terlihat seorang wanita paruh baya berbaju biru muda.

***

“Nah, jadi begitu, Nak Rasaiy. Hari ini dia tidak ke sana sebab baru sembuh dari demam. Memang keras kepala, padahal sudah aku ingatkan untuk memakai sweater. Bagaimana pun juga, seorang ayah pasti merindukan puteri kecilnya. Sejauh apa pun ia bekerja,” tutup nenek Ran.

Di teras rumah dengan secangkir teh hijau hangat, sudah 30 menit aku berbincang. Ran, seorang anak berusia enam tahun setiap sore hari di musim gugur selalu datang ke jembatan Titami sambil membawa sekotak daun gugur yang dikumpulkannya untuk menagih janji. Janji seorang Ayah.

“Ini,” ucap Ran sambil menunjukkan setengah helai daun maple besar. “Ini merupakan tiket perjanjian Ran dan seorang paman, ia akan kembali dan Ran akan menyambutnya di jembatan itu. Kita punya hobi yang sama, bermain daun. Kakak jangan beritahu yang lain. Ini rahasia kita,” lanjut Ran sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Hahaha, kau lucu Ran. Kakak pun menyukai guguran daun keemasan. Mari kita buat sebuah kasur raksasa dari daun!” ucapku besemangat.

Akhirnya seharian kita hanya bermain gugur dedaunan.

“Kak, apakah Kakak sudah menjadi seorang Ibu? Maksudku, sudah menikah?”

Aku hanya tersenyum mendekapnya. Menikah tapi rasa takut itu masih ada. Kutatap langit yang mulai menjingga. Sudah dua tahun, di rumah kami belum bertambah jumlah jiwa. Pikiry sungguh mengharapkan kehadirannya, tapi aku tak mau. Ia selalu membuatku merasa bahagia bila di dekatnya, tapi aku…

***

“Tumben kau lama sekali di luar, apakah perluku curigai?” ucapnya tersenyum.

“Aih,” ada jeda sejenak di antara kami sebelum ku lanjutkan. “Ry, setelah ku pikir-pikir… memiliki anak kecil itu ternyata tidak terlalu buruk.”

Pikiry terkaget, kemudian tersenyum. Mungkin itu senyuman termanis yang pernah kulihat.

***

Tiga bulan berlalu, kami berjalan menuju taman dekat jembatan, tempat kesukaanku. Tentunya dengan Ran.

“Adik bayi, maaf ya Ran habiskan es krimnya. Tapi Ran janji setelah kau lahir kita akan bermain daun sambil makan es krim sepuasnya!” Ran mengelus-elus perutku sambil terus berceloteh riang.

Ya, terkadang rona bahagia selalu datang dari arah yang tak disangka. Dari seorang gadis kecil pemegang tiket janji.

Naufalia Qisthi

Relawan Taman Pustaka Hasanah Winduraja Ciamis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: